Mama memukul Ace sampai hampir mati
1) Mama memukul Ace sampai hampir mati
· Malam hari perasaanku kosong, tidak ada ruang yang nyaman di dalam rumah dan tidak ada orang yang menemani diriku. Aku terlantar sendirian. Papa pulang kerja namun tidak datang padaku dan mama sibuk entah dengan urusan apa. Aku mengeluh datang pada mama. Aku merindukan mama datang padaku dengan rasa yang menyukai diriku, dengan wajah yang berseri dan menemani diriku.
· Aku memanggil mama mengharapkan dia datang memperhatikan diriku. Aku panggil: "ma, ma, ma". Dia menjawab dengan dingin: "an cua, an cua". Dia merasakan diriku sebagai beban dan pengganggu. Sehabis jawabannya yang mengecewakan diriku, aku memanggil lagi mengharapkan dia datang memperhatikan diriku. Dia segera bergegas mengambil rotan sambil tersenyum sinis dan langsung menyebat aku. Sebatan rotannya mengenai jari tanganku. Sakit sekali rasanya. Aku memprotes dengan memarahi dia dengan kata 'ci bai ma, ci bai ma, sio pu ma' Aku merasa kecewa sekali dan persaanku sangat perih selain bagian tubuhku yang kena sebatannya. Masakan begitu aku memerlukan dia bukannya datang memenuhi yang aku butuhkan tapi justru menyakiti diriku. Begitu tidak punya hati nian, begitu dengki nian dia itu, selalu begitu, sedikitpun tidak ingin memberikan yang aku inginkan/butuhkan dari dia. Dengki nian dan jahat nian dia itu.
· Protesku dijawab dengan sebatan rotan lagi. Aku mundur sampai di depan rumah/ ke luar dari rumah menghindari sebatan-sebatan rotannya. Dia menyebat aku mula-mula ke arah tangan sambil ketawa mempermainkan diriku. Aku merasa perih diperlakukan begitu. Menyakiti diriku dan mentertawai diriku, merendahkan diriku, Yang aku rasakan adalah perasaan yang perih dan rasa kecewa yang amat sangat. Masakan sebagai orang tua berbuat begitu terhadap anaknya, menjadikan akau barang mainan dan melukai perasaanku sedemikian rupa tanpa punya perasaan perbuatannya itu menyakiti diriku dan merendahkan diriku. Dengan sebatan-sebatan rotannya seakan dia ingin mengatakan rasain! Protes dariku tidak akan ada hasilnya, kerjaan yang sia-sia yang aku dapatkan adalah sebatan rotan dan aku tidak dapat berbuat apa-apa karena aku anak kecil. Dia ingin menunjukan kekuatannya padaku.
· Karena keperihan yang amat sangat aku memprotes lagi dengan kata 'ci bai ma, sio pu ma', 'ci bai ma, sio pu ma'. Dia mulai marah dan menjadi gusar dan sebatan rotannya semakin lama semakin keras. Aku merasa perih, kecewa dan putus harapan. Gunanya apa juga kalau dia berbalik datang sayang padaku setelah begitu menyakiti diriku. Karena perih, marah dan kecewa aku memprotes lagi: 'ci abi ma, sio pu ma'. Amarahnya semakin menjadi dan memukul aku dengan keras dan tidak terkontrol lagi, seperti orang gila. Aku merasakan diriku dalam keadaan bahaya dan merasa takut. Aku merasa perih dan sakit dan sangat kecewa namun dalam hatiku, aku masih mengharapkan kasih-sayangnya karena aku memerlukan dia sebagai mamaku. Aku memerlukan seorang mama. Sehabis melampiaskan amarahnya dia pergi meninggalkan aku.
· Dia pergi meninggalkan diriku. Aku merasa kehilangan, perih dan kecewa yang amat sangat. Karena perih dan kecewa aku memprotes dia lagi: "ci bai ma, sio pu ma", selain melampiakan amarah dan perasaan yang perih aku juga mengharapkan dia jangan meninggalkan aku. Aku ingin mencegah dia pergi dariku dengan kata-kata protesku dan berharap dia datang padaku karena aku sangat memerlukan seorang mama. Selain mengharapka dia datang juga aku merasakan perasaan kecewa yang amat sangat. Seandainya dia berbalik datang untuk sayang padaku, yang sesungguhnya sangat mustahil dia akan datang sayang padaku, juga tidak bakalan dapat mengobati keperihan perasaanku yang telah sangat dilukai oleh dia. Dia kemudian berbalik datang padaku seperti singa betina yang kelaparan, meyebat aku habis-habisan dengan seluruh tenaganya. Dia memukul aku dengan sedemikian ganasnya dengan kemarahan yang sampai sedekian memuncak sampai dia sendiri kehabisan napas. Pukulan-pukulannya terhadap diriku itu tidak terkontrolkan lagi. Dia sama sekali tidak memperhatikan keadaanku lagi. Tidak memikirkan bahwa pukulan-pukulan dia yang sedemikian keras dan teror psikisnya itu bisa membunuh aku. Aku melihat papa berdiri tidak jauh dari situ. Aku sangat mengharapkan dia datang menolong aku, melindungi aku dan memarahi mama yang berbuat demikian tidak pantas terhadap diriku. Seorang mama yang berbuat sedikian tidak layak terhadap anaknya, masakan melampiaskan seluruh amarahnya dengan membantai anaknya sendiri sedekian rupa seperti orang gila. Dalam keadaan bahaya besar seperti itu aku sangat mengharapkan papa datang menolong aku namun dia tidak bergerak sedikitpun. Papa hanya bilang dengan suara yang lemah: "an cua han ni lah", "an cua han ni lah". Tentu saja tidak akan digubris oleh mama. Tidak ada wibawanya. Aku sangat kecewa akan diri papa, sama sekali tidak tegas dn seakan-akan yang aku rasakan merupakan hal yang biasa. Dia tidak merasakan bahwa aku berada dalam bahaya besar dan aku ketakutan, sakit dan perih, bukanlah hal yang sepele. Pukulan-pukulan mama yang sedemikian keras dapat membunuh aku. Harapan-harapanku sia-sia dan mama terus memukul aku. Aku mendengar suara orang yang menyuruh dia berhenti memukul aku. Kalau tidak ada suara orang yang menyuruh dia berhenti memukul aku, mungkin aku sudah mati. Papa tidak melindungi aku dari pukulan mama yang sedikian ganas. Dari situ timbul perasaan dirikulah yang bersalah. Ditambah lagi bahwa diriku ini selalu disalahkan, selalu dicap 'pai shi' nakal. Timbul perasaan jarak dengan papa. Mama pergi meninggalkan aku melalui papa. Mereka ada bicara sedikit berdua. Timbul pikiran papa bersekongkol dengan mama menyudutkan diriku, memihak mama dan menyalahkan diriku.
· Aku kemudian masuk ke dalam kamar dan cepat ke tempat tidur. Di belakang mama masih terus tidak puas dan masih terus marah. Papa tidak melindungi aku dan tidak akan melindungi aku terhadap amukan / ancaman bahaya dari mama. Bila suara mama mendaki, mengeras di belakang aku merasakan sebagai bahaya yang mendekat /mengancam. Aku sangat takut kalau dia sampai tidak puas datang ke kamar memukul aku lagi. Setiap kali sehabis suara mama yang kuat berlalu aku dengan perasaan takut memperhatikan apakah dia datang ke kamar mau memukul aku lagi. Aku berusaha mendengar apakah ada suara mama yang berjalan mendekati kamar. Aku sudah tidak kuat lagi menanggung pukulannya, aku sudah lemah, lemas tidak kuat lagi menanggung pukulan dan teror psikis dari mama. Kalau dia datang berarti kematian bagiku karena papa tidak akan melindungi aku. Dia tidak punya wibawa sebagai seorang papa. Dia tidaklah menjadi seorang pelingdung bagiku sebagaimana seorang papa selayaknya. Akhirnya aku tertidur.
· Keesokan harinya aku merasa mengapa ada sesuatu yang sangat berat dalam diriku. Sesuatu yang membuat aku sangat menderita. Aku sangat menderita akan sesuatu itu. Mengapa hidupku ini begitu menderita. Aku tidak tahu sebabnya, aku juga tidak tahu bagaimana aku membebaskan diri dari perasaan yang sangat menderita ini.
Erstelldatum 03/02/00 18:41

0 Comments:
Post a Comment
<< Home