Friday, November 03, 2006

Marah marah dari luar tanpa sebab

2 Marah-marah dari luar tanpa sebab. Melihat aku takut malah mempermainkan aku bukannya menenangkan
· Mama marah-marah di depan rumah. Mendengar suara marah dan meninggi dari mama aku merasa takut ada susuatu yang tidak beres lagi pada diriku. Aku telah berbuat salah apa lagi dan tuduhan kesalahan apa lagi yang akan dia tujukan /dituduhkannya kepada diriku. Aku takut mendapat tuduhan kesalahan dari dia dan kemudian memukul aku. Timbul bayangan dalam diriku bagaimana kalau aku punya tembol besi seperti pintu besi yang mengelilingi diriku tentu aku akan terlepas dari bahaya yang berasal dari huana, yang tidak lain dari pada proyeksi diri mama yang mengancam diriku. Pintu besi itu tidak mungkin. Kemudian fantasiku kearah yang lebih nyata, merasakan ancaman yang sesungguhnya, tidak proyeksi pada huana lagi. Aku merasakan mama selalu merupakan ancaman bahya bagiku dengan sikapnya yang sewenang-wenang, marah-marah tidak puas dan kemudian mengambil rotan memukul aku, mempersalahkan diriku. Ingin rasanya pap selalu ada di rumah melindungi aku. Ingin rasanya papa segera pulang dan melindungi aku semalam penuh. Selama papa ada aku akan aman dari kebrutalan mama, tapi bagaimana kalau papa seharian pergi kerja, aku akan ada sepenuhnya ditangan mama lagi dan dia bisa berbuat apa saja terhadap diriku. Mungkin dia akan menghukum aku lebih besar karena aku telah menunjukan ketidakpecayaan terhadap dia mencari perlindungan dari papa dan saat papa tidak ada mungkin dia akan membuat perhitungan dengan diriku dan akan lebih membahayakan diriku lagi. Ingin rasanya diriku ini dikelilingi oleh tong besi yang melindungi aku dari pukulan mama, namun itu juga tidak bisa, bagaimana aku bisa bergerak. Aku sebagai anak tidak punya rasa kepercayaan terhadap mama karena dia lebih merupakan ancaman bahaya bagiku dari pada seorang yang melindungiku.
· Sambil marah dia berjalan ke belakang, menuju ke arahku. Aku ada di belakang. Aku semakin merasa takut, merasa dia bakalan mememukul aku. Dia berhenti di dekatku. Pastilah dia akan memukul aku. Aku merasa/menunggu kapan dia ambil rotan dan memukul aku. Aku merasa sikapnya yang sedemikian sewenang-wenag terhadap diriku itu tidak benar. Marah-marah menjadi ancaman bahaya bagiku tanpa sebab dan mana boleh sebagai orang tua menjadi ancaman bahaya bagi anaknya. Dia itu terlalu sewenang-wenang dan tidak benar. Aku mau adu papa bila papa pulang nanti.
· Aku bilang: "le kua la tan wa ke tau papa", "le kua la tan wa ke tau papa". Mendengar perkataanku dia seperti mendapat angin. Dia tidak takut sama papa karena papa tidak pernah keras terhadap dia, namun selalu mengalah. Dia bilang: "ke tau, ke tau, ke tau, sambil tersenyum/ketawa mempermainkan aku, justru dia mendorong supaya aku mengadu papa karena dia tahu diri papa tidak akan melukai dia sedikitpun. Kebetulan sekali papa pulang dan sampai di belakang mama menunjukan papa padaku: "ke tau". Sikap mama itu ingin menunjukan: 'Ini papa, silahkan pergi adu karena papa sudah muncul di ruang belakang'. Dia mendorong lagi "ke tau" supaya aku adu papa. Papa tersenyum karena mungkin sedikit mengerti apa yang dimaksud mama. Aku melihat sikap papa yang sama sekali tidak serius menanggapi rasa takut yang kurasakan merasa tidak ada gunanya mengadu karena papa tidak akan percaya pada kata-kataku dan juga tidak akan keras terhadap mama untuk membuat mama takut supaya jangan sewenang-wenang terhadap diriku dan menjadi ancaman bahaya bagiku lagi. Aku hanya melihat ke arah papa mengharapkan dia mengerti rasa takut dalam diriku dan tegas terhadap mama supaya tidak menyusahkan hidupku lagi. Aku hanya melihat ke arah papa tidak mengadu karena situasinya lain sekali dengan yang aku harapkan. Aku mengharapkan papa bisa bersikap tegas memarahi mama, namun papa sama sekali tidak menanggapi rasa takut yang ada didalam diriku, betapa kecewanya diriku dengan sikap papa itu.
· Papa berjalan menuju meja makan dan duduk di samping meja makan diikuti oleh mama yang merasa dirinya diatas angin /menang. Mereka berdua tertawa, mentertawai diriku. Papa bukannya menanggapi rasa takut dalam diriku dengan serius justru ikut mentertawakan diriku. Aku berjalan pergi dengan rasa malu karena ditertawakan oleh mereka dan rasa takut, ancaman bahaya yang menghantui diriku terpaksa harus aku tekan dan kulupakan membuat aku sulit untuk bisa tidur. Keadaan diriku semakin jelek karena bukannya mendapat perlindungan dari papa tapi sebaliknya sekarang papa ada di pihak mama dan ikut menyalahkan diriku dengan tertawanya. Aku merasa malu, sepi dan ancaman bahaya dari mama tetap menghantui diriku. Timbul perasaan jarak dengan mereka dan sekarang aku total sendirian tidak bisa mengharapkan pertolongan ataupun perlindungan dari siapapun.
Erstelldatum 03/04/00 11:04

0 Comments:

Post a Comment

<< Home