Friday, November 03, 2006

Aku ingin minum susu tengah malam

3 Aku ingin minum susu tengah malam. Mama menyuruh papa memukul aku.
· Dalam tidur setengah sadar aku ingat ada beberapa orang yang dekat dengan diriku, orang yang sering aku lihat. Yang sering aku lihat adalah perempuan yang disebut mama. Seorang permpuan yang tidak menyenangkan namun aku memerlukannya. Laki-laki yang disebut papa jarang aku lihat dan tidak dekat dengan aku, dan A'mm yang kadang-kadang datang. Aku secara intuitiv memerlukan mama walau mama bukanlah seorang yang menyenangkan karena sikapnya yang sering marah-marah dan kasar.
· Aku terbangun ditengah malam karena lapar. Aku ingin minum susu dan mengharapkan mama yang membuatkannya untukku. Aku mengeluh setengah takut. Takut kena marah karena mereka sedang tidur. Setelah beberapa kali mengeluh mama mendengar dan bangun. Mama bangun dengan berat dan bertanya: "an cua?", "an cua?", "ai cia gu lin si bo?" "kalau ai cia gu lin kong la." Mama bertanya dan kurasakan setengah mempersalahkan aku karena aku tidak berani langsung mengatakan yang aku perlukan. Aku tidak berani menyatakan kebutuhanku karena diriku yang selalu disalahkan mama, sehingga setiap kali kebutuhan ada aku jadi takut untuk menyampaikannya. Diriku sering dibentak, disalahkan dan dipukul.
· Aku mengharapkan mama yang membuatkan susu untukku, bersikap lembut kepadaku, ada hati memperhatikan diriku. Tapi alangkah kecewanya karena mama malas bangun dan menyuruh papa yang membuatkan susu untukku. Papa bangun dan pergi untuk membuatkan susu. Aku sangat kecewa, semua harapanku untuk merasakan dekat dengan mama meletus musnah. Apalagi sikap mama yang tidak gembira akan diriku, merasakan aku ini beban dan mengganggu serta malas dan tidak memberi perhatian kepada diriku. Papa walaupun bangun disuruh mama juga merasa tidak senang karena merasa terganggu. Membuatkan susu untukku hanya dirasakan sebagai keharusan bukan dengan rasa gembira untuk memenuhi kebutuhanku.
· Aku tidak mengharapkan papa yang membuatkan susu, aku tidak punya hubungan emosional dengan papa. Papa jarang aku lihat dan tidak dekat denganku. Yang sering aku lihat dan paling aku kenal adalah mama sehingga akun ingin mama yang membuatkan susu untukku. Aku memprotes dengan keluhan-keluhan supaya mama yang membuatkan susu untukku. Mama marah dan bilang sudah dibuatkan susu oleh papa masih juga mengeluh. Mama sama sekali tidak memperhatikan (buta akan) kebutuhan emosioalku. Kebutuhanku akan belaian kasih sayang dari dia tidak ada didalam benaknya.
· Gairah untuk minum susu walaupun lapar sudah tidak ada karena sikap mereka berdua yang tidak menunjukan senang menyambut kebutuhanku tetapi lebih merasakan diriku sebagai beban. Papa membuatkan susu supaya aku cepat minum dan pergi tidur lagi. Yang aku butuhkan adalah mama yang memberi aku minum, perlahan-lahan disertai dengan rasa yang menyukai diriku, ada rasa gembira terhadap diriku. Gairah minum susu yang telah lenyap ditambah lagi dengan susu yang tidak hangat sehingga tercium bau amis dan keinginan supaya mama yang datang padaku bukan papa membuat aku menolak susu yang diberikan oleh papa. Aku menolak susu yang diberikan oleh papa disertai rasa takut akan amarah dari mereka berdua karena dianggap mau menggangu mereka. Tapi aku memerlukan mama dengan menolak papa itu jalan satu-satunya mengharapkan mama yang datang padaku. Tapi mama hanya tanya "seng chin si bo?" Aku tidak menjawab. Kemudian mama menyuruh papa membuatkannya lagi untuk aku. Aku merasa sayang akan susu yang dibuang dan juga merasa takut papa marah dan bilang aku tukang kacau. Aku melihat air yang dipakai untuk mendinginkan susu kabur seperti susu yang encer. Aku melihat secara kabur sendok keluar masuk antara cangkir dan air pendingin yang ada di sekitarnya memberikan kesan papa mengambil air kotor untuk aku minum, mengambil air pendingin susu yang ada di luar cangkir. Kesan yang buruk itu muncul akibat mereka yang marah, tidak senang terhadap diriku karena tidak menyambut kebutuhanku dengan rasa gembira melainkan dengan perasaan berat dan perasaan aku ini mengganggu.
· Aku terpaksa meminum susu yang diberikan papa yang encer. Memang lebih hangat namun encer seperti air buangan. Aku merasa seperti minum long kau cui (air buangan). Aku terpaksa meminumnya, satu, dua sendok karena takut kena marah. Tapi kesan minum air buangan yang terus ada, kesan papa mencedok air buangan ke dalam cangkir dari penglihatanku yang samar-samar membuat aku tidak bisa meneruskannya lagi. Papa mulai marah dan terus meyodorkan sendok susu kepadaku. Aku menjadi takut karena merasakan papa yang marah dan mama yang mempersalahkan diriku. Aku takut kena pukul tapi aku tidak bisa meminumnya lagi. Mama bilang: "Kalau mai lim tio sua". Kalau tidak mau minum sudah dan menyuruh papa memukul aku karena dia menganggap aku sengaja mau mengganggu mereka: "tai pa Kid", "tai pa Kid!" Seakan-akan aku ini sengaja punya niat yang jahat terhadap mereka dan dengan memukuli aku supaya lain kali tidak berani menggangu lagi. Lain kali aku menjadi takut untuk menyampaikan kebutuhanku karena hukuman-hukuman sepertu itu yang menanti. Desakan mama yang terus-menerus menyuruh papa memukul aku tai pa Kid, tai pa Kid, tai pa Kid membuat papa menjadi panas/marah dan memukul aku dengan tangannya yang kuat ke arah pantat. Yang aku rasakan bukan hanya sakit di pantat tapi juga sebatan psikis terhadap diriku dari amarah papa terhadap diriku. Aku berusaha dia supaya dia tidak terus memekul aku dan kemudian mama juga menghentikan suruhannya mengurangi sedikit rasa takut dalam diriku. Kemudian aku tertidur.
Erstelldatum 02/26/00 14:30

0 Comments:

Post a Comment

<< Home