Aku memerlukan mama, memanggil dia. Langsung berteriak sangat keras, kasar nian!
4) Aku memerlukan mama, memanggil dia. Langsung berteriak sangat keras, kasar nian!
· Aku merasa membutuhkan mama, mengharapkan yang indah dari penerimaannya, datang dengan lembut dan sayang sama aku dan gembira kepadaku. Aku memanggi: "ma, ma, ma". Dia datang dari thau ceng (depan) dan tiba-tiba seperti orang gila dan sangat tidak puas berteriak dengan sangat keras: "an cua la ! " Aku merasa hancur, runtuh. Kasar nian! Seakan ingin melepaskan diri dari cengkeramanku. Sangat tidak berwibawa dan tidak dewasa, bagaimanalah mau jadi seorang mama yang wajib memberikan contoh yang baik bagi anaknya. Hatiku hancur, harapanku akan yang indah hancur.
· Karena aku memerlukan dia namun telah dilukai olehnya aku memanggil dia lagi namun dengan nada yang agak memprotes: "ma ! ", "ma ! " dengan suara yang agak besar. Panggilanku seperti ingin menyatakan perbuatannya yang kasar itu menyakiti diriku dan juga ingin menyampaikan aku memerlukan dia. Mendengar panggilanku dia langsung ambil rotan. Sikapnya ini tambah melukai perasaanku. Aku memerlukan kebaikannya justru datang menyakiti diriku, mau memukul aku. Karena perasaanku terluka aku memprotes memarahi dia: "ci bai ma". Dia datang mau menyebat aku. Sangkaanku hanya gertaan saja. Tapi dia sungguh menyebat aku dengan rotan yang ada di tangannya. Perasaanku sungguh hancur jadinya, terasa perih, kecewa serta marah. Karena rasa perih, kecewa dan marah aku memprotes lagi berkali-kali: "ci bai ma", "ci bai ma", "sio phu ma". Mendengar protesku dia datang memukul aku lagi. Karena sakit akibat pukulannya serta perasaan yang perih dan kecewa karena harapanku yang dihancurkan olehnya membuat aku memprotes dia lagi dengan ci bai ma dan sio phu ma. Dia menyebat aku lagi semakin lama semakin keras dan gusar. Akhirnya kemarahannya sudah mencapai puncaknya. Aku menjadi sungguh takut karena dia sekarang sungguh merupakan ancaman bahaya bagiku bukan lagi sebagai orang tua yang melindungi anaknya tapi merupakan seorang yang membahayakan keselamatanku. Pukulannya yang keras dan murkanya yang menjadi-jadi dapat membunuh aku. Dia memandang aku bukanlah sebagai anaknya yang memerlukan kasih-sayangnya tetapi lebih merupakan seorang pengganggu. Dari pancaran wajahnya dia sudah tidak mau mempedulikan diriku lagi, dia ingin melenyapkan diriku. Dia sendiri bilang: "kum pun to bo eng!". Dia semakin lama semakin panas dan menyebat aku lebih ganas lagi dan mengusir aku ke luar dari rumah: "ta wa cut ke !", "ta wa cut ke !", "ta wa cut ke !". Aku merasakan amarah besarnya dan benar-benar sudah tidak menginginkan diriku lagi seperti katanya: : "kum pun bo to eng!" Dia ingin agar aku lenyap dari muka dia, entah dengan mengusir aku atau memusnahkan diriku.
· Akhirnya tidak ada gunanya melawan atau melampiaskan rasa kecewa dan perih lagi walau dalam dadaku terasa sesak karena bertumpuk rasa perih, tidak puas dan kecewa yang mendalam. Kalau aku melawan lagi sama saja dengan mati. Aku masuk ke dalam kamar tanpa memperoleh yang aku butuhkan dan berbaring di atas ranjang. Aku merasakan sikap mama itu, dia benar-benar sudah tidak mau diriku lagi. Aku juga tidak ingin mengharapkan dia lagi karena dia itu bajingan, kejam dan brutal, tidak punya perasaan dan memang tidak bisa diharapkan. Aku ingin hidup sendiri, terlepas dari ketergantungan pada dia karena hanya mengecewakan dan menyakitkan saja, tidak usah memerlukan dia lagi. Aku sudah bisa menulis ada di kelas 2 SD. Terbayangkan olehku untuk jual Toto dengan jumlah maksimal Rp 25,-. Kalau orang kena aku masih bisa untung sedikit asalkan aku menjual hampir 49 angka. Pasti untung walau sedikit. Kemudian aku ke meja kecil yang ada di depan untuk menulis angka 00 sampai 49 pada selembar kertas ABC untuk menjual Toto mencari uang sendiri supaya aku bisa hidup sendiri terlepas dari ketergantungan pada dia yang sewenang-wenang.
Erstelldatum 02/20/00 16:07

0 Comments:
Post a Comment
<< Home