Friday, November 03, 2006

Melempar bebek dengan batu

36) Melempar bebek dengan batu
· Aku melihat mama mencuci baju. Aku memanggil mama namun jawaban dan sikapnya itu sangat menyakiti diriku: "ncia tan le, wa ce peng lai te le co kang, ta wa ncia tan le". Jawabannya mengandung rasa dan nada yang denki, sangat menyakiti diriku dan merendahkan diriku membuat aku kecewa dan marah karena selalu begitu, dengki nian, tidak ingin sedikitpun bersikap baik kepadaku dan memberikan yang aku butuhkan darinya. Setiap kali aku memerlukan dia, dia selalu menolak aku dengan dengki, dengan menyakiti diriku. Aku marah dan kecewa dan memprotes dengan mengambil batu melemparkannya ke arah lain ke arah bebek. Bebek itu berteriak-teriak kesakitan, panik dan marah karena kakinya patah. Aku terkejut, tidak menyangka sampai begitu. Kakinya patah sangat membuat perasaanku terpukul. Aku mengalami perasaan bersalah yang hebat dan sangat menyesali perbuatanku. Walau aku tidak bermaksud begitu tapi keadaan bebek itu membuat perasaanku sangat terpukul, sangat perih dan sangat menyesal.
· Mama dengan keji terus menteror diriku: "le kua la": "cek ak !", "cin cek ak !", "cek ak !", "cin cek ak !", kata-kata mama itu tambah menusuk perasaanku yang sudah sakit. Dia menekan kata-kata 'cek ak' membuat perasaanku semakin terpukul. Perasaanku tergoncang dan sangat terluka karena rasa bersalah dan rasa menyesal yang hebat ditambah teror dari mama lagi.
· Bebek itu berak dan menyemprot cairan yang encer dan banyak. Ingin rasanya aku menjilat tahi bebek itu sebagai ungkapan rasa menyesalku yang sangat dalam. Mama terus menyudutkan dan menteror aku tanpa mempertimbangkan perasaanku.
Erstelldatum 02/28/00 11:45

0 Comments:

Post a Comment

<< Home