Membungkus Ang Pau
12) Membungkus Ang Pau.
· Mama sedang membungkus ang pau. Aku merindukan perhatian dari mama dan mengharapkan dia memberikan kegembiraan kepada diriku karena besok sudah 'ke ni', hari yang istimewa dan aku merindukan perhatian yang istimewa dari mama. Aku bertanya kepada mama aku dapat berapa untuk ang pau tahun ini karena setiap tahunkan jumlahnya bertambah. Mama seperti merasa tidak suka ditanya begitu dan menjawab dengan kasar dan tidak jelas. Kata-kata yang dikeluarkannya tidak dapat kumengerti karena tidak jelas.
"ce ban yo?" tanyaku sebagai reaksi protes atas sikapnya yang kasar dan mengecewakan diriku yang tidak memenuhi harapanku akan sikap yang istimewa, gembira dan menyukai diriku. Pertanyaanku tidak diperdulikan olehnya. Aku tanya lagi: "ce ban yo?". Kemudian dia menjawab dengan kasar: "yo!", "ta le kong yo lo!", "ce lang ce ban!". Nadanya kasar dan menolak membuat aku tambah kecewa ditambah lagi dengan jumlah uang yang dia pukul rata. Bagi Acuan yang jauh lebih muda dari aku mendapat jumlah yang sama dengan aku yang berumur jauh lebih lebih tua dari dia yang jelas-jelas kebutuhanku akan uang lebih banyak dari Acuan. Keputusan mama kurasakan sewenang-wenang. Terutama aku merasakan dia tidak menyukai diriku sehingga berlaku kasar, pukul rata dengan tidak memperhatikan diriku yang jelas mempunyai kebutuhan uang yang lebih dari adik-adik yang masih kecil dan tidak mau tahu akan diriku. Sikapnya itu menyakiti perasaanku dan membuat aku merasa tidak puas. Mana mungkin adik yang umurnya 5 tahun lebih muda bisa disamakan begitu saja dengan diriku. Aku merasa dilecehkan. Selain itu sikapnya kasar sekali terhadap diriku, memusuhi dan menolak.
· Aku merasa diriku dilecehkan dan sikapnya yang kasar, memusuhi dan menolak, menyakiti perasaanku aku memprotes dengan cara meminta uang yang lebih banyak. Aku meminta lebih. Bagi aku ce ban itu jadi terlalu sedikit. Dia langsung menjawab dengan kasar, dingin dan menyakiti sekali: "ta wa cia tan le!" "ai kio tio kio mai kio tio sua!" , "ai kio tio kio mai kio tio sua!" Jawabannya itu dingin, kasar dan menyakiti sekali dan tidak ada rasa persahabatan. Aku merasa sangat perih dan sangat tidak puas oleh jawabannya/sikapnya yang demikian. Dia tidak pernah memberikan penerimaan yang baik kepadaku namun selalu berbuat yang menyakiti diriku dengan sikapnya yang selalu kasar dan menolak diriku. Aku merasa ingin sekali memisahkan diri dari rumah, yang sesungguhnya ingin memisahkan diri dari dia karena diriku selalu disakiti dan dikecewakan oleh dia dengan sikapnya yang kasar, memusuhi, mempersalahkan diriku, tidak ada rasa persahabatan dan penerimaan terhadap diriku, namun selalu menolak dan menyakiti.
· Aku ingin memisahkan diri dari mama (keluarga) dan ingin medapatkan bagian dari hartaku sebagai tanda pisah dari mereka. Reaksiku ini tidak lain dari pada protes terhadap sikap mama yang dingin, kasar, memusuhi dan menyakiti diriku. Yang kurasakan sebagi hartaku adalah gun tun yang aku dengar dikasih Ama (nenek) kepadaku, barang bernilai satu-satunya yang kumiliki. Aku dengar gun tun itu sangat berharga. Aku yang teluka memprotes sebagai reaksi dari rasa tidak puas terhadap sikap mama: "wa e gun tun kio lai", "wa e gun tun kio lai". Dia sudah lupa gun tun apa yang aku maksud. "ama heng wa e gun tun", jawabku. Dia mungkin ingat kembali dan berkata dengan kasar: "cuh e de ke kio !", "cuh e de ke kio !". Aku awalnya kurang mengerti yang dia maksud, yang aku inginkan hanyalah gun tun kepunyaanku sedangkan dia bilang ambil semua gun tun yang ada di rumah. Melihat kejadian itu papa merasa tidak senang terhadap aku dan sikapnya menyalahkan diriku membuat aku merasa bersalah dan malu. Merasa malu karena merasa dicap mau merebut harta keluarga. Kecil-kecil sudah mau merebut harta. Aku bukannya mau merebut harta. Reaksiku ini tidak lain daripada protes terhadap sikap mama yang menyakiti dan mengecewakan diriku. Perbuatan mama itu sangat tidak layak karena sebagai seorang mama hendaknya memenuhi yang aku butuhkan: perhatian, sikap yang lembut dan rasa suka terhadap anaknya. Yang aku alami adalah sebaliknya, diriku disakiti dan dikecewakan oleh dia. Aku merasa sakit oleh sikap dia yang tidak pernah mau menerima diriku, tapi selalu cenderung menyakiti diriku setiap kali aku memerlukannya. Setiap kali aku datang mencari dia selalu terpental kembali dengan perasaan yang perih. Sambil menangis aku mencari dan mengambil gun tun kepunyaanku. Sedih karena merasa tidak diinginkan oleh keluarga sendiri dan tidak pernah disukai atau diterima oleh mereka/mama. Aku malu terhadap adik-adik karena aku yang paling besar 'menangis' (merasa diriku cengeng) dan 'memprotes' sedangkan mereka 'tenang dan diam' sehingga aku merasa aku satu-satunya yang paling tidak benar/jelek. Aku akhinya mendapatkan gun tun yang kucari dan pergi dengan perasaan malu dan kosong, seperti mengalami kekalahan. Kekalahan yang bukan salahku tapi diakibatkan oleh kekejaman dan kesadisan seorang mama yaitu Lien Ke.
Erstelldatum 02/23/00 16:28

0 Comments:
Post a Comment
<< Home