Memikirkan kematian
33) Memikirkan kematian
· Di dalam kamar (pangkeng) hanya hidup lampu yang keci yang digantungkan di dinding. Aheng mungkin sudah tidur. Aku sendirian, tidak ada teman bermain, tidak ada barang mainan, tidak ada tempat yang nyaman untuk bermain, seandainya adapun juga tidak ada tempat yang cukup terang untuk bermain. Di gang (hang lo) tergantung/digantung satu lampu strongkeng. Itu lampu yang paling terang yang ada. Lampu strongkeng itu membuat rumah menjadi bertambah panas karena sirkulasi udara kurang. Dalam suasana kesepian yang mencekam itu membuat aku membayangi bagaimanlah jadinya seandainya aku nanti mati, sendiri, dimasukan ke dalam peti mati yang tebal dan berat, ditutup dan dipaku lagi, kemudian ditanam di dalam tanah. Aku merasa sangat tersiksa karena membayangkan diriku di dalam peti mati yang sempit, tidak dapat bergerak, panas dan gelap. Gambaran diriku dalam peti mati saat itu tidak lain dari pada cermin dari jiwaku saat itu. Aku berusaha menjauhi pikiran itu tapi pikiran itu datang terus dan membuat aku semakin tersiksa. Pikiran itu tidak akan hilang selama jiwaku dalam keadaan yang demikian. Keadaan jiwaku yang ditinggalkan sendirian, rumah yang pengap dan panas serta gelap. Penyebab utama karena aku total sendirian, tidak ada keterbukaan dari mama dan papa untuk berbicara dengan diriku dan menjadi teman dariku. Aku sungguh terisolasi dari lingkunganku. Terisolasi dari papa dan mama, terisolasi dari adik, terisolasi dari teman-teman. Terisolasi dari semua. Pikiran yang muncul seandainya nanti aku mati masuk dalam peti mati yang sempit, tidak bisa bergerak, berat, pengap dan panas tidak lain dari pada cermin dari jiwaku yang terisolasi, tidak bisa bergerak dan tersiksa serta suasana rumah yang pengap dan panas. Aku sangat menderita oleh pikiran itu / keadaan jiwaku yang terisolasi dari papa dan mama. Aku merasa seperti ingin menembus memecahkan persoalan mengenai kematian itu. Timbul pertanyaan-pertanyaan seperti: Di mana aku akan hidup nantinya kalau aku sudah mati. Bagaimana rasanya kalau aku nanti tua dan mati. Suatu saat pasti aku akan mati, nanti saatnya pasti akan tiba karena semua orang akan mati. Pikiran-pikiran ini sangat menyiksa diriku karena aku membayangi kematian sebagai diriku yang dimasukan ke dalam peti mati yang berat dan sempit sehingga aku tidak dapat bergerak di dalamnya. Pikiran yang demikian datang terus membuat kepalaku rasanya mau pecah. Aku sangat menderita karenanya.
· Aku ada di mulut hang lo dan ingin mendekati mama. Dalam keinginanku, aku sangat mengharapkan kedatangan mama. Aku sudah setengah tahu mama tidak bakalan datang menemaniku. Aku tidak bakalan mendapatkan yang aku butuhkan (jiwa menjadi terisolasi) yang sedemian penting bagiku saat itu yaitu perolongan dari mama. Aku memerlukan mama datang padaku, menemani aku, mengerti keadaanku sepenuhnya dan berbicara denganku sehinggarasa takut, sepi dan rasa tercekam dapat tersalurkan sehingga tidak terisolasi total. Dilain pihak aku tidak berani datang pada mama dan mengatakan aku memerlukan dia karena aku tidak pernah diajari bagaimana aku mengeluarkan perasaanku dan menyampaikan kebutuhanku. Aku tidak pernah merasakan diriku disambut dengat hangat dan rasa yang gembira dari mama dan tidak pernah dia berkomunikasi dengan diriku, dia tidak pernah mengajak aku berbicara timbal baik. Yang ada hanya perintah dan aku harus melaksanakannya, sedangkan mendengarkan diriku, perasaanku, kebutuhanku, rasa takutku sama sekali tidak pernah.
· Karena sudah sangat tidak tahan, sangat menderita aku memanggil mama, memerlukan pertolongan dari dia: " ma, ma, ma". "an cua", sahutnya. Aku sudah berniat ingin menyampaikan sesuatu, namun tidak berani, ragu-ragu dan malu, karena yang ingin aku sampaikan ini menyangkut perasaan dan hal yang menyangkut perasaan tidak bisa dilihat dengan mata. Yang tidak bisa dilihat dengan mata bagi mama itu tidak ada dan tabu, cengeng dan lemah, sehingga membuat aku begitu sulit untuk mengeluarkan yang ingin aku sampaikan walaupun sangat penting dan sangat kubutuhkan untuk aku keluarkan. Aku merasa ragu, malu, dan takut. Namun kalau tidak kukeluarkan aku akan menderita terus, akhirnya perasaan ini mesti aku keluarkan. Namun aku tetap tidak berani langsung pada permasalahan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa menggambarkan situasi jiwaku pada mama, ketakutanku dan kesepianku. Aku hanya bilang: "wa tiam-tiam nsiu" Aku tidak berani mengatakan aku memikirkan kematian, merasa cakut dan tercekam. Aku tidak berani karena sudah jauh menyangkut perasaan yang bagi dia tidak ada dan tabu. Aku malu karena takut diejek lemah dan cengeng. Bagi mama yang ada cuma sesuatu yang bisa dilihat oleh mata. Aku takut ditertawakan kecil-kecil sudah memikirkan kematian. Mama bilang: "tiam-tiam nsiu, mai nsiu la". Papa malah mentertawai diriku. Akibat ketawa dari papa, mama jadi ikut ketawa membuat aku kecewa. Jiwaku yang dalam keadaan gawat, diriku yang tersiksa dijadikan bahan tertawaan dan tidak mendapat tanggapan yang serius dari mama yang sangat aku harapkan pertolongannya. Papa sama sekali tidak tersentuh oleh keadaanku, sama sekali tidak bisa diharapkan. Bagaimana aku bisa mengharapkan orang macam papa itu. Diriku yang tersiksa, merasa tercekam dan sangat menderita, ditertawai, dianggap lelucon, sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi situasi kejiwaanku secara serius. Namun dianggap sesuatu yang sepele dan tidak berarti.
· Aku panggil mama lagi: "ma,ma, wa tiam-tiam nsiu". "mai nsiu la", jawabnya lagi sambil agak ketawa. Papa ketawa lagi dan diikuti oleh mama. Mama menjadi semakin tidak serius akibat ketawa dari papa. "wa tiam-tiam nsiu", kataku lagi putus asa karena tidak ada tanggapa yang serius dari mama sedangkan aku mengharapkan sekali pertolongannya. Aku tidak dapat memberhentikan pikiran-pikiran yang muncul, seperti: Bagaimana rasanya seandainya aku ada di dalam peti mati yang berat, sempit , panas dan gelap. Bagaimana rasanya seandainya aku ada di dalam kubur, di dalam tanah. Bagaimana kehidupanku selanjutnya, apakah aku akan terus hidup setelah aku mati nanti. Pikiran-pikiran tersebut datang terus, aku jadi tidak berdaya dan putus asa. Kepalaku hampir pecah rasanya dan aku sangat menderita.
· Kemudian aku mendengar suara dari mama setengah tidak jelas, kemudian mejadi jelas setelah beberapa kali diulanginya. Dia menyuruh aku pergi mencari papa. Aku sama sekali tidak ada gairah untuk mencari papa karena dia tidak pernah memberi rasa dekat padaku dan tidak pernah memperhatikan diriku. Wajahnya yang ketawa sama sekali tidak menyentuh perasaanku yang sangat tersiksa dan menderita. Seakan-akan penderitaanku, jiwaku yang sangat tersiksa yang harus mendapatkan tanggapan serius dari mereka merupakan lelucon. Aku sama sekali tidak bisa mendapatkan sedikitpun yang aku butuhkan saat itu dari papa karena tidak ada tanggapan yang serius dari dia akan penderitaanku. Apalagi dia tidak pernah dekat denganku, tidak ada hubungan emosional denganku. Aku hanya kenal dia papaku saja, lebih dari itu tidak ada. Mama lebih dekat dengan diriku dan mama yang aku butuhkan karena jauh lebih aku kenal dan ada hubungan emosional denganku walau kebanyakan lebih menyakiti diriku, namun seorang anak kecil seperti aku memerlukan seorang mama. Sikap mama yang menyuruh aku mencari papa sangat mengecewakan diriku, 'masakan tidak merasakan aku begitu memerlukan dia, seorang mama masakan tidak dapat merasakan bahwa aku sangat menderita dan begitu memerlukan dia'. Aku tidak mau pergi pada papa, apalagi ketawanya itu membuat aku malu dan segan. Mama menyuruh aku sekali lagi untuk pergi cari papa yang ada di dekatnya, namun ini sama sekali tidak sesuai dengan kebutuhannku. Papa memang simbol kepala keluarga tapi dalam hal ini dia sama sekali tidak tahu-menahu, sama sekali nol. Yang aku butuhkan adalah mama karena masih ada hubungan emosianal dengan diriku, tapi dia begitu tumpul untuk merasakan keadaan jiwaku yang sangat menderita, perasaanku yang sangat tersiksa dan tercekam. Dia juga tidak bisa menolong aku. Aku sangat menderita karena merasa ditinggal sendirian dan tidak ada yang dapat kuharapkan untuk menolong aku keluar dari perasaan yang tersiksa ini.
· Akhirnya mama menyuruh aku pergi tidur. Aku masih belum mau pergi, tapi didorong terus supaya pergi tidur. Aku juga merasa tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan yang aku butuhkan. Akhirnya aku pergi tidur. Aku membutuhkan bahwa rasa takutku dan perasaanku yang tersiksa karena terisolir dari lingkungan dikenal dan ditanggapi dengan serius oleh mama dan memberian rasa pengertian, rasa penerimaan kepadaku dan sepenuh hati ada di sampingku, menghargai perasaanku bahwa aku takut dan tersiksa, bahwa aku memerlukan pertolongannya.
Erstelldatum 02/27/00 15:03

0 Comments:
Post a Comment
<< Home