Menunggu mama mencuci baju, sehabis mencuci langsung menuju pada Aheng
27) Menunggu mama mencuci baju, sehabis mencuci langsung menuju pada Aheng
· Aku menunggu mama yang sedang mencuci baju karena aku memerlukan mama. Aku sangat mengharapkan mama lekas selesai dan datang padaku dan memperhatikan diriku. Apakah setelah selesai mencuci pakaian dia akan datang padaku seperti yang aku harapkan atau tidak itu sangat membuat aku tidak tenang karena dari pengalaman-pengalamanku sebelumnya terasa berat sekali bagi dia untuk memenuhi kebutuhanku. Memenuhi kebutuhanku bagi mama adalah beban. Diriku dipandang sebagai pengganggu. Kebutuhanku tidak pernah dihargainya dan dia selalu menganggap kebutuhanku sebagai gangguan. Aku tidak bisa bilang pada mama bahwa aku memerlukannya karena aku tidak pernah diajari bagaimana aku menyatakan kebutuhanku kepadanya. Aku menjadi gugup saat menunggu karena apakah dia akan datang memenuhi yang aku butuhkan bila aku hanya menunggu dan tidak bilang apa-apa kepada dia. Apakah dia akan datang seperti yang kukehendaki aku merasa kurang yakin tapi aku sangat memerlukan dia. Tanpa dia aku tidak bisa hidup. Akhirnya aku berusaha melupakan keraguan yang menghantui dan mengganggu diriku ini dan menunggu dia sampai dia selesai mencuci baju karena aku tidak punya jalan lain dalam hidup ini. Aku ada di sana dan aku harus hidup. Namun bagaimanapun ketidakpastian ini membuat aku sangat tersiksa. Hal yang membuat aku tersiksa karena aku tidak bisa bilang sama dia 'mama aku memerlukan dirimu', karena hal semacam ini tidak pernah diajarkannya kepadaku. Aku hanya menekan perasaanku dan menanti moga-moga dia mengenali perasaan dan kebutuhanku dan datang kepadaku memberikan rasa dekat, rasa penerimaan dan kelembutan seperti yang aku rindukan dari dia. Tapi dengan cara menunggu begini sangatlah tidak pasti dan ketidakpastian ini membuat aku sangat tersiksa, khawatir dan gugup.
· Aku menunggu dan menunggu dan mengharapkan semoga dia cepat selesai. Aku merasa tersiksa sampai tidak tahan menunggu dan ingin memanggil dia namun tidak berani karena takut kena marah karena dia sedang mencuci pakaian. Lalu aku menunggu tanpa ada ujung kapan dia akan selesai terasa tersiksa sekali. Aku sangat mengharapkan sekali kapan saat dia menumpahkan air dari ember cucian tiba karena itu menunjukan dia telah selesai dengan cuciannya dan tinggal berkemas-kemas saja dan ini tentu tidak akan memakan waktu yang lama. Setiap kali aku melihat dia bergerak agak banyak saat itu juga melompat harapanku dan diriku menjadi agak lega karena menyangka dia sudah hampir selesai dengan cuciannya. Namun beberapa kali hanyalah gerakan kecil yang tidak menunjukan dia sungguh selesai dengan cuciannya. Beberapa saat kemudian aku melihat dia menumpahkan air dari ember cucian dan aku merasa lega sekali. Sangkaanku kali ini dia pastilah sudah selesai dengan cuciannya dan aku tidak harus menunggu lama lagi. Namun kemudian aku jadi kecewa lagi karena ternyata dia hanya menumpahkan air kotor bukan berarti telah selesai mencuci . Sekarang dia mulai dari awal lagi membilas pakaian dari awal. Tidak terpikirkan olehku bahwa dia harus membilas lagi dan itu memakan waktu yang lama lagi. Hal ini membuat aku merasa sangat kecewa. Aku harus menunggu lama lagi. Terasa sangat tersiksa dan lama tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Kalau aku panggil dia kemungkinan besar aku akan disalahkan dan dimarahi. Aku menunggu lagi. Aku menderita.
· Beberapa saat berlalu dan perlahan-lahan aku melihat dia mulai selesai dengaan cuciannya dan diriku semakin gugup saat menunggu dia mengkemaskan baju cucian dan ember yang berlangsung beberapa saat. Saat ini aku nantikan dengan jantung berdebar, rasa khawatir, tangan yang dingin dan perasaan yang gugup karena aku tidak tahu pasti apakah yang sangat aku harapkan ini akan aku dapatkan. Ketidak pastian ini membuat aku sangat gugup, penuh dengan rasa khawatir dan menderita.
Setelah selesai mengkemaskan pakaian / hasil cucian dan ember-ember dia berjalan berlalu begitu saja melalui depanku tanpa melihat ke arah diriku yang menunggu dan sangat mengharapkan dia. Dia langsung berjalan menuju pada Aheng. Perasaanku sangat terluka. Betapa menyakitkan, marah, perih dan kehilangan harapan berkecamuk didalam diriku. Sedih yang mendalam dan merasa diriku ini tidak berguna (bo eng). Dia berlalu begitu saja dari hadapanku tanpa menoleh ke arah diriku menuju pada Aheng. Tak tertahankan rasanya, aku merasa kehilangan segala-galanya karena dia sudah pergi dari diriku dan karena aku tidak bisa membelokan dia untuk datang memperhatikan diriku dan menyukai diriku dan ini juga sebenarnya bukan kewajibanku tapi kewajiban dia sebagai orang tua. Aku tidak bisa hidup dengan keadaan seperti ini. Aku merasa entah kenapa diriku ini tidak pernah benar sehingga selalu ditolak. Apapun yang aku lakukan aku tidak pernah benar bagi mereka (mama, A'i dan papa) dan selalu ditolak oleh mereka. Entah apa yang harus aku lakukan supaya bisa benar dan diterima oleh mereka seperti Aheng tidak berbuat apa-apa namun selalu benar karena diterima dan tidak selalu disalahkan seperti yang aku alami. Aku sangat terluka dan marah terhadap Aheng yang merebut cinta mama dari diriku, karena Aheng maka diriku ditinggalkan oleh mama. Perasaan benci/marah terhadap Aheng yang aku rasakan sebagai akibat dari perasaanku yang terluka aku rasakan sebagai rasa iri hati terhadap Aheng dan membuat aku merasa diriku mempunyai sifat yang jelek, buruk, kasar dan jahat. Sedangkan mama yang punya hati menerima dan memperhatikan Aheng timbul gambaran dalam diriku Aheng baik dan bersih sedangkan diriku buruk, kasar, kotor dan juga busuk hati.
· Aku masih menunggu dan masih mengharapkan mama datang padaku walaupun dia saat itu sudah menggendong Aheng harapan yang sesungguhnya tidak mungkin dapat terpenuhi karena dia sudah sibuk dengan diri Aheng. Aku kemudian berusaha untuk memperoleh yang aku butuhkan. Aku mendekati dia dengan keluhan-keluhan dan menginginkan dia memperhatikan diriku dan datang padaku. Dia hanya bertanya:"an cua, ai si mi, ai simi tio kong lo, bo kong wa mana e cai", "ai simi tio kong lo, bo kong wa mana e cai" Dia menggendong Aheng dan aku terlantar sendirian. Jiwaku sangat hampa, aku merasakan kesepian yang mencekam, sendirian dimalam hari, terlantar sendirian. Aku memerlukan mama namun dia tidak datang kepadaku. Dia terus menggendong Aheng dan semakin lama semakin aku merasakan tidak ada harapan untuk mendapatkan penerimaan dari dia, semakin tidak mungkin dia akan melepaskan Aheng dan datang memperhatikan diri Aheng dari sikapnya yang sepenuhnya memperhatikan diriku dan tidak membagikan perhatiannya pada diriku. Aku merasa sangat kecewa dan kosong.
· Kebetulan papa pulang dari kerja dan mama segera menyuruh papa melihat diriku perlu apa. Segera terngiang dalam benakku yang mama maksudkan adalah barang bukan kebutuhan jiwaku. Aku kecewa akan sikapnya terhadapku yang demikian. Mama bilang pada diriku perlu apa bilang sama papa supaya papa bisa mengambilkannya untuk aku. Aku merasakan yang dikeluarkan mama begitu dingin dan tidak menyinggung sama sekali yang kubutuhkan. Aku bukan memerlukan barang dan aku tidak memerlukan papa mengambil sesuatu untuk diriku dan aku juga tidak memerlukan papa. Yang aku butuhkan adalah mama. Yang aku harapkan adalah mama. Yang aku inginkan adalah supaya mama datang sayang padaku tidak meninggalkan aku sendirian, kesepian, merana dan merasa kosong sebab sendirian dan sepi. Papa datang melihat sebentar dan aku tidak begitu suka akan kedatangannya, sebab kalau dia datang maka mama tidak akan datang padaku lagi. Aku diam dan bersikap menolak. Papa sebentar sudah pergi lagi dan bilang sama mama 'tidak ada apa-apa'. Namun setelah papa pergi aku mengeluh pada mama lagi. Menginginkan dia sendiri yang datang padaku. Kemudian papa disuruh lagi untuk datang melihat diriku perlu apa dan aku diam lagi. Kemudian setelah papa pergi aku mengeluh lagi menginginkan kedatangan mama. Papa beberapa kali diminta oleh mama untuk memperhatikan apa yang aku inginkan atau aku perlukan tapi bila papa datang aku tidak menjawab dan papa pergi lagi. Aku mengeluh lagi pada mama dan mama menyuruh papa datang melihat lagi apa yang aku perlukan namun saat papa datang aku diam lagi karena aku sama sekali tidak memerlukan papa dan dia juga tidak punya rasa suka atau gembira akan diriku sehingga aku juga tida merasa memerlukan dia atau senang ikut dia. Aku mengingikan mama karena aku memerlukan seorang mama sebagai pemberi rasa aman, memberi ketenangan dan kenyamanan kepadaku. Karena mama telah beberapa kali menyuruh papa datang melihat apa yang aku inginkan namun kedatangan papa tidak aku layani. Mama beberapa kali berkata dengan berat: "an cua, ai si mi, ai simi tio kong la bo kong papa mana e cai", "ai simi tio kong la bo kong papa mana e cai" Namun bagimanapun papa tidak bisa menggantikan seorang mama yang aku butuhkan. Kedatangkan papa juga bukanlah memperhatikan perasaanku tapi perhatiannya lebih kearah material, barang apa yang aku perlukan. Akhirnya karena tidak ada jawaban dariku papa pergi lagi dan bilang sama mama lagi tidak ada apa-apa. Kemudian mama menyuruh aku masuk kamar pergi tidur. Aku takut mengeluh lagi karena sudah beberapa kali mama meyuruh papa datang melihat diriku dan tidak ada jawaban dariku. Aku takut kalau aku mengeluh lagi mama akan marah, berang dan memukul diriku, menyebat diriku dengan rotan dan mencap aku sebagai pengacau. Karena takut akhirnya aku menuruti suruhan mama. Dengan perasaan yang sangat kecewa, kosong, merana dan kesepian yang mendalam aku memasuki kamar sendirian. Ditinggalkan sendirian oleh mama dan juga papa. Aku menderita sekali, tersiksa sekali. Kebutuhanku dan kerinduanku akan kehadiran seorang mama tidak pernah aku rasakan dan aku menjadi sangat menderita karenanya.
Erstelldatum 02/23/00 11:02

0 Comments:
Post a Comment
<< Home