Memukul Ahiang dengan ganas saat dia minta uang
31) Memukul Ahiang dengan ganas saat dia minta uang
· Ahiang datang memanggil mama: "ma, minta lui, ma minta lui" Suara Ahiang menunjukan kebutuhan seorang anak yang tidak terpenuhi. Kebutuhan seorang anak akan perhatian dan kasih sayang orang tua. Awalnya aku merasa kurang senang akan sikap Ahiang karena kalau aku ke tempat ama selalu mendengar Ahiang minta lui sama mama. Memang mintanya tidak banyak cuma Rp 5,- atau Rp 10,-. Sesungguhnya yang Ahiang inginkan/butuhkan adalah perhatian dan kehadiran seorang mama didalam hidupnya. Seorang anak memerlukan mama. Namun seperti diriku Ahiang tidak bisa datang kepada mama dan mengatakan bahwa dia memerlukan kasih sayang dari mama, memerlukan mama memperhatikan dia dan memberikan kehangatan dan rasa suka terhadap dia. Ahiang tidak pernah diajari bagaimana menyampaikan kebutuhannya, bila kebutuhannya dirasakan olehnya. Satu-satunya cara untuk memperoleh perhatian adalah dengan meminta uang, walau bukan yang diperlukan sesungguhnya namun dia tidak punya cara lain untuk menarik perhatian dari mama.
· Ahiang datang memanggil mama: "ma, minta lui, ma minta lui" Mendengar panggilan Ahiang yang minta uang mama langsung murka, seperti singa betina yang mau menerkam korbannya, sangat jahat dan biadab. Melihat serangan dari mama Ahiang ketakutan, panik dan berteriak histeris. Uang kecil yang digenggam di tangannya, yang sangat disayanginya terlepas dari tanganya dan terpental jauh dari dia. Uang kecil bernilai Rp 5,- dan Rp 10,-. Mama sangat murka dan buas, seperti mau melahap/menelan habis anaknya sendiri. Sangat brutal dan biadab. Melihat bahaya yang mengancam Ahiang berlari masuk ke dalam kamar. Mama mengejar dia masuk ke dalam kamar. Dari dalam kamar aku mendengar suara-suara teriakan Ahiang yang keras dan histeris. Mama pasti membantai Ahiang dengan penuh rasa benci. Dia pasti melampiaskan seluruh amarahnya kepada Ahiang. Tangisan dan teriakan Ahiang yang histeris berlangsung lama dan berkali-kali. Aku yang awalnya menyangka Ahiang yang bersalah dan pantas kena pukul. Namun mendengar tangisan dan teriakan Ahiang yang keras akibat kebrutalan mama merasa hal itu tidak benar. Perbuatan mama itu tidak benar dan aku sangat mengharapkan ama dan A'i segera datang menolong Ahiang. Aku mengharapkan ama bisa bersikap tegas terhadap mama, memarahi mama dan melindungi Ahiang. Aku mengharapkan ama bersikap tegas karena ama lebih tua dari mama. Tangisan dan teriakan histeris dari Ahiang akibat pukulan mama yang kejam dan brutal karena dia melampiaskan seluruh amarah, rasa tidak puas dan bencinya terhadap Ahiang, seorang anak kecil yang memerlukan dia.
· Ama dan A'i datangdan meminta mama menghentikan pukulannya terhadap Ahiang: "ho lo la Ci, ho lo la Ci", begitu juga dengan ama meminta mama menghentikan pukulannya terhadap Ahiang. Namun sikap mereka tidaklah tegas. Aku merasa heran mengapa ama tidak bersikap tegas terhadap mama bukankah dia lebih tua, mengapa tidak melindungi Ahiang. Mereka menganggap Ahiang adalah anak mama dan adalah hak mama untuk memukul Ahiang seakan anak merupakan barang milik dari orang tua. Sikap ama tidak tegas dan juga A'i sama sekali tidak tegas. Sikap mereka seakan mama yang benar dan Ahiang yang salah dan meminta untuk menghentikan hukumannya terhadap Ahiang. Mereka tidak bertanya pada mama salah apa Ahiang sebenarnya sampai dipukul serupa itu sedemikian brutal. Ahiang sama sekali tidak bersalah. Kalau bersalahpun tidak pantas menganiaya seorang anak sedemikian rupa. Kejahatan mama tidak dilihat sebagai suatu kesalahan. Betapa kotor yang dilakukan oleh mama/orang tua dia tetap benar dan korban seorang anak kecil yang tidak berdaya justru dirasakan sebagai orang yang bersalah.
· Mama memukul Ahiang, melampiaskan amarahnya, kebiadabannya pada Ahiang sampai dia puas. Suatu perbuatan yang kotor dan menjijikan. Sungguh tidak layak jadi orang tua berbuat begitu. Dia kemudian meninggalkan Ahiang. Ahiang masih menangis. Mama meninggalkan Ahiang diikuti oleh ama dan A'i. Tidak ada seorangpun dari mereka memikirkan untuk menemani Ahiang. Perasaan apa yang berkecamuk didalam diri Ahiang setelah dianiaya oleh mama sedemikian rupa. Aku masih mendengar isakan tangis dari Ahiang. Tidak lama kemudian keadaan kamar menjadi tenang dan sunyi. Aku merasa takut kalau terjadi apa-apa pada Ahiang karena aku tidak mendengar suara sedikitpun lagi dari dalam kamar.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home