Memandang aku dengan penuh rasa benci
5) Memandang aku dengan penuh rasa benci
· Mama berdiri di belakangku dan memandang aku penuh dengan rasa benci. Dia perintah aku: "ta wa lai mai !", "ta wa lai mai !". Aku tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba begitu marah dan benci terhadap diriku. Aku merasa terancam oleh dia. "Ta wa lai mai !" Aku ingin menuruti panggilannya karena kalau tidak aku turuti dia akan lebih marah lagi dan kalau aku turuti juga merupakan ancaman bahaya bagiku karena dirinya dalam keadaan yang penuh dengan rasa benci dan marah/berang terhadapku pasti bukan gelagat yang baik, selain itu tujuannya apa. Bukankah dia sudah ada di depanku. Mengapa menyuruh aku datang kepada dia lagi. Dengan satu-dua langkah dia sudah sampai di mukaku. "Ta wa lai mai !" Perintahnya lagi. Perintah yang berisi ancaman. Aku jadi semakin takut karena kalau aku tidak turuti dia akan bertambah marah dan kalau aku turuti dia aku takut kena pukul karena gelagatnya bukanlah gelagat yang baik. Aku merasakan ancaman bahaya dari dia. Ancaman bahaya dari seorang dewasa yang adalah mamaku sendiri.
· Melihat aku tidak menuruti perintahnya, amarahnya menjadi memuncak dan datang menyeret aku ke tempatnya. Dengan perasaan yang sangat geram dan dan penuh rasa benci / kebencian yang amat-sangat dia mengoncang-goncangkan tubuhku dengan keras seperti ingin mencabik-cabik dan menghancurkan tubuhku, ingin memusnahkan diriku. Akibat kebenciannya dan perlakuannya terhadap terhadap diriku/tubuhku yang sedemikian rupa membuat aku merasa tubuhku ini kotor karena bersalah. Aku menjadi jijik terhadap tanganku dan tubuhku sendiri. Goncangannya terhadap tubuhku sangat keras sehingga kepalaku terayun keras ke muka dan ke belakang seperti ditarik oleh Karosel yang bergerak kencang. Saat kepalaku terayun mengarah ke belakang dan wajahku ke atas aku melihat wajahnya yang berang dan penuh dengan kebencian.
· Dia kemudian melepaskan cengkeramannya dan tubuhku terdorong ke belakang dan terasa pusing. Aku bertanya dan sekaligus memprotes: "an cua la !" Mendengar protesku dia menjadi geram lagi dan datang mencngkram dan mendorong aku dengan keras disertai dengan kata: "heng de ke si !" Dia sungguh-sungguh ingin melenyapkan diriku dan tidak peduli lagi akan apa yang terjadi pada diriku. Aku terdorong ke belakang dan hampir jatuh. Aku menjadi takut untuk memprotes lagi karena akan membahayakan diriku.
· Aku teringat akan kertas Toto yang ada di atas meja. Kalau sampai terlihat oleh dia bisa sangat berbahaya bagiku karena Toto adalah sesuatu yang tabu yang dia sendiri sangat berhati-hati dalam menangani kertas Toto karena bisa ditangkap polisi. Kalau sampai ketahuan oleh dia aku membuat kertas Toto sembarangan maka bisa aku bayangkan akibatnya. Aku takut dia akan menghabisi diriku. Aku berusaha sangat untuk menggapai meja kecil itu tempat aku menulis kertas untuk menjual Toto. Melihat aku berusaha keras untuk mendekati meja kecil itu dia menjadi ingin tahu apa yang ada di atas meja kecil itu. Dia menyeret aku lari dari meja kecil itu untuk mengambil kertas yang mau aku selamatkan. Tapi aku berusaha keras dan sebisa mungkin untuk melindungi kertas yang ada di atas meja kecil itu supaya jangan sampai kelihatan dan diambil oleh dia. Dia menyeret aku lagi dan kali ini dia mengerahkan seluruh tenaganya, tenaga orang dewasa sehingga dengan mudah diriku terseret jauh dari meja kecil yang ingin aku lindungi dan dia menghalangi aku (dengan tubuhnya) yang ingin kembali dengan gerakan tubuhku untuk mengambil kertas yang ada di atas meja itu, namun sia-sia terlalu jauh untuk sampai ke meja kecil itu dan harus menembus hadangannya yang mustahil bisa berhasil.
· Aku mundur dan sudah tidak berusaha untuk menyelamatkan kertas itu lagi karena sudah ada di tangannya. Tidak mungkin bagiku untuk merebut kembali kertas yang sudah ada di tangannya karena tenaganya jauh melampaui tenagaku. Lagi pula kertas itu sudah dilihatnya dan kemungkinan besar isinya sudah diketahuinya. Dia memandang dengan lama kertas yang aku tulis itu. Aku ketakutan setengah mati karena bayanganku hukuman besar bakalan meni mpa diriku sebab Toto bagi dia merupakan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan dan dia sendiri sangat berhati-hati dalam menangani kertas Toto serta sangat menekankan pada diriku jangan sampai ada kertas Toto yang tercecer yang bisa sampai kelihatan polisi. Selama menuggu keputusan dari dia itu diriku dikuasai oleh rasa takut yang besar, seakan menunggu keputusan hukuman mati. Selama menatikan dia menjatuhkan hukumannya atas diriku aku sangat menderita. Selain rasa takut juga merasa sangat tersiksa sebab aku tidak mengetahui apa pikirannya tentang kertas Toto yang aku tulis dan tentang diriku. Apakah dia memikirkan aku mau menyaingi dia. Dia memandang kertas Toto itu dengan diam, dengan pancaran wajah yang benci dan tidak bertanya kepadaku kertas itu untuk apa dan tidak berbicara dengan diriku. Dari situ timbul dugaan dia merasa aku mau menyaingi dirinya dalam hal menjual Toto, dalam hal merebut langganan. Dia tidak bertanya kepadaku dan juga tidak berbicara kepadaku. Yang kulihat adalah wajahnya yang memikir dan menerka-nerka sendiri untuk apa kertas yang kutulis itu. Aku menjadi sangat tersiksa oleh dugaan-dugaan yang mincul dalam benakku mengenai apa yang dipikirkan oleh dia mengenai kertas Toto itu dan mengenai diriku.
· Aku seperti hampir tidak percaya dia tidak memukul aku. Sebab yang kunantikan dalam bayanganku adalah hukuman besar tapi entah kenapa amarahnya jadi tiba-tiba agak mereda. Dia tidak memukul diriku, hanya membentak aku masuk: "ke ta wa jib", "ke ta wa jib", "ke ta wa jib mai !" Mula-mula tentu aku tidak mengerti suruh aku masuk ke mana karena aku sudah ada di dalam rumah. Kemudian setelah mengetahui dia menyuruh aku masuk ke dalam kamar aku segera berlari masuk ke dalam kamar dengan dihantui rasa takut yang amat sangat karena tidak tahu apa yang akan dilakukannya terhadap / menimpa diriku lagi. Rasa takut masih terus menghantui diriku walau dia tidak memukul aku karena aku tidak tahu pikiran apa yang timbul dalam benaknya setelah dia membaca /melihat kertas untuk menjual Toto yang aku tulis. Akankah dia memikirkan bahwa aku nanti akan menyaingi dirinya. Ketidakketerbukaan dari dia membuat aku terus merasa tersiksa dan senantiasa dihantui ancaman bahaya dari dia karena wajahnya yang tidak tersenyum namun berisi rasa marah, tidak puas dan benci dan entah pikiran apa yang ada didalam benaknnya mengenai diriku.
Erstelldatum 02/20/00 14:37

0 Comments:
Post a Comment
<< Home