Friday, November 03, 2006

Pah' Ke Ni

39) Pah' Ke Ni
· Aku memerlukan mama terutama karena hari itu hari yang istimewa hari Raya Imlek atau Keni. Mama sedang mencuci baju, perasaanku sedih sekali. Keni mestinya hari yang istimewa tapi aku tidak melihat sesuatu yang istimewa. Mama bekerja seperti biasa mencuci baju. Aku ingin merasakan sesuatu yang istimewa. Aku ingin/memerlukan mama memperhatikan diriku, tidak tinggalkan aku sendirian namun bergembira bersamaku karena hari itu hari yang istimewa.
· Aku memanggil "ma, ma, ma" ketika dia sedang memeras baju mau menjemur baju pada tek ko (batang bulu). Dia menjawab dengan nada yang kasar dan melukai perasaanku: "mai ta wa cha yo, tan tio pah ke ni baru cai, tan tio pah ke ni baru cai". Dia mengancam aku mau memukul aku pada hari Raya Imlek. Kena pukul pada Hary Raya Imlek itu sial. Aku kecewa sekali akan sikapnya yang kasar itu. Masakan selalu begitu menyakiti diriku. Tidak pernah sekalipun bersikap yang baik bila aku memerlukan dia.
· Namun aku menderita sekali. Aku tidak dapat menekan kebutuhanku dan sikapnya yang memusuhiku tambah melukai perasaanku. Aku memanggil dia lagi: "ma, ma, ma". Dia menganggap diriku ini mengganggu dia dan dia mengancam lagi: "ai ta wa tiam mai, tan tio pah ke ni baru cai, tan cin sit ta le but, wa ta le kong tio pah ke ni soi siau " Dia mengancam mau sungguh-sunguh memukul aku pada Hary Raya Imlek kalau aku tidak diam.
· Aku merasa takut akan ancamannya itu tapi aku tidak bisa pergi begitu saja karena kebutuhanku menunutu untuk dipenuhi. Disamping itu sikapnya sebagi seorang yang kubutuhkan bukannya menunjukan penerimaan tapi justru sebaliknya sangat menyakiti perasaanku. Aku terus memanggil dia diringi rasa takut dan nekat karena aku tidak bisa berbuat yang lain selain berusaha memenuhi kebutuhanku. Aku memanggil dia lagi: "ma, ma, ma". Dia segera pergi mengambil rotan dan menyebat aku tanpa ada rasa menghargai diriku sedikitpun (anggap aku ini nichts, tidak punya perasaan, tidak punya rasa harga diri, tidak punya keinginan, einfach nichts) bahwa hari itu Hari Raya Imlek, jangan menghancurkan martabatku, kebahagiaanku, perasaanku. Hatiku sungguh hancur, perih, dendam dan kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa (putus harapan) karena aku tergantung penuh pada dia.
· Dia sendiri bilang pah ke ni itu soi siau, apalagi Coi It hari yang paling besar dalam tiga hari Keni itu. Walaupun dia tahu itu Coi It paling sial kalau aku kena pukul dia pada hari iiu namun diakukannya juga. Dia itu tidak punya rasa perikemanusiaan. Dia itu bisa lebih kejam dari pada binatang. Binatang terhadap anaknya tidak begitu kejam. Yang tinggal dalam diriku adalah rasa kecewa, marah, dendam, perih, putus harapan, sedih sampai pahit, hati yang hancur dan malu karena kena pukul, malu terhadap Aheng yang melihat kejadian itu.
Erstelldatum 03/04/00 10:01

0 Comments:

Post a Comment

<< Home