Friday, November 03, 2006

6) Memerlukan akte kelahiran, bukannya ditolong. Malah disalahkan dan dibenci

6) Memerlukan akte kelahiran, bukannya ditolong. Malah disalahkan dan dibenci.
· Pak Toha mengatakan perlu akte kelahiran, foto kopi akte kelahiran dan dia juga menyebutkan kapan selambat-lambatnya harus diserahkan.
· Di rumah aku merasa gelisah karena merasa tidak mampu memenuhi permintaan pak Toha. Aku tidak tahu akte kenal lahir itu seperti apa dan foto kopi itu sesuatu yang baru dan di mana bisa foto kopi aku juga kurang tahu. Tidak sampai terpikirkan olehku meminta bantuan dari mama karena dari pengalaman-pengalamanku sebelumnya setiap kedatanganku padanya akan terpental kembali oleh reaksinya yang kasar, tidak mau mendengarkan dan tidak mau tahu akan kebutuhanku namun merasakan diriku sebagai pengganggu. Dia akan marah dan tidak senang kalau aku datang pada dia. Kepalaku terasa mau pecah memikirkan bagaimana aku mendapatkan akte kelahiran karena diluar kemampuanku. Diluar kemampuanku karena aku tidak tahu akte kelahiran itu seperti apa dan juga bagaimana pergi fotokopi. Aku merasa tersiksa sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Dilain pihak aku harus menyerahkan fotokopi akte kelahiran kepada pak Toha. Aku hanya bisa memandang ke arah lemari tempat surat-surat penting itu diletakan tanpa bisa berbuat sesuatu karena aku tidak kenal akte kelahiran itu seperti apa dan letak akte kelahiran yang sesungguhnya aku juga tidak tahu, hanya tahu disekitar tumpukan surat-surat. Kalau aku membongkar tumpukan surat-surat itu pasti aku akan kena marah dan belum tentu aku dapat menemukan yang aku perlukan tanpa salah ambil karena aku tidak tahu pasti akte kelahiran yang sebenarnya seperti apa. Tidak ada yang menolong aku dan tidak ada yang dapat aku harapkan pertolongannya. Papa pulang malang dan dengan diriku sama sekali tidak dekat dan tidak ada komunikasi. Sedangkan diri mama mendekati dia dan menyampaikan keperluanku aku tidak berani. Dalam diriku sudah membayangkan amarah dan rasa tidak senangnya bila aku menginginkan sesuatu dari dia.
· Mama masuk dari belakang melihat aku berdiri bengong bertanya dengan kasar: "ai an cua", "ai si mi", "ai cong si mi". Aku merasa takut akan sikapnya yang marah dan mempersalahkan. Aku merasa takut dimarahi, disalahkan dan dipukul oleh dia sehingga lama baru menjawab. Aku menjawab dengan gugup: "Pak Toha kio khio cut nshi ji, fotokopi e!" Mama dengan geram mempersalahkan diriku: "An cua boi hia kong." "Co kin na ha ni kuan gong!" Ha ni kuan tio boi hia kong!" "An cua ha ni kuan gong!" Dia terus melampiaskan rasa tidak puasnya terhadap diriku. Sedangkan aku merasa ketakutan akan dipukul.
· Dia membuka pintu lemari untuk mengambil akte kelahiran dan mengeluarkan semua surat dari dalam lemari. Dengan berdiri dia mencari akte kelahiran dalam tumpukan surat-surat yang dikeluarkan dari lemari itu. Kemudian dengan kasar dia bertanya: "ini sibo!?" Apakah ini akte kelahirannya. Sikapnya kasar sekali, tidak memperhatikan bahwa surat yang dipegangnya terlalu tinggi bagiku dan aku tidak dapat melihat dengan jelas surat yang mau ditunjukannya. Aku berusaha menggapai surat yang ditunjukannya dengan keadaan sangat gugup. Aku sendiri tidak mengerti surat akte kelahiran itu seperti apa. Aku berusaha mencari-cari walau aku tidak mengerti karena aku memerlukannya. Dia bilang: "Ini si bo!" Dengan gugup dan panik aku segera mengiakan yang ditunjukannya walau aku tidak tahu surat itu pasti akte kelahiran karena aku takut dia jadi marah. Beberapa kali dia menyodorkan surat yang dicarinya kepadaku dan bertanya secara kasar dan tanpa memandang ke arah diriku. Setiap kali dia menunjukan kepadaku surat yang dicarinya aku segera menjawab: "yo", "yo" dengan perasaan takut dan gugup. Dia mencari akte kelahiran itu dengan perasaan terpaksa, tidak ada kegembiraan untuk berbuat sesuatu bagiku yang sesuangguhnya merupakan kewajiban dia.
· Mencari-cari akhirnya dia mendapat satu lembar. Dia bertanya lagi: "Ini sibo?!" Aku jadi gugup karena beberapa kali aku menjawab ya, ternyata bukan. Aku takut kalau akau bilang benar dan ternyata salah dia bisa marah padaku lagi. Kalau aku menjawab tidak tahu mungkin dia akan marah juga. Aku menjadi sangat gugup dan menjawab "bukan" karena jawabanku yang sebelumnya "ya" ternyata salah. Dia bertanya padaku dan aku tidak tahu akte kelahiran yang sebenarnya seperti apa. Kemudian dia lihat surat itu dengan agak cermat dan berkata: "si la, ini si lah!" Dia menyerahkan akte kelahiran itu kepadaku. Surat yang pertama kali kupegang.
· Aku memandang akte kelahiran yang diberikannya dan membacanya. Namaku tidak tertera dalam akte kelahiran itu. Aku menjadi panik, lemas dan tidak berdaya. Dalam akte kelahiran itu tertuliskan nama 'Ho An'. Tergiang olehku ejekan A'i yang mempermainkan aku seperi Ahiang anak Eng Sun. Dari situ timbul rasa curiga bahwa memanglah benar aku bukan anak papa yang sebenarnya. Berbagai macam perasaan takut berkecamuk dalam diriku.
Pertama aku memerlukan akte kelahiran yang benar yang sesuai dengan namaku 'Ace'. Yang
tertera adalah 'Ho An'. Aku takut ditolak dan disalahkan oleh pak Toha. Aku takut tidak mendapatkan Ijazah sehingga tidak dapat melanjutkan sekolah.
Kedua aku takut diriku yang nakal sering mengganggu Aheng yang merupakan anak papa yang sesungguhnya akan mendapakan hukuman dari papa kalau papa pulang nanti malam. Takut kena hukuman dari dia bila dia mengetahui dari akte kelahiran itu bahwa aku bukan anak dia yang sesungguhnya. Aku merasa takut kalau papa sampai melihat akte kelahiranku dan mengetahui aku bukan anak kandungnnya dia akan mengamuk brutal dan mengusir aku keluar dari rumah. Bayangan yang brutal ini timbul dari perlakuan mama terhadap diriku sehari-hari yang brutal dan kejam.
Ketiga aku merasa tidak berdaya bagaimana aku bisa menyelesaikan masalah ini. Aku merasa malu kalau harus bersama mama pergi ke sekolah untuk bertanya pada pak Toha: Perasaan malu dilihat orang bahwa dia adalah mamaku itu disebabkan oleh perlakuannya terhadap diriku sehari hari yang sangat perimitiv: kasar, brutal, menghina, merendahkan, memperlakukan diriku bagai sampah, jalan pikirannya yang sangat sempit, bodoh dan jahat. Selain itu karena mama bodoh dan tidak tahu perihal mengenai surat membuat aku merasa dia tidak bisa diharapkan pertolongannnya dan dia juga tidak punya inisiativ untuk menolong aku.
· Tiba-tiba terdengar suara ancaman dari mama: "ai mai, ai kio lai mai, mai tio sua." Awalnya aku masih belum mengerti maksudnya apa. Tidak terpikirkan olehku bahwa dia mau memfotokopikan untuk diriku. Tidak terpikirkan olehku dia mau menolong aku. Dia bertanya seperti ini: "ai fotokopi mai ai kio lai!" Aku seperti mendengarkan sesuatu yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan kalau dia mau menolong aku, seperti mimpi saja. Tidak terbayangkan olehku. Biasanya diriku dibiarkan sendiri bersama persoalanku. Disatu pihak dia menawarkan pertolongan dilain pihak mengancam kalau aku tidak lekas-lekas menyerahkan surat itu pada dia untuk pergi fotokopi dia akan segera meninggalkan diriku. Ancamannya membuat aku panik. Aku sangat terjepit. Kalau aku tidak segera menyerahkan akte kelahiran itu pada dia untuk difotokopi maka dia akan meninggalkan diriku. Kalau aku kasih dia untuk fotokopi akte kelahiran itu salah. Difotokopi juga tidak ada gunanya karena tidak bisa aku gunakan, pikirku. Karena desakannya yang sangat tidak sabar dan ancamannya yang segera mau meninggalkan diriku aku segera meyerahkan akte kelahiran itu kepada dia. Kemudian karena gugup nanti fotokopinya tidak bisa kugunakan aku ingin mengambil kembali surat yang sudah ada ditangannya. Dia mempersalahkan aku karena aku mau ambil kembali akte kelahiran yang sudah aku serahkan kepada dia. "De kua yo" Seakan dia mempersalahkan aku mau mengganggu dia lagi. Dia mengancam kalau aku mengambil kembali dia tidak mau memfotokopikannya untuk diriku. Aku menjadi lemas, tidak berdaya dan panik. Dia mempersalahkan diriku: "de kua yo, tampo-tampo tio tua yo", " tampo-tampo tio tua yo", Aku merasa diriku ini sangat lemah. Beban yang ada dipundakku melampaui daya pikulku sebagai seorang anak kecil. Beban yang diletakan mama di atas pundakku.
· Dia berjalan keluar mau meniggalkan aku. Aku merasa panik dan mengeluarkan perasaan panik. Dia mempersalahkan aku lagi: "de kua yo, tampo-tampo tio tua!", " tampo-tampo tio tua!" Aku merasa mengapa diriku ini sangat lemah dan timul perasaan diriku ini sesunggunya sangat lemah karena aku merasakan beban yang ada dipundakku namun jauh diluar batas kemampuanku untuk memikulnya. Aku merasakan beban yang diluar batas daya pkulku sebagi kelemahanku sebagai akibat diriku yabg sering disalahkan oleh mama: " tampo-tampo tio tua!", " tampo-tampo tio tua!", sedikit-sedikit sudah merengek. Perasaan diriku yang lemah ini mengikis rasa percaya diri dariku.
· Aku berusaha menunjukan pada dia ada kesalahan dalam akte kelahiran. Dia memandang/ memeriksa akte kelahiran itu dengan diam. Didalamnya tertulis nama 'Ho An'. Timbul perasaan takut yang baru. Aku takut dia akan benci kepadaku karena aku merupakan anak dari laki-laki yang dibencinya, anak Eng Sun. Aku berusaha menekan perasaan takutku itu. Melihat dia mengamati akte kelahiran itu ingin rasanya aku menjelaskan pada dia mengapa aku merasa takut dan panik (karena nama yang tertera pada akte kelahiran itu salah). Hubungan mama dengan diriku bukanlah hubungan yang komunikativ atau dua arah tapi merupakan hubungan searah. Dia memerintah dan aku harus melaksanakan perintahnya. Perasaanku, keinginanku, kebutuhanku tidak pernah terpikirkan oleh dia dan juga tidak pernah diperhatikan oleh dia. Hubungan yang searah itu membuat aku tidak pernah belajar untuk berkomunikasi sehingga aku tidak bisa menjelaskan kepada dia apa yang membuat aku takut dan panik.
· Tiba-tiba timbul ide untuk menuliskan nama Ace pada secarik kertas dan menempelkannya di atas nama Ho An. Dia hanya melihat yang aku kerjakan tanpa ada pikiran sumbangan untuk menolong aku. Lem perekat untuk kertas di rumah tidak ada, aku menjadi panik dan buru-buru menggunakan nasi sebagai bahan perekat. Karena aku tidak berhasil melekatkan secarik kertas itu dengan baik, dia dengan kasar menyingkirkan aku dan mengerjakannya sendiri. Kemudian dia pergi fotokopi dengan mengendarai motor bebek hijaunya.
· Sepulang dari fotokopi aku melihat hasil yang jelek, ada berkas hitam segi empat yang sangat jelas. Terlihat sangat jelas nama itu dimanipulasi. Aku merasa ketakutan dan panik. Melihat diriku yang panik dia mempersalahkan diriku lagi: "de kua yo, tampo-tampo tio tua!", " tampo-tampo tio tua!". Serangan-serangan itu membuat aku merasa bersalah. Dia mengambil pergi tempelan pada akte kelahiran yang berusaha aku perbaiki dan memeperbaikinya sendiri. Kemudian pergi fotokopi lagi.
· Sepulangnnya dari fotokopi aku melihat tidak banyak perbedaan. Memang tidak sehitam semula, namun tetap saja ada garis segi empat berkas tempelan kertas kecil dan tulisan tangan tetap berbeda dengan tulisan mesin tik. Aku menjadi tidak berdaya. Dalam ketidak berdayaan itu aku menjadi takut dan panik. Melihat aku takut dan panik yang berarti hasil fotokopinya tidak sesuai dengan yang kuinginkan dia menjadi marah dan tidk senang. Dalam keadaan tidak berdaya, takut dan panik aku sangat memerlukan pertolongannya. Bukan pertolongan yang dia berikan kepadaku melainkan mempersalahkan diriku: "De kua yo, tio tua, tio tua, tio boi coi!" Sekarang bertambah beban dari mama yang mempersalahkan dan bakalan menghukum aku dengan meninggalkan diriku atau memukul aku. Dia tidak berusaha untuk melihat masalahku tapi hanya melihat reaksi luarku dan mempersalahkan diriku.
· Aku sungguh menahan beban yang sangat berat: ketakutan yang luar biasa dan panik sampai membuat aku terjongkok melipatkan kaki untuk mengurangi rasa takut dan aku menangis. Aku sangat mengharapkan dia datang membelai punggungku memberi rasa aman kepadaku. Suara tangisanku berusaha memanggil mama untuk mendekati diriku dan memberi rasa aman kepadaku. Namun dia hanya berdiri diam di belakangku dan bahkan mungkin menahan rasa marah dan benci terhadap diriku yang membuat aku merasa semakin takut dan beban semakin berat. Kemudian dia meninggalkan aku dengan kasar dan tidak puas dan marah. Melihat dia pergi aku berteriak dengan keras: "ma, ma". Seakan-akan seperti habislah segala-galanya, aku berusaha untuk menahan dia jangan sampai pergi karena aku memerlukan dia. Reaksinya sangat kasar dan tidak punya hati: "ta wa cia tan le´", "ta wa cia tan le´". Dia meninggalkan aku dengan dingin/tidak punya perasaan dan tidak mau tahu lagi akan apa yang terjadi pada diriku. Aku merasa semua ini terjadi karena kesalahanku. Seandainya tuntutanku tidak terlalu banyak (tangisan-tangisan yang kuperkuat sebelum dia meninggalkan aku untuk memanggil dia datang padaku karena aku memerlukan dia) tentu hal ini (secara kasar meninggalkan diriku "ta wa cia tan le´" dan tidak mau tahu lagi akan apa yang terjadi pada diriku, kehilangan cinta dari dia) tidak akan terjadi. Mama menjadi dingin, marah dan bo kam guan terhadap diriku. Bebanku sekarang menjadi lebih banyak lagi. Diri mama sebagai beban tambahan. Aku menjadi total sendirian.
Pertama takut disalahkan pak Toha, takut tidak bisa ambil Ijazah, takut tidak bisa melanjukan sekolah karena tidak ada Ijazah.
Kedua takut diusir keluar dari rumah oleh papa, takut akan amukan papa kalau suatu saat aku berbuat salah.
Ketiga takut kehilangan cinta/penerimaan dari mama. Sekarang mama sungguh berang, meninggalkan aku dengan kasar, marah, tidak puas dan dingin. Tidak mau tahu lagi akan diriku.
Tidak ada jalan lain lagi bagi diriku selain terpaksa mengambil fotokopi akte kelahiran yang ada yang aku rasakan hasilnya jauh dari pada mencukupi karena berkas manipulasi nama sangat jelas kelihatan dan gampang diketahui orang (pak Toha).
· Hari selanjutnya pak Toha mengumpulkan fotokopi akte kelahiran. Aku menantikan namaku dipanggil dengan rasa takut dan gugup. Aku menantikan akibat yang akan menimpa diriku dari hasil manipulasi nama dengan cara fotokopi itu. Nama Acai lain sekali dengan nama yang tertera diakte kelahirannya, begitu juga dengan beberapa anak lainnya. Nama mereka berbeda sekali dengan nama yang tertera diakte kelahiran. Nama Ace dipanggil dan kelihatannya pak Toha tahu aku telah memanipulasi nama karena berkasnya jelas sekali tapi itu bukan urusannya sebab akibatnya nanti aku yang menanggungnya sendiri. Aku tidak menyadari akibat yang akan menimpa diriku nantinya. Aku merasa sangat malu kalau nama 'Ho An' sampai disebut pak Toha seperti dia menyebut nama anak-anal lainnya. Aku merasa agak lega tidak mengalami hal itu. Aku merasa lega pak Toha tidak mempersoalkan berkas fotokopi dan tulisan tangan serta nama Ace yang pendek. Sampai sekarang aku punya Hemmungen akan akarku. Aku merasa malu kalau orang mengetahui akarku yang sebenarnya, yang selama ini berusaha aku tutup-tutupi dengan segala cara.
· Dikelas satu SMP aku selalu dihantui rasa takut kalau ketahuan oleh kepala sekolah bahwa Ijazahku mempunyai nama yang salah sehingga dapat dituduh memalsukan Ijazah karena tidak ada kesesuaian dengan akte kelahiran. Aku takut kepala sekolah akan marah dan mengeluarkan aku dari sekolah.
· Dikelas dua SMP aku pindah ke SMP Dharma Bhakti 2 dan menggunakan nama Ho An seperti yang tertera pada akte kelahiran. Karena aku diminta akte kelahiran oleh pak Tobing. Ijazahku tertuliskan Ace sehingga aku dimintai untuk mengambil surat keterangan dari pak Toha. Ace kasih pak Toha Rp 3.000,- Jumlah yang cukup besar saat itu.

Erstelldatum 02/19/00 15:32

0 Comments:

Post a Comment

<< Home