A'i meninggalkan aku saat aku mau ikut dia dengan cara dibohongi disuruh kebelakang kemudian mama memandang diriku dengan senyuman yang membuat aku ta
23) A'i meninggalkan aku saat aku mau ikut dia dengan cara dibohongi disuruh kebelakang kemudian mama memandang diriku dengan senyuman yang membuat aku takut.
· A'i ingin pulang dan aku ingin ikut A'i namun A'i tidak mengijinkan aku untuk ikut. Awalnya A'i menolak namun kemudian bersikap netral tidak menerima namun juga tidak menolak setelah melihat aku begitu ingin ikut dia. Sedangkan mama dengan tegas menolak. Dia bilang siapa yang akan mengantar aku pulang nantinya. Karena melihat aku mati-matian ingin ikut, A'i seperti punya rasa ingin mengijinkan aku untuk ikut dia tapi mama menolak: "mai la Bo tan siang bo cua i teng lai a !" "Na nin nang hia cong nin nang ma huan be." "mai la Bo cong ma huan be." Mama bilang aku hanya akan merepotkan mereka (ama dan A'i) saja kalau aku ikut. Tidak terpikirkan oleh mama bahwa kehadiranku mungkin juga bisa merupakan kegembiraan bagi A'i dan ama.
· Aku ingin ikut terus, mati-matian ingin ikut. A'i diam di situ tidak bergerak sambil memegang sepedanya karena aku mati-matian ingin ikut dan tidak diperbolehkan oleh mama.
Mama kemudian menyuruh aku ke belakang. Kalau aku mau ikut aku harus ke belakang dulu katanya, harus tunggu di belakang dulu. Aku merasa heran, mengapa aku harus ke belakang dulu kalau aku mau ikut. Kalau aku tidak ke belakang aku juga tidak bisa ikut karena A'i hanya diam di situ saja dan tidak bergerak selama aku ada di dekat mereka. Aku mempercayai mama dan tidak punya pikiran dia bakalan membohongi aku. A'i juga ikut mama meng 'ya' kann supaya aku tunggu di belakang. Aku harap kalau aku memenuhi keinginan mama (dan A'i) nantinya aku akan dibiarkan untuk ikut. Karena desakan mama yang terus-menerus dan karena aku ingin ikut, ingin supaya keinginanku terpenuhi aku mengikuti suruhan mama ke belakang. Dalam diriku bertanya, dia suruh aku ke belakang untuk apa atau mengambil apa atau harus mengerjakan apa. Desakan-desakan mama membuat aku panik dan gugup karena takut disalahkan kalau aku tidak menjalankan yang dia inginkan. Sedangkan untuk menjalankan yang dia inginkan juga aku tidak jelas apa yang dia/mereka inginkan sesungguhnya. Karena tidak jelas apa yang disuruh/ diinginkan oleh mama membuat aku takut dibentak dan disalahkan, takut dibentak tua gong! aku jadi gugup dan panik. Aku tidak dengar jelas yang dia inginkan saking gugup dan paniknya karena tidak mengerti apa yang diinginkan oleh mereka sesungguhnya serta saking takutnya ditinggalkan oleh A'i. Aku takut dibentak oleh mama karena dia sering membentak dan menyalahkan aku kalau dia menyuruh aku mengerjakan sesuatu namun bila yang kukerjakan itu tidak sesuai dengan keinginannya atau yang dimaksudkannya. Aku merasa harus berbuat sesuatu atau mengambil sesuatu di belakang karena kalau hanya tunggu saja (di belakang) rasanya aneh karena A'i berangkat 'kann lewat depan dan mengapa aku harus sengaja menunggu di belakang toh kalau akan ikut dia. Setelah aku agak jelas apa yang dinginkan mereka ternyata mama hanya menyuruh aku menunggu saja di belakang (tidak berbuat apa-apa), tugas yang begitu gampang untuk dapat ikut A'i karena tidak harus mengerjakan tugas yang berat baru boleh ikut A'i seperti sangkaanku/gambaranku. Aku sangka aku harus mengerjakan sesuatu yang rumit dan susah karena aku merasa heran kalau disuruh namun tidak harus berbuat apa-apa. Biasanya kalau mama menyuruh aku pasti aku disuruh mengerjakan sesuatu yang tidak menyenangkan bagiku.
· Aku tunggu dan tunggu tapi heran tidak terjadi apa-apa. Mama atau A'i tidak datang ke belakang karena kalau aku mau ikut tentu A'i harus bersama aku. Karena merasa tidak beres aku berlari ke depan dengan tergesa-gesa namun aku tidak melihat A'i lagi. A'i telah lenyap. Seperti kena sambar geledek, aku menjadi panik dan mencari-cari A'i. Aku tidak mau mengakui kenyataan bahwa A'i telah pergi meninggalkan aku. A'i sampai tega berbuat seperti itu, meninggalkan aku sendirian begitu saja, membohongi aku, tega nian . Aku merasakan perasaan kehilangan dan kekosongan yang mendalam. Saat itu juga aku teringat akan mama. Mama sebenarnya kan lebih tinggi dari A'i. Aku mati-matian mau ikut A'i, seakan bagiku A'i jauh lebih penting daripada mama. Aku lebih ingin ikut A'i dari pada mama. Pikiran macam ini menimbulkan rasa takut akan hukuman dari mama. Mama melihat diriku dengan senyuman/ketawa sinisnya, seakan-akan ingin mengatakan: "ta wa cai si, rasainlah! Sekarang A'i telah pergi dan aku tidak mendapatkan apa-apa lagi. "ta wa cai si ci cun A'i ke lo, rasainlah!" "kum pun to bo eng, co ki na to bo eng, to bo ai tio ka ki e lau bu", "ta wa cai si kum pun tobo eng, co ki na to bo eng to bo ai ceh ka ki e alu bu, rasainlah". Sadis nian dia itu. Senyuman sinisnya membuat aku merasa bersalah dan takut akan hukumannya karena merasa dituduh tidak mau cari mama sendiri melainkan lebih mau ikut A'i, yang berarti lebih mencintai A'i dari pada mam sendiri, anak yang tidak berguna. Aku berhari-hari merasa berdosa/bersalah yang hebat karena merasa dituduh anak yang tidak berguna (bo hau e ka/ anak yang tidak berbakti pada orang tua), lebih mau ikut A'i, yang berarti lebih sayang sama A'i, daripada dia mama sendiri. Senyuman sinisnya aku rasakan sebagai hukuman terhadap diriku karena aku tidak memberi pehatian kepada dia melainkan kepada A'i, lebih mau ikut A'i, yang berarti lebih sayang sama A'i dari pada dia mama sendiri membuat aku merasa bersalah dan berdosa karena aku merasa punya kewajiban mengutamakan mama sendiri. Aku merasa takut Entliebung dari mama sebagai hukuman terhadap diriku yang tidak memberi perhatian kepada dia.
Erstelldatum 02/25/00 11:14

0 Comments:
Post a Comment
<< Home