Beli mie tumpah ditertawakan, bukannya dihibur
24) Beli mie tumpah ditertawakan, bukannya dihibur
· Di rumah dengan perasaan kosong timbul perasaan ingin makan mie. Mie dulu merupakan barang besar bagiku karena selain enak juga harganya termasuk mahal bagi jangkauanku. Membeli sebungkus mie berarti mengeluarkan sejumlah besar uangku. Itu sebabnya aku tanya mama, minta persetujuan mama, apakah aku boleh beli mie atau tidak dan ini dengan uangku sendiri. Mama menjawab dengan begitu tidak senang: "u tam po lui tio cia heng i liau". Aku merasa dituduh punya sifat seperti hua na, sifat yang tidak bisa menyimpan uang, sifat yang tidak pikir panjang. Aku sebenarnya juga merasa sayang untuk mengeluarkan uang tabunganku yang ada semuanya sekaligus. Uang tabunganku ada sekitar Rp 500,- dan harga mie itu tidak pakai telur Rp 350,- dan kue tiau yang pakai telur sampai Rp 400,- . Kalau uang tabunganku aku pakai untuk membeli sebungkus mie maka akan tinggal sedikit hampir tidak berarti. Tapi aku tidak bisa mengurungkan niatku lagi dan mendesak mama supaya menyetujuinya. Akhirnya mama menyetujuinya namun dengan membentak seperti tidak rela menyetujuinya, seperti tidak rela melepaskan aku untuk pergi beli mie. Dia bilang: "ai boi tio ke boi!" Aku mengeluh lagi karena aku tidak percaya penuh bahwa dia menyetujuinya, aku takut nanti disalahkannya kalau aku pergi beli. Nadanya yang membentak dan tidak rela melepaskan aku pergi beli mie membuat aku tidak mempercayai kata ai boi tio ke boi dari dia. Kemudian aku merasa agak pasti setelah dia bilang: "wa sudah ta de kong ai boi tio ke boi ku cai te le cau lagi" Akhirnya aku mengambil sepeda papa dan pergi beli mie.
· Pertama kali aku pergi beli mie. Pertama kali aku mengeluarkan uang sebesar itu. Keputusan yang tidak mudah. Aku pergi beli mie di depan SMP II. Sampai di sana aku bilang dengan rasa gugup mau beli sebungkus mie. Aku melihat penjual mie itu sedang memasak mie untuk seorang anak Tio Ciu yang lebih besar sedikit dariku. Anak Tio Ciu itu ngobrol dengan akrab dengan penjual mie itu. Dia kelihatan bebas, riang dan unbelastet, berbeda sekali dengan diriku yang merasa diri jelek, miskin, kuno dan merasa diri kurang bernilai. Dia tidak merasa minder berbicara dengan orang dewasa, dengan orang yang lebih besar dari dia. Aku merasa minder kalau berbicara dengan orang yang lebih tua dari aku. Ini merupakan akibat dari ajaran mama yang salah serta perlakuannya yang membuat aku merasa kurang bernilai. Mie yang dibuat untuk anak Tio Ciu itu selesai dan tukang mie membungkus mie untuk anak itu. Sebelum selesai membungkus, anak Tio Ciu itu sudah bilang dia minta satu kantong Asoy, padahal kemungkinan besar dia tinggal tidak jauh kerena kenal baik dengan tukang mie dan juga jalan kaki. Anak itu berani menyatakan kebutuhannya sedangkan aku merasa minder. Aku tidak berani meminta kantong Asoy dari tukang mie walau aku memerlukannya karena aku naik sepeda, karena tidak minta dia juga tidak kasih. Aku merasa minder, merasa aku ini orang Hok Kein, orang miskin. Dalam benakku orang tio ciu lebih tinggi tinggkatannya/nilainya: lebih bersih dan lebih punya (kaya), sedangkan orang Ho Kien miskin (tukang kebun/petani) dan jorok.
· Selama menunggu mie yang aku pesan aku merasa tegang dan akhirnya mieku dimask selesai juga. Aku membayar dengan uang ratusan yang ada. Harga mie itu Rp 350,- Aku menyediakan uang ratusan 4 lembar karena aku tahu benar harga mie saat itu. Tukang mie itu tidak memberi aku kantong Asoy. Yang kuterima hanya sebungkus mie yang telanjang dan tergantung pada tali pisang sangat tidak stabil dan bisa tumpah. Tukang mie itu tidak memperdulikan diriku bahwa aku naik sepeda perlu kantong Asoy dan bisa tumpah karena goyangan sepeda. Orang itu memang jahat. Aku tidak berani menyatakan kebutuhanku (akibat dari hukuman-hukuman yang aku terima setiap kali bila berusaha menyampaikan kebutuhanku pada mama. Gangguan ini masih aku rasakan sampai sekarang).
· Aku mengambil mie itu pulang dengan bungkusan yang telanjang tanpa kantong Asoy. Aku merasa malu diketahui kelemahanku tidak berani meminta kantong Asoy pada tukang mie dan malu kalau diketahui aku mendapat kesulitan membawa mie pakai sepeda dengan bungkusan yang telanjang. Segala sesuatu yang kurang atau salah aku rasakan sebagai kesalahanku. Saat aku baru mulai mau jalan, hujan mulai turun. Aku baru saja mendayung beberapa kali hujan mulai turun dan semakin-lama semakin aku rasakan. Aku mendayung dengan cepat, tapi mie yang tergantung bergoyang dengan keras tidak mengijinkan aku berdayung dengan cepai karena takut mie nanti tumpah. Aku mengurangi kecepatan. Tapi hujan semakin lama semakin deras sehingga aku tidak bisa memperhatikan mie yang tergantung di stang. Sampai di dekat jembatan tiba-tiba terdengar suara besar "plak". Apa itu. Ternyata mie-ku hilang dan tertumpah di atas jalan. Aku seperti kena sambar geledek. Tidak mau percaya kalau mie aku tumpah dan aku tidak punya apa-apa lagi. Mie yang tertumpah di atas jalan dengan disertai hujan yang lebat tidak dapat aku selamatkan lagi. Sudah disapu oleh hujan yang lebat. Namun ingin rasanya aku pulang ambil senter dan memutik kembali mie yang tertumpah itu karena uang yang begitu banyak, uang yang aku tabung begitu lama, jerih payahku pergi beli mie dan tunggu lama habis dalam waktu sekejap (keesokan harinya aku kembali ke tempat kejadian sudah tidak ada berkasnya lagi).
· Rasa perih yang amat sangat bercampur rasa takut disalahkan oleh mama aku pulang. Sampai di rumah aku bilang mie-ku tumpah. Aku menangis dan memerlukan dukungan mental dan rasa aman dari mama. Namun mama bukannya menopang perasaanku tapi malah berbuat sebaliknya dia tambah memperdalam luka perasaanku dan tambah memberatkan diriku dengan kata-katanya. Dia ketawa dan bilang: "obi, obi , tio!, tio! ". Dia tambah menghancurkan perasaanku yang sudah sangat terluka. Dia itu sangat tidak manuasiawi. Bebanku menjadi semakin berat hampir tidak kuat aku menanggungnya. Papa juga ketawa, dia tidak merasakan keperihan perasaanku dan juga tidak berusaha menolong aku. Aku merasa ditinggalkan sendirian oleh mereka berdua.
Erstelldatum 02/26/00 18:37

0 Comments:
Post a Comment
<< Home