Friday, November 03, 2006

Ai Abo mencebok pantatku dengan kakinya yang kasar. A'i dan mama mentertawai diriku.

21) Ai Abo mencebok pantatku dengan kakinya yang kasar. A'i dan mama mentertawai diriku.
· Mama sedang mencuci baju. Aku memperhatikan A'i yang berbicara dengan mama. Aku merasa memerlukan mama tapi mama tidak henti-hentinya berbicara dengan A'i dan tidak memperhatikan diriku.
· Aku merasa ingin berak dan bilang sama mama: "ma, wa ai pang sai, ma wa ai pang sai". Aku bilang sama mama bukan karena aku tidak bisa pergi berak sendiri tapi karena aku membutuhkan mama, membutuhkan kontak dan perhatian dari mama. Dia menjawab: "ai pang sai tio ke pang lo". Aku tanya: "na to lo?" Dia menunjukan di sana di saluran air sana, di ujung long kau. Sebelumnya memang aku sering berak di sana tapi daerah itu berbecek dan kotor. Kalau aku berak di sana lagi akan semakin kotor, tapi aku senang berak di sana karena terang dari pada di kakus yang gelap. Aku bertanya 'na to lo', sesungguhnya ingin menyampaikan bolehkah aku berak di sana, diujung long kau itu.
· Sehabis berak aku ingin mama yang menceboki diriku karena dari pengalamanku sebelumnya mama menceboki aku dengan tangannya. Sentuhan tangan mama pada pantatku memberi rasa dia berbuat untukku dan timbul rasa segar (gembira) dan puas setelah mendapatkan sentuhan tangannya. Kebutuhan emosional yang sedikit terpenuhi. Namun kali ini mama tidak datang menceboki diriku. Dia bilang: "ka ki soi, hua tua han lo, ka ki tio o soi". Aku agak kecewa oleh jawabannya itu. Aku membutuhkan sentuhan tangan mama yang menimbulkan /memberi rasa dia berbuat untukku. Aku memanggil dia terus: "ma, ma, ma". Kemudian mama menyuruh A'i Abo untuk menceboki diriku. Suruhan mama pada A'i juga mengecewakan diriku karena aku tidak mengharapkan A'i yang datang melainkan mama. Aku tidak berani panggil mama lagi karena dia sudah suruh A'i. Awalnya A'i tidak mau. Mama menyuruh A'i beberapa kali, kemudian A'i datang juga mau menceboki diriku namun sambil ketawa, tidak ada keseriusan. Aku ingin mama yang datang menceboki diriku namun A'i yang datang mengecewakan sekali bagiku. Aku merasa tersiksa karena tidak bisa menolak. Aku tidak bisa mengatakan pada mama bukan hanya membersihkan kaceng saja yang aku perlukan tapi lebih dari itu, aku membutuhkan perhatian dari mama, ingin merasakan sentuhan tangan mama yang hangat dan ada hati berbuat untuk diriku.
· A'i menyuruh aku mengangkat pantat tinggi-tinggi. Beberapa kali aku menuruti suruhannya, namun posisiku tidak pernah benar bagi dia, sedangkan kalau mama yang menceboki diriku tidak pernah menyuruh aku mengangkat pantat tinggi-tinggi dan tidak sesulit itu. Kemudian ada perasaan aneh yang kasar, gosokan yang kasar di pantatku dan arahnya bukan ke tengah melainkan ke samping ka ceng. Mana bisa bersih kalau begitu caranya, pikirku. Dan sekali aku lihat ternyata A'i menggunakan kakinya. Dia menceboki pantatku dengan ketawa sehingga tidak benar, lama dan serampangan akibat ketawanya membuat gerakan kakinya serampangan. Aku merasa tidak bersih karena dengan kaki selain itu juga kecewa dan merasa terhina karena ditertawai dan dijadikan barang mainan. Aku merasa dianggap enteng, dianggap murah dan tidak bernilai karena cara membersihkan pantatku dengan kaki, tidak serius dan mentertawai diriku, menjadikan aku mainan. Dia terus ketawa dan kemudian diikuti oleh mama membuat aku merasa bersalah, takut dan verwirrt karena tidak mengerti mengapa mereka mentertawai aku sedemikian rupa. Padahal mereka adalah orang pertama dan kedua bagiku. Karena takut dan verwirrt aku berlari masuk walau merasa tidak bersih dengan cara A'i mencebok diriku itu namun aku tidak berani minta dicucikan lagi / dicebok secara benar karena aku takut disalahkan akibat ketawa A'i yang terbahak-bahak seolah-olah aku ini berbuat yang salah besar. Dan yang menyakitkan sekali adalah sikap mama yang jadi mengikuti A'i mentertawai diriku dan mendukung A'i ikut tertawa terbahak-bahak walaupun tidak sekeras ketawa A'i. Mereka seperti jadi sepakat dan saling mengerti sehingga saling mentertawai diriku. Aku verwirrt karena tidak mengerti apa maksud mereka metertawai aku sedemikian rupa. Aku hanya merasa diriku disudutkan oleh mereka. Aku merasa mereka menganggap aku ini tidak berguna sehingga sepakat mentertawai diriku. Aku berlari masuk dan di dalam sampai terduduk karena shock karena merasa takut dipojokan akibat diriku ditertawai sedemikian rupa oleh dua orang besar yang sangat penting bagi hidupku. Aku merasa mengapa diriku ini begitu tidak diinginkan, sampai aku menangis. Namun aku berusaha menahan tangisanku karena malu dan takut kalau sampai ketahuan mereka.
Erstelldatum 03/04/00 13:31

0 Comments:

Post a Comment

<< Home