7) Mengajak aku ke kamar mandi
7) Mengajak aku ke kamar mandi
· Aku sedang bermain-main di belakang di antara kamar mandi dan sumur dengan maksud dekat dengan mama yang juga ada di belakang. Tanpa kusangka aku mendengar suara ajakan mama untuk ikut dia. Sama sekali diluar dugaanku dia mau mengajak aku. Biasanya bila aku mau ikut saja dia tidak suka. Mengharapkan dia yang mengajak, sama sekali diluar dugaan. Dia bertanya: "ai te mai, ai te mai, kin lai a!" "ai te tio kah kin a!" Dia mendesak dengan tidak sabar. Seperti biasa dia selalu tidak sabar. Aku tidak mengerti dia itu mau apa, tapi kalau aku tidak segera menerima akan kehilangan kesempatan ini, yang sangat langka. Aku juga selain tidak mengerti dia mau ajak aku ke mana atau mau apa juga merasa heran bukankah biasanya dia paling tidak menginginkan aku ikut dia, sekali ini kok malah dia yang mengajak. Ada apa gerangan. Herannya ajakan mama itu ke kamar mandi, sangkaanku mau ajak aku jalan-jalan.
· Setelah masuk kamar mandi pintu ditutup. Mama segera membentak menyuruh aku berdiri dekat pintu. Aku tidak mengerti mengapa membetak aku begitu, bukankah dia sendiri yang mengajak aku ikut dia mengapa lantas tidak senang. Aku tidak menuruti suruhannya karena aku tidak mengerti dia mau apa sesungguhnya. Namun ada persaaan takut diriku disalahkan. Mama membuka baju tinggal kutang dang celana dalam. Dia kemudian naik ke giam ban (kakus). Pandanganku mengikuti dia, melihat apa yang mau dia lakukan dengan mengajak aku. Dia menyuruh aku dengan nada kasar berdiri agak jauh dari dia dengan tempat yang ditunjuk oleh dia dan menyuruh aku menghadap ke tempat lain. Kalau aku menoleh ke tempat dia diriku dibentak. Kemudian dia menurunkan celana dalamnya dan kelihatan pantat yang bagiku sebagai anak kecil sangat besar, lalu jongkok untuk berak. Melihat kejadian ini aku dalam bayangaku melihat beberapa ekor kuda dengan kereta kudanya, untuk meringankan diriku dari kejadian ini yang sesungguhnya mengerikan dan sangat memberatkan karena tidak dapat dimengerti. Seorang mama yang mulia berbuat begitu di hadapan anaknya, buka celana dalam dan jongkok berak di hapan anaknya. Mengajak aku untuk melihat aksinya yang sedemikian jorok, sedemikian tidak pantas dan tidak masuk akal sebagai seorang mama mengajak anaknya untuk ikut dia berak telanjang. Aku merasa kecewa karena ajakannya bukan untuk jalan-jalan tapi menunggu dia berak, untuk apa sesungguhnya ajakan dia itu aku tidak mengerti. Setelah bayangan kuda berlalu aku menoleh ke arah dia dan dia membentak aku menyuruh aku menoleh ke arah lain. Aku jadi takut dia menuduh aku yang bukan-bukan, sepertinya mau mengintip dia. Sehabis berak dia mencebok dan mengenakan kembali celana dalamnya dan turun dari giam gan. Kemudian dia menanggalkan kutangnya. Aku berdiri di dekatnya dan melihat ke arah dia. Sebelum menanggalkan celana dalamnya dia membentak aku supaya berdiri di tempat yang ditunjukan. Bentakannya membuat aku gugup/bimbang menyuruh aku melihat ke arah lain, membalikan muka menjauhi dia. Dia dengan kasar menyuruh aku tegak paling ujung tempat biasaya papa dan aku kencing dengan pandangan menghadap ke tembok yang bau kencing dan kotor. Begitu tidak berperasaan terhadap diriku. Memperlakukan diriku bagaikan sampah. Aku tidak mau mengikuti kehendaknya karena begitu tidak menyenangkan dan seperti orang hukuman saja. Apa salahku. Diriku didesak terus secara keras untuk berdiri di tempat bau kencing itu tapi aku tetap tidak mau. Dia terus mendesak aku berdiri menjauhi dia dan menghadap ke arah lain. Akhirnya aku berdiri di samping bak mandi menjauhi dirinya. Dia terus mendesak untuk berdiri lebih ke dalam, lebih jauh dari dia tapi aku tidak mau sebab lebih ke arah dalam lebih kotor. Aku merasa seperti kena hukuman 'tegak' di sekolah (kelas satu SD). Dia menjaga ketat diriku jangan sampai melihat bagian bawah tubuhnya yang telanjang (cibainya). Melihat aku memandang ke arah dia. Dia membentak dengan nada dan ketawa yang getek. Sambil mandi sambil menghalau diriku yang melihat ke arah dia dengan bentakan yang bernada getek. Aku merasakan perasaan aneh, dia adalah mamaku namun tidak mempunyai perasaan seorang mama terhadap diriku tapi malah punya perasaan getek. Bukankah aku anaknya sendiri. Mengapa berlaku begitu terhadap diriku getek dan menghalau. Bukankah dia sendiri yang mengajak aku ikut.
· Karena kau tidak mau merasa seperti orang hukuman aku tetap berdiri meghadap kearah dia. Aku kena bentak lagi. Mama mandi telanjang dan terlihat olehku tubuhnya yang terbuka namun tidak ada perasaan getek terhadap mama melainkan ada perasaan ingin tahu bentuk tubuh bagian bawah dari perempuan itu seperti apa. Melihat aku mengarahkan pandangan ke bagian bawah tubuhnya dia membentak keras dan deras menyuruh aku berdiri agak masuk dan melihat ke arah lain. Aku tetap berdiri di tempat semula dengan pandangan ke arah dia karena betapa tidak menyenangkan menunggu dia mandi dengan melihat ke arah tembok. Melihat posisiku tidak berubah dia memaksa aku minggir ke arah pintu. Saat aku didorong untuk pindah tempat, aku sempat melihat tubuhnya yang telanjang secara menyeluruh. Bagian atas punya dua nenen (susu) yang besar itu bagiku sudah biasa. Ke arah bawah pinggul yang sangat besar dengan paha yang sangat besar, tubuhnya putih sekali dan bagian bawah yang seharusnya merupakan tempat lanciau hanya merupakan lapangan datar dan tidak punya apa-apanya. Hal ini membuat aku takut akan makhluk dari planet lain yang merupakan mamaku. Seandainya dia dapat memberikan perasaan seorang mama padaku maka perasaan takut itu dapat lenyap. Orang yang dulunya merupakan mamaku yang lanciaunya terpotong hilang. Aku tidak ingin menjadi wanita karena mengerikan. Kini aku lihat mama sebagai makhluk asing dari planet lain dan tidak punya rasa diriku sebagai anaknya bahkan seakan ada tuduhan terhadap diriku bahwa aku mau getek terhadap dia membuat aku semakin takut kalau nanti malam dia mengadu papa bahwa aku kecil-kecil sudah mau getek terhadap dia.
· Aku merasa ngeri dan takut dengan mahkluk dari planet lain yang sebelumnya merupakan mamaku. Selain itu dalam benakku bentakan-bentakan dari mama membuat aku merasa takut nanti malam bila papa pulang mama akan mengadu papa bahwa aku mau getek terhadap dia dan aku juga merasa takut dan malu kalau mama Aguan tahu aku ada di dalam kamar mandi bersama mama yang telanjang, dia akan mencemooh aku berbuat tidak senonoh terhadap mama sendiri yang telanjang. Dan situasi ini akan lebih menakutkan lagi kalau dia bercerita pada tetangga yang lain bahwa Ace anak yang tidak senonoh mau melihat mamanya yang telanjang di dalam kamar mandi.
· Aku merasa takut paha yang besar dan bagian bawah yang rata dan tidak punya apa-apa itu adalah mamaku. Karena takut justru mendorong aku untuk melihat lebih jelas lagi dengan menoleh ke belakang. Reaksiku diperhatikan oleh mama. Dia membentak aku supaya menghadap ke depan menjauhi dia. Kemudian karena penasaran aku mencoba lagi baru saja kepala aku bergerak ke belakang sedikit sudah dibentak oleh dia. Aku dipaksa bediri sungguh dekat dengan pintu dengan pandangan menghadap ke pintu. Kelihatan sekali bahwa dia punya pikiran aku ini mau melihat ke arah bagian bawahnya (cibainya) sehingga aku dibentak dan didorong ke arah pintu dengan muka menghadap ke pintu menjauhi dia. Aku merasakan diriku sebagai orang hukuman. Aku merasa tersiksa karena tidak dapat bergerak. Seharusnya dia tahu kalau mengajak aku ikut dia mandi pastilah tubuhnya yang telanjang yang berarti juga tubuh bagian bawahnya yang telanjang akan terlihat olehku. Aku tidak tahan lagi karena berdiri tidak bisa bergerak dengan wajah menghadap ke pintu. Aku merasa tersiksa dan ingin ke luar dari kamar mandi karena bukanlah tempat yang menyenangkan seperti ajakannya. Aku mengeluh ingin keluar. Dia merasa tidak senang, "tan ci ban nia" bentaknya. Pikiranku kan dia bisa membuka pintu sebentar/sedikit supaya aku dapat keluar. Aku dengan keadaan ini sudah tidak tahan menunggu lagi. Kalau aku harus tunggu berapa lamma lagi. Dia menjadi tidak senang dan marah dan membentak: "tan ci ban nia boi hiu tia yo!"
· Sehabis mengeringkan rambut dan tubuhnya dia berkata:"ho lo, cok ke!" Nadanya kasar berang dan merasa tidak senang terhadap diriku. Aku keluar dan menantikan dia memenuhi janjinya memberikan kebahagiaan padaku (mengajak aku jalan-jalan). Aku melihat dia keluar dan pergi begitu saja tanpa menunjuan rasa ingin memperhatikan diriku. Bagiku dia menjanjikan sesuatu pada diriku dengan ajakannya dan aku telah menunggu setengah mati di dalam kamar mandi. Aku ingin memperoleh yang aku tunggu. Aku memanggil dia "ma" , "ma", mengharapkan dia datang padaku dan memenuhi janjinya. Dia menghampiri diriku dan bertanya : "an cua, an cua" kemudian mau pergi lagi. Aku memanggil lagi dan dia berhenti. Aku mengeraskan suara baru dia datang menghampiri dan bertanya dengan nada tidak senang: "an cua, an cua!" kemudian pergi lagi.
· Ketiga kalinya aku memanggil dia lagi dan kali ini disertai rasa takut dia akan menghukum/memukul aku. Kali ini dia sungguh-sungguh ingin pergi habis tidak mau tahu lagi apapun reaksiku. Kalau dia sudah masuk ke dalam rumah, akan habislah harapanku, dia tidak bakalan lagi datang pada diriku. Aku berusaha menahan dia sekuat tenaga agar dia jangan sampai pergi. Dia datang padaku sambil bertanya: "ai an cua!" dan dengan wajah yang murka seperti mau menerkam diriku. Aku merasa sangat takut, sudah pasti akan kena pukul karena dia menganggap aku ini tukang kacau. Untung dia mengenakan handuk membuat dia tidak bisa memukul aku karena handuknya bisa lepas, kemudian dia berbalik dan masuk ke rumah meninggalkan aku. Sama sekali buta dengan kebutuhan anaknya. Dia itu jahat sekali.
Erstelldatum 02/16/00 18:10

0 Comments:
Post a Comment
<< Home