Friday, November 03, 2006

8) Mendorong pintu kamar mandi

8) Mendorong pintu kamar mandi
· Melihat mama mau pergi mandi aku ingin ikut ingin merasa diterima oleh dia dengan cara dekat dengan dia. Tapi kalau aku bilang mau ikut dia mandi pasti ditolak, pasti reaksinya akan kasar dan tidak mau kasih aku ikut. Perasaanku hahwa permintaanku untuk ikut dia pasti akan ditolak karena kejadian kemarin dia murka, marah dan tidak senang terhadap diriku. Supaya dapat ikut dia aku mengintai, mengamati dia yang berjalan memasuki kamar mandi. Aku bersikap hati-hati supaya pengamatanku tidak diketahui oleh dia. Aku menunggu sampai pintu kamar mandi mau ditutup oleh mama baru aku akan segera berlari masuk dengan begitu pikirku dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau aku sudah ada di dalam.
· Saat yang aku tunggu dengan perasaan tegang sudah tiba. Mama mulai menutupi pintu dan aku segera berlari kencang ke arah dia supaya aku dapat masuk ke kamar mandi dan karena dia sudah mau menutup kamar mandi pikirku dia tidak akan mengurungkan niatnya lagi untuk mandi dan keluar dari kamar mandi sebelum selesai mandi dan karena aku sudah ada di dalam dia tidak bisa mengeluarkan aku lagi. Tapi apa yang terjadi sangat diluar dugaanku. Mama dengan reflex segera balas mendorong. Tenaganya sangat kuat dibanding dengan tenagaku seorang anak yang masih kecil. Aku merasa begitu lagi (perasaan sangat terluka saat itu aku rasakan), setiap kali aku mau mencari dia selalu ngi (denki) menolak diriku, selalu tidak mau menerima diriku. Aku merasakan betapa setiap kali memerlukan dia pasti selalu ditolak. Sikapnya itu sangat menyakiti diriku, sangat melukai perasaanku. Aku berusaha balas mendorong dengan sekuat tenaga (disatu pihak ingin melampiaskan keinginanku, dilain pihak sudah merasa sangat kecewa oleh sikapnya). Doronganku walau kulakukan dengan sekuat tenaga tidak ada hasilnya karena tenaganya jauh melampaui tenagaku seorang anak kecil. Selain itu gairah untuk ikut dia juga sudah hilang. Orang yang kuharapkan menerima aku, tapi yang aku dapat justru sebaliknya melukai diriku dengan kejam. Yang timbul adalah perasaan takut dan tidak mengerti. Tidak mengerti karena bukankah baru saja kemarin dia sendiri yang mengajak aku untuk ikut dia sekarang bisa berubah total. Dorongan balasan disertai perasaan cabulnya yang muncul dalam ketawa atau senyuman cabulnya membuat aku merasa takut dia menuduh aku mau getek terhadap dirinya karena mau mencoba melihat tubuh bagian bawahnya (cibainya) lagi. Pikiran ini sebagai akibat dari reaksinya yang genit yang membuat aku merasa takut.
· Karena merasa dicap mau getek terhadap dia akibat dorongan balasan dan disertai perasaan/ketawa cabul aku merasa takut dan menjadi malu kalau sampai kejadian ini terlihat oleh mama Aguan dan mama A'Ong. Aku merasa sangat takut dan sangat terjepit kalau kejadian ini dilihat oleh mama Aguan dan kemudian menceritakannya pada A'mm dan tetangga-tetangga lain tentang kelakuanku terhadap mama sendiri. Dan mama sendiri yang balas mendorong seakan mau melindungi diri dari upayaku berbuat getek terhadap dia. Dengan dorongan balasannya yang sekuat tenaga menghalua diriku dan ketawa getekbnya membuat aku punya pikiran bahwa pikiran mama itu menganggap aku mau getek dengan dia.
· Aku kemudian mendorong beberapa kali sekedar melampiaskan rasa kecewa dan sudah tahu tidak akan berhasil melampaui tenaganya yang jauh lebih besar dari diriku. Aku kemudian pergi melepaskan dorongan itu, pergi ke arah samping ke arah (koi tiau) kandang ayam. Sambil berjalan pergi meminggir diriku dikuasai oleh perasaan takut yang amat sangat. Diriku dikuasai oleh bayangan wajah mama yang balas mendorong/menghalau diriku dengan sekuat tenaga dengan disertai ketawa/senyum cabul dan getek menimbulkan kesan bahwa dalam pikiran dia itu aku ingin datang getek terhapat dia, ingin datang melihat bagian cibainya, bagian tubuh bawahnya. Perasaan seorang mama terhadap diriku dari dia tidak ada sama sekali, yang ada cuma perasaan genit dan geteknya terhadap diriku. Bayangan-bayangan dalam benakku seperti film yang diputar, dia senyum genit di dalam kamar mandi sambil memikirkan Ace ini kecil-kecil sudah mau getek terhadap dia, seorang anak kecil yang mau getek terhadap orang dewasa dan aku adalah anaknya sendiri yang mau getek terhadap mamanya sendiri. Aku dikuasai oleh rasa takut yang amat sangat dan rasa malu yang amat sangat dan merasa diriku kotor dan buruk. Perasaan buruk ini muncul akibat diriku yang selalu tidak diinginkan oleh dia. Dari situ timbul perasaan jarak dengan dia. Aku merasa tidak punya mama lagi karena dia telah mempunyai gambaran yang buruk mengenai diriku, gambaran diriku yang masih kecil sudah mau getek terhadap dia. Aku merasa dia sudah tidak mau/menginginkan diriku lagi dan aku merasa takut akan hukuman dari dia. Menghukum aku karena mau berbuat getek terhadap dia. Aku merasa diriku kotor dan merasa dia akan menganggap aku ini anak yang kotor sehingga tidak mau menerima aku lagi karena kecil-kecil sudah mau getek terhadap dia.
· Akibat bayangan ketawa genitnya dalam kamar mandi saat balas mendorong pintu kamar mandi dengan sekuat tenaga membuat aku merasa diriku ini kotor akibat permainan sexual (perasaan genit dan getek dari mama terhadap diriku). Kelakuannya yang genit saat membalas doronganku itulah yang membuat aku merasa dia mempunyai pikiran aku ini kecil-kecil sudah mau getek terhadap dia, terhadap orang dewasa, terhadap mama sendiri. Hal ini membuat aku takut dan malu memandang ke arah wajahnya, takut bertemu pandang dengan dia / takut ketemu matanya yang bagiku bersisi tuduhan dari dia bahwa aku kecil-kecil sudah mau getek terhadap dia.
· Dia kemudian keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya, kemudian setelah agak dekat dengan diriku dia mengulurkan tangannya dan berkata: "ai lai mai, ai lai mai" Aku tidak mengerti maksudnya mau apa surah aku datang pada dia, mau kasih aku apa atau mau buat apa. Juga timbul perasaan aneh mengapa sekarang tiba-tiba memanggil aku bukankah sebelunya menolak aku dengan keras. Namun panggilannya juga bukanlah panggilan yang lembut tapi dengan suara yang setengah ditekan, jadinya setengah membentak. Panggilan dengan nada yang setengah dipaksakan. Aku merasa takut untuk melihat ke arah wajahnya dan bertemu pandang dengan dia karena bagiku pandangan matanya berisi tuduhan terhadap diriku bahwa aku ini kecil-kecil sudah mau getek terhadap dia. Pikiran ini juga membuat aku malu dan takut untuk melihat ke arah matanya dan membuat aku merasa punya jarak terhadap dia.
· Kejadian ini mebuat aku selalu curiga orang menuduh aku kotor mau kecil-kecil sudah mau berlaku kurang ajar terhadap mamanya sendiri. Ini membuat perasaankuku sangat gampang terluka ditambah lagi aku selalu dianggap 'pai si' oleh mereka (mama dan A'i), dikatain selalu mengganggu. Papa juga sering memarahi aku dan mempersalahkan diriku membuat aku merasa selalu tidak benar tapi tidak mengerti dimana letak kesalahanku. Sekarang kalau aku dikritik sedikit saja menjadi sangat gampang meledak sebagai reaksi dari diriku yang selalu disalahkan dulunya namun tidak dapat mengerti mengapa aku selalu tidak benar bagi mereka dan dimana letak kesalahanku.
Erstelldatum 02/18/00 12:22

0 Comments:

Post a Comment

<< Home