Friday, November 03, 2006

Minta korek kuping, rambut/kepalaku dicengkram dengan rasa benci

13) Minta korek kuping, rambut/kepalaku dicengkram dengan rasa benci
· Aku melihat Aheng berbaring di pangkuan mama dengan nyaman. Mama dengan ada hati mengorek kuping Aheng. Melihat yang diperoleh Aheng itu aku mau juga. Selama ini aku tidak pernah merasakan sikap yang lembut seperti itu dari mama dan aku sangat merindukannya dan aku merasakan kebutuhanku itu. Aku tidak bisa menyampaikan kebutuhanku karena aku tidak pernah belajar dari mama maupun dari papa bagaimana caranya menyampaikan kebutuhanku. Aku hanya bisa mengeluh sebagai cara untuk menyampaikan kebutuhanku, ingin merasakan yang Aheng rasakan. Aku mengeluh: 'ma, ma'. Mama bertanya: "an cua?", "an cua ?" Aku tidak berani menjawab bahwa aku ingin disayangi seperti dia menyayangi Aheng, bersikap lembut kepada Aheng, sikap seperti itu yang ingin aku rasakan. Aku tidak berani karena aku tidak pernah mengenal hal-hal yang menyangkut perasaan sebab bagi mama itu tidak ada, kalau adapun dianggap cengeng. Aku tidak bisa menyampaikan kebutuhanku secara langsung karena aku tidak pernah belajar dari mereka. Akhirnya aku bilang: "ai kau hi nga", sebagai pengganti dari kebutuhanku yang sesungguhnya. Belum melihat kupingku dia sudah membentak: "bo hi sai la !", "bo hi sai la!". Dia tidak menyukai kedatanganku karena kedatanganku dirasakannya sebagai gangguan. Aku merasa kcewa dan mendesak terus. Dan dia terus menjawab dengan rasa tidak senang: "bo hi sai la !", "bo hi sai la!", "wa ta de kong bo hi sai tio bo hi sai." Namun aku mendesak terus karena kebutuhanku tidak bisa aku elakan.
· Karena desakanku yang terus-menerus akhirnya dia meminta Aheng bangun dan tunggu sebentar. Dia dengan kasar menyuruh aku menyodorkan kepalaku, begitu tidak menyenangkan bagiku ditambah lagi dengan sikapnya yang kasar dan tidak menyukai diriku. Aku diperlakukan seperti sampah dan bagi dia diriku hanya merupakan pengganggu. Aku merasa terhina. Aku tidak mau dikorek kuping dengan cara begitu. Apalagi yang aku inginkan sesungguhnya berbaring nyaman di pangkuannya dan disayangi oleh dia, mendapat perlakuan yang lembut dan rasa yang menerima dari dia. Bukan perlakuan yang kasar dan menolak.
· Akhirnya dia menyuruh aku baring. Aku segera berjalan ke samping kanannya dan dia meletakan tubuhku dengan punggung ke atas seperti dengan membungkuk. Posisi begini bukanlah posisi yang aku inginkan karena tidak nyaman. Posisi yang tidak nyaman, tidak seperti yang Aheng peroleh dan sikapnya kasar dan tidak menyukaiku membuat aku tidak bisa berbaring dengan nyaman dan terlepas/entspannt seperti Aheng. Bentakan-bentakannya membuat aku tambah gugup dan takut. Aku tidak merasakan kenyamanan. Diri mama yang tidak sabar dan bentakan-bentakannya membuat aku kecewa sebab yang aku harapkan sama sekali tidak aku peroleh. Dia bilang: "to bo hi sai", "to bo hi sai". Dia kemudian menyuruh aku membalikan tubuh untuk melihat telingah sebelah lain. Melihat sebentar dia bilang sudah bilang: "to bo hi sai", "to bo hi sai" dan menyuruh aku pergi. Aku belum mau pergi karena yang aku butuhkan belum aku peroleh. Kemudian dia mengorek kupingku sekedarnya dan bilang: "ho lo !" Dia ingin supaya aku pergi dari dia. Tapi aku masih tidak mau pergi karena yang aku inginkan belum aku peroleh dan aku mengharapkan perlakuan yang baik dari dia, mengharapkan yang kubutuhkan dipenuhi oleh dia. Yang aku inginkan sesungguhnya belaian kasih dan ini tidak aku dapatkan dari dia dan aku ingin menuggu sampai aku mendapatkannya. Karena aku belum mau pergi dia menjadi panas dan geram. Dia mencengkram rambutku dan menggoncang-goncangkan kepalaku dengan geram dan penuh rasa benci. Aku menangis dan takut, lantas berdiri pergi dari dia.
· Kemudian dia meminta Aheng datang dengan punya hati dan Aheng berbaring di pangkuannya lagi dengan nyaman. Melihat itu terasa sangat perih perasaanku. Disatu dia menerima Aheng dengan ada hati dan keinginan, dilain pihak diriku diperlakukan bagai barang kotor/kasar dan tidak diinginkan. Mama sangat melukai perasaanku. Aku melihat kejadian itu merasa sakit hati sekali, perasaanku perih sekali dan aku mulai menangis lagi. Dia mempersalahkan aku dan mengejek aku: "de kua yo, tampo-tampo tio boi coi", "tampo-tampo tio boi coi". Dia membuat aku merasa punya sifat yang buruk dan membuat aku malu karena aku merasa dicap iri hati terhadap Aheng, merasa dicap busuk hati karena saat itu aku merasakan rasa benci kepada Aheng yang mendapatkan penerimaan dari mama sedangkan aku tidak. Aku merasa diriku ini kotor, kasar, buruk, busuk hati maka diriku tidak diinginkan oleh dia.
Erstelldatum 02/20/00 17:43

0 Comments:

Post a Comment

<< Home