Friday, November 03, 2006

Mama dengan rambut pendek, berbaju kembang, sikapnya kasar nian dan menolak ketika aku mau dekat dengan dia

18) Mama dengan rambut pendek, berbaju kembang, sikapnya kasar nian dan menolak ketika aku mau dekat dengan dia
ยท Mama baru saja potong rambut. Rambutnya sekarang jadi pendek dan dia sehabis mandi mengenakan baju lengan pendek yang berkembang. Rambut yang baru dan bentuk wajah yang agak berbeda dengan sebelumnya disertai pancaran wajah yang tegang dan memusuhi dan mengenakan baju yang belum pernah aku lihat sebelumnya membuat aku jadi agak gelisah, takut mamaku berubah. Aku ingin punya mama yang seperti sebelumnya, seperti sebelum dia pergi gunting rambut, yang wajahnya tidak seperti sekarang keras, dingin dan memusuhi. Aku kemudian memanggil dia karena aku memerlukan seorang mama dan ingin mendapatkan kepastian walau paras wajahnya yang agak berbeda dengan sebelum rambutnya dipotong dan dengan baju yang aku rasakan asing dia tetap tidak berubah dan tetap merupakan mamaku seperti hari-hari sebelumnya. Aku memanggil dia: "ma, ma, ma", namun panggilanku tidak dijawab. Diriku tidak digubris, diriku diabaikan begitu saja, tidak dilayani, tidak dirasakan aku ini ada. Pancaran wajahnya tidak menyenangkan seperti mau murka dan memusuhi. Sikapnya yang tidak memperdulikan panggilan-panggilan diriku. Pancaran wajahnya yang seperti menghadapi musuh dan dirinya yang merasa terganggu oleh panggilan-panggilanku membuat aku merasa diriku tidak disukai. Panggilan-panggilanku tidak dijawab, diriku tidak digubris. Dia berjalan menuju ke belakang dan aku mengikutinya ke belakang dengan rasa kecewa karena diriku tidak digubris. Aku takut dia sekarang telah berubah, bukan mamaku lagi. Aku memerlukan kepastian bahwa dia tetap merupakan mamaku. Di belakang aku memanggil dia lagi: "ma, ma, ma", namun diriku tidak digubrisnya. Sikapnya kasar, dingin dan pancaran wajahnya memusuhi, sangat tidak menyenangkan. Aku menanti-nanti mengharapkan jawaban dari dia tapi panggilanku tetap tidak digubris. Dia tidak memperdulikan diriku yang memanggil dia dan berjalan kembali ke depan seakan aku ini tidak ada bagi dia. Diriku ini seperti tidak ada nilai bagi dia, tidak dihitung oleh dia. Di depan aku panggil dia lagi namun dengan menahan rasa takut karena panggilan-panggilanku yang terus-menerus akan membuat dia merasa terganggu dan suatu saat dia akan murka dan memukul aku. Memang benar dia mulai marah: "an cua la!" Dia membentak diriku. "te le ka ciau bae !" Dia merasa terganggu oleh panggilan-panggilanku dan menganggap aku ini tukang kacau. Kebutuhanku bukannya mendapat pemenuhan namun mendapat hukuman, diriku dimarahi, diriku disalahkan, dia merasa tidak senang dengan kehadiranku, diriku dicap sebagi pengganggu. Aku tidak berdaya menghadapi sikapnya yang kasar dan memusuhi aku itu. Panggilan-panggilanku terpental kembali seperti menabrak tembok.
Erstelldatum 02/28/00 16:30

0 Comments:

Post a Comment

<< Home