Friday, November 03, 2006

Menyuruh A'i Abo memukul aku

15) Menyuruh A'i Abo memukul aku.
· Sampai di rumah Ama aku melihat mama masih tetap menggendong Aheng. Aheng tenang dalam pangkuan mama. Aku membutuhkan mama. Ingin mama juga sayang sama aku, punya hati dan rasa riang sama diriku. Aku merasa tidak tahan karena sampai di rumah Ama diriku tetap diterlantarkan. Harapanku setelah sampai di rumah Ama dia akan memperhatikan diriku. Itu sebabnya aku memanggil mama. Ingin dia memberikan perhatiannya kepadaku.
· Mama bertanya dengan rasa sangat tidak senang karena merasa terganggu dan mukanya berang "an cua ?!", ai si mi !?". Sikapnya yang kasar dan berteriak mengecewakan diriku. Bukan sikap demikian yang kukehendaki tapi sikap yang punya hati, yang lembut, yang ada rasa menghargai diriku, merasakan aku ini penya nilai. Sikapnya yang kasar dari mama itu seperti aku ini nichts, tidak ada nilai. Dia kemudian menyuruh A'i mengurusi aku. "Bo ke kua i Bo, kua i ai si mi". A'i datang sebentar padaku dan bertanya sebentar 'ai si mi'. Tunggu sebentar namun aku tidak menjawab karena aku tidak memerlukan sesuatu dari A'i. Yang aku perlukan adalah mama. Perhatian dan kasih sayang dari mama. Aku tidak menjawab, dia pergi lagi.
· Aku memanggil mama lagi karena aku sangat membutuhkan mama. Dia menyuruh A'i datang melihat lagi. A'i menjawab bahwa dia sudah datang melihat aku, tapi tidak ada apa-apanya. Awalnya A'i enggan datang melihat diriku lagi. Mama terus-menerus mendesak A'i untuk datang lagi melihat apa yang aku inginkan . Kemudian A'i datang dengan rasa terpaksa dan bertanya padaku mau apa. Aku tidak mengharapkan kedatangan A'i sehingga aku tidak menjawab pertayaannya. Yang aku perlukan hanya mama yang bisa memenuhinya. Dia berhenti agak lama kemudian pergi lagi dengan wajah yang menjadi agak marah merasa terganggu. Dia bilang sama mama tidak ada apa-apa: "wa sudah ta de kong to bo an ncua, to bo an ncua." Mama bertanya: "bo an cua, an ncua i tiam-tiam chau?" A'i menjawab: "Ki na kua lan a".
· Aku memanggil mama lagi karena aku sangat membutuhkan mama. Dia marah dan tidak senang kepadaku. Wajahnya semakin marah dan pancaran wajahnya memusuhi dan berang. Dia menyuruh A'i memukul aku: "ta i pa Bo", "ta i pa Bo","ta i pa Bo". Suruhannya yang terus-menerus dan mendesak membuat A'i jadi panas dan mulai bergerak untuk mengambil rotan memukul diriku. Aku melihat gelagat yang buruk menjadi takut dan berlari ke kamar mandi menyembunyikan diri di balik pintu. Kalau A'i datang pasti merupakan ancaman bahaya yang besar bagiku.
· A'i mengejar aku juga walau aku sudah lari pergi dia. Dengan mudah dia menemukan aku yang ketakutan dan bersembunyi di balik pintu kamar mandi. Dia menyebat aku dengan rotan, lebih kuat dan lebih perih dari sebatan mama. Dia melampiaskan seluruh amarahnya terhadap diriku. Dia menyebat aku sampai amarahnya habis tersalurkan, sampai dia merasa puas baru kemudian meninggalkan aku.
· Aku merasa diriku ini selalu salah, diriku ini jelek, diriku ini tidak pernah benar baru begitu tidak disenangi dan tidak diinginkan oleh mereka. Aku merasa malu karena aku merasa diriku yang bersalah. Aku ini lebih tua namun jelek (boi hiau ntia oi) sedangkan Aheng baik sehingga diterima oleh mama. Aku ingin berusaha sebisa mungkin supaya suatu saat bisa diterima oleh mereka.
· Aku tunggu agak lama di belakang. Aku menunggu-nunggu, apakah mereka masih marah dan A'i masih akan datang memukul aku lagi. Aku tidak berani masuk karena malu dan takut. Namun aku tidak bisa di belakang terus. Setelah menunggu agak lama suasana terasa agak tenang aku memberanikan diri untuk masuk. Dalam diriku aku masih mengharapkan penerimaan mereka. Namun aku merasa malu dan punya rasa jarak dengan A'i. Sedangkan mama masih mengomel tidak puas walau diriku sudah dipukul oleh A'i sedemikian rupa. Aku masih takut kalau-kalau dia mempersalahkan aku lagi, kemarahannya bangkit lagi dan menyuruh A'i atau dia sendiri yang langsung memukul aku. Aku pergi meninggalkan mereka keluar melalui pintu samping dengan perasaan yang neorotis.
Erstelldatum 03/01/00 17:09

0 Comments:

Post a Comment

<< Home