A'i Abo datang mengatakan/menyinggung Ace anak Eng Sun
12) A'i Abo datang mengatakan/menyinggung Ace anak Eng Sun.
· Aku mendengar suara orang datang dari luar: Mama bilang A'i datang. Aku juga menduga pasti A'i yang datang. Aku melompat dengan sangat gembira dan bersorak dengan suara gembira yang keras: "A'i lai lo", A'i lai lo". Aku melepaskan seluruh suaraku dan sebenarnya aku juga merasa suara teriakanku terlalu keras. Sebenarnya tidak apa-apa. Tapi kemudian aku mendengar suara mama: " Mai ha ni kuan tua nsia", mai ha ni kuan tua nsia". "tio ha ni kuan hua hi". Nada yang terakhir ini membuat aku malu seketika karena bernada menjelekan/meremehkan. 'Tio ha ni kuan hua hi' seakan kegembiraan yang besar dariku itu negativ. Aku terdiam seketika dan kegembiraanku juga lenyap seketika. Yang muncul rasa malu yang hebat dan rasa telah berbuat yang salah lagi. Karena diriku ini selalu salah dan mama simbol seorang yang selalu benar membuat aku merasa telah berbuat yang salah lagi dan menjadi malu dengan teriakan-teriakan gembiraku. Aku merasakan kesepian yang mencekam dan menderita rasa bersalah yang hebat karena ingat akan suara-suara teriakanku yang keras.
· A'i masuk dengan wajah senyum biasa tidak segembira diriku yang mengetahui kedatangannya. Biasa-biasa saja dan tidak menghampiri diriku yang begitu gembira akan kedatangannya. Diriku begitu rindu akan perhatian. Untuk menarik perhatian A'i aku naik 'kau i nga' kursi endep yang besar dan berat karena terbuat dari kayu bulian, sedangkan yang lebih endep dan ringan aku anggap sebagai milik Aheng. Bagiku kursi itu merupakan simbol mobil gerobak /truk besar yang merupakan simbol laki-laki dewasa yang gagah. Aku merasa gagah mengendarai mobil truk besar itu dan ingin menunjukan pada A'i bahwa diriku ini laki-laki yang gagah dan kuat karena mobil truk merupakan simbol sesuatu yang kuat.
Gesekan kursi endep itu pada lantai menimbulkan suara yang amat keras dan sangat tidak menyenangkan bagi telinga. Mama menyuruh aku berhenti namun aku tetap mendorong terus karena dorongan untuk mendapatkan perhatian teramat kuat dalam diriku. Mama membentak lagi dan menyuruh aku berhenti. A'i awalnya hanya ketwa melihat mama berteriak-teriak meminta aku berhenti. Kemudian mama bilang: "Ace sioang pae e Bo!" Ace yang paling nakal. Aku sering mau memukul Aheng dan sering disalahkan oleh mama dan sering dicap nakal, siong pae e! Dilanjukannya lagi: "Ace siong jang Ahiang". A'i mengangguk-angguk sambil tersenyum. Yang dia maksud kemungkinan besar perangai luar diriku yang sangat merindukan perhatian / mempunyai dorongan yang sangat kuat untuk mendapatkan perhatian. Kata A'i: "Ahiang te cu siong pai shi". Aku tidak tahu kalau Ahiang juga dianggap pai shi oleh A'i. Ahiang anak perempuan masakan bisa begitu nakal/pai shi. Namun dari saat itu timbil kesan yang jelek/negativ akan diri Ahiang karena A'i bilang Ahiang te chu siong phai shi.
· Mulai muncul perasaan takut dalam diriku. Aku dikatakan siong phai shi, mirip dengan Ahiang yang juga siong phai shi atau punya sifat yang jelek /jahat/o sim. Mulai muncul rasa takut dan bimbang dalam diriku. Ahiang bukan anak papa. Mama sangat menekankan aku sangat mirip dengan Ahiang dalam hal sifat yang sama-sama buruk, jelek atau jahat, siong phai shi. Berarti maksud mama ingin mengatakan aku juga berasal dari Eng Sun yang jahat makanya mempunyai sifat yang jahat karena keturunan orang yang jahat akan memiliki sifat yang jahat juga. Aku merasa disudutkan oleh mereka.
· Sikap A'i sambil senyum-ketawa atas cemoohan mama terhadap diriku yang mengatakan aku mirip dengan Ahiang yang paling nakal membuat aku merasa sangat takut kalau A'i juga mengatai diriku punya sifat yang jelek, nakal dan meyudutkan diriku karena dia satu-satunya pegangan bagi diriku yang masih ada saat itu karena mama telah menolak diriku dengan mencap aku punya sifat yang jelek / siong pai shi mirip dengan Ahiang. Kata-kata A'i yang mengkomentari mama tidak jelas aku dengar. Aku mengamati gerk-gerik A'i terutama kata-kata yang dikeluarkannya apakah menyinggung diriku, mengatakan diriku punya sifat yang jelek mirip Ahiang karena sama-sama anak Eng Sun. Aku sangat takut kalau kata-kata yang demikian keluar dari mulutnya. Ketawa A'i yang cengengesan beserta komentar-komentarnya yang tidak jelas bagiku namun kelakuannya itu membuat aku merasa dia mempermainkan/mentertawakan diriku karena mempunya sifat yang jelek mirip dengan Ahiang. Sama-sama punya sifat yang jelek karena sama-sama berasal dari Eng Sun. Kemudian aku mendengar mama berkata: "ho lo la Bo!". Mama menyuruh A'i berhenti untuk mengolok-olok diriku yang aku rasakan menyinggung diriku anak Eng Sun seperti Ahiang karena sama-sama paling nakal, sama-sama paling negativ, sama-sama punya sifat yang jelek dan jahat, sama-sama berasal dari Eng Sun. Aku merasa disudutkan oleh A'i. Sikap A'i yang mempermainkan/mentertawai/menyudutkan diriku membuat aku menghukum diriku-sendiri: Diriku ini selalu tidak dimaui, selalu tidak pernah benar bagi mereka. Mengapa diriku selalu tidak pernah benar, mengapa diriku ini selalu salah. Aku ini jahat, punya sifat yang jelek/buruk sehingga mereka selalu tidak menyukai diriku dan selalu menolak diriku. Aku ini anak Eng Sun. Aheng yang selalu mau aku pukul ternyata lebih tinggi nilainya dari diriku karena dia sungguh-sungguh merupakan anak dari papa yang baik sedangkan aku keturunan orang yang jahat. Aheng ternyata bukan adik kandungku. Perasaan terpisah dari Aheng muncul. Melihat Acuan yang duduk di kursi beroda, Acuan yang kecil dan lucu ternyata bukan adikku yang sesungguhnya membuat diriku menangis dalam hati. Aku merasakan seperti mengalami perpisahan dengan Aheng dan Acuan. Suatu perpisahan yang tidak bakalan bisa ketemu/disambung lagi. Aku merasakan kepahitan dan keperihan yang sangat mendalam.
· Aku kemudian berjalan masuk ke hang lo (gang) dan merasa sendiri. Rumah ini ternyata bukan rumahku. Aku hanya menumpang saja karena rumah ini rumah Akid dan Akid bukan papaku yang sesungguhnya. Aheng dan Acuan mempunyai hak yang lebih dari diriku karena mereka anak Akid yang sesunggunya, mereka lebih beruntung. Mereka punya hak atas rumah ini sedangkan diriku hanya menumpang saja. Sekarang aku mau ke mana. Akid/papa bukan papa kandungku. Mama dan A'i tidak menginginkan diriku. Diriku selalu tidak diterima oleh mereka. Oleh mama diriku dicap punya sifat jelek dan jahat. Oleh A'i diriku disudutkan. Pasat ma (nenek, dari pihak papa) bo cin denganku karena aku bukan anak papa yang sesungguhnya. Ama (nenek, dari pihak mama) tidak ada hubungan dengan diriku sama sekali. Dia tidak lebih daripada hanya mengetahui aku ini anak Lien Ke, cucunya. Tidak ada tempat bagiku untuk mencari perlindungan seandainya aku harus meninggalkan rumah ini.
Erstelldatum 02/20/00 12:29

0 Comments:
Post a Comment
<< Home