Di depan rumah Pui Cim memarahi aku dengan sangat benci ketika aku mau naik ke atas sepada
19) Di depan rumah Pui Cim memarahi aku dengan sangat benci ketika aku mau naik ke atas sepada
· Mama mau pergi menjual Toto ke rumah Pui Cim. Aku mau ikut tapi dia tidak menghendaki aku ikut dia, dia merasa terganggu. Dia bilang: "khe ce ban nia' nia, ko chu bai". Dia bilang hanya pergi sebentar dan suruh aku jaga rumah saja. Aku berharap bisa gembira bila ikut dia sehingga aku terus berusaha untuk dapat ikut. Dia bilang lagi: "ko chu bai, ko sio ti, wa khe ce ban nia' nia". Dia menyuruh aku jaga adik. Dia memperlakukan aku seperti orang yang sudah dewasa, tidak menyadari aku masih ana-anak seperti Aheng. Bagiku mengerikan untuk duduk sendiri di rumah, tidak ada teman, tidak ada barang mainan, tidak ada orang kecuali Aheng yang sedang tidur, sedangkan kalu ikut dia ada harapan untuk gembira sehingga aku berjuang sekuat tenaga untuk bisa ikut. Dia jadi diam menahan amarah, aku merasa takut amarahnya akan meledak. Aku merasa takut karena telah melawan kehendaknya. Aku takut dia akan marah dan melampiaskan amarahnya pada diriku.
· Dia kemudian menyuruh aku naik ke atas sepeda dengan kasar dan perasaan terpaksa. Aku merasa takut dan merasa tidak bernilai karena tidak dikehendaki, menerima diriku dengan perasaan terpaksa. Die mengijinkan aku ikut dengan rasa terpaksa. Aku naik ke sepeda disertai rasa takut dan gugup, takut amarahnya meledak. Dia menyuruh aku melipat kaki seperti biasanya supaya jangan tergilas masuk ke dalam putaran roda. Dia merasa hal itu banyak kerjaan dan mengomel: "le kua yo, kio le mai te tio ai te", "le kua yo, kio le mai te tio ai te".
· Di tengah jalan dia terus mengomel, terus merasa tidak puas dan memarahi diriku. Aku merasa begitu tidak diinginkan. Aku dibonceng, kaki lipat ke depan, jalan yang berbatu membuat buritku sakit. Posisi duduk sangat tidak menyenangkan. Aku menderita sekali dan berharap lekas sampai supaya penderitaan ini lekas berlalu.
· Sampai di rumah Pui Cim dengan kasar dia menyuruh aku tunggu di luar. Aku merasa diriku ini tidak bernilai diperlakukan begitu. Diperlakukan dengan kasar oleh mama sendiri, suruh tunggu di luar dan tidak boleh masuk. Aku ingin masuk tapi takut. Tidak lama kemudian mam keluar dan ingin pulang. Dia sangat tidak puas, geram dan benci terhadap diriku. Dia menyuruh aku lekas naik ke atas sepeda. Baru saja aku mau naik sudah disalahkan. Dia sangat tidak sabar dan menggoncangkan sepedanya dengan penuh amarah dan kebencian membuat aku tambah sulit naik ke atas sepeda. Karena aku mengalami kesulitan untuk naik ke atas sepeda diriku dimaki habis-habisan. Aku belum sempat naik sudah dimarahi dan mengongcang-goncangkan sepeda dengan rasa benci "kha kin la", membuat aku tambah gugup dan takut. Aku didesak dan dimarahi: "kha kin la", "de kua yo kio mai te tio ai te". Dia terus-menerus mencaci-maki diriku. Caci-makiannya sangat melukai perasaanku dan merendahkan diriku, diriku seperti tidak bernilai bagi dia. Perasaanku terluka sangat dalam. Gambaran yang bahaya ikut sama dia rusak saat itu juga. Yang ada luka yang mendalam. Pulang dibonceng dengan kasar. Mama merasa sangat tidak puas dan benci padaku, serta merasa sangat terganggu olehku. Aku merasa diriku ini tidak bernilai bagi dia. Perasaanku kosong, hampa, kebahagiaanku lenyap dirusak oleh mama. Dia satu-satunya orang yang ada namun tidak bisa kuharapkan. Dia hanya bisa menyakiti diriku, membuat hidupku seperti neraka dengan teror-terornya, dengan caci-makiannya yang tidak menghargai perasaanku. Dia tidak mempertimbangkan bahwa aku bisa terluka oleh perlakuannya yang sedemikian kasar dan penuh kebencian itu, seakan aku ini tidak bisa merasa sakit, seakan aku ini tidak punya keinginan dan perasaan, seakan aku ini nichts. Tidak ada harapan akan kehidupan yang lebih baik bagiku sangat mengerikan karena mama tidak bisa aku harapkan sedangkan aku tergantung penuh pada dia. Tidak ada orang lain lagi yang bisa aku cari. Papa kerja, malam baru pulang jarang ketemu sama aku dan jarang ada kontak dengan aku, tidak ada keakraban dengan diriiku karena papa juga tidak tertarik untuk menemani diriku. Dia lebih tertarik untuk ngobrol di tempat Acek (paman) dari pada bermain dengan anaknya.
Erstelldatum 03/04/00 12:48

0 Comments:
Post a Comment
<< Home