Friday, November 03, 2006

Membeli rotan dan memperlihatkannya pada diriku

20) Membeli rotan dan memperlihatkannya pada diriku
· Mama membeli rotan yang baru, lebih besar dan lebih kuat. Dia langsung menunjukan rotan yang baru dibelinya itu kepadaku dengan senyum/ketawa yang sinis. Ingin menyampaikan kepadaku ini rotan yang baru, yang lebih kuat, lebih sakit kalau kena pukul. Aku merindukan kebaikan dan penerimaan dari dia, alangkah sakitnya dan kecewanya diperlakukan seperti itu. Sama sekali tidak memikirkan yang baik untukku. Pikirannnya hanyalah mau menghukum aku. Begitu primitiv dan rendah Aku menjadi takut akan hari-hari yang akan datang karena rotan yang baru itu jauh lebih keras dan lebih kuat, tentu sangat sakit kalau kena tubuh. Aku tidak tahu apakah aku sanggup menanggungnya. Dia sering menyebat aku dengan rotan. Aku tidak berdaya kalau dia memukul/meyebat aku karena tenaganya jauh lebih kuat dan diriku yang tergantung penuh kepada dia sehingga aku tidak berdaya dan tidak dapat berbuat apa-apa kalau dia melampiaskan amarahnya dan menganiaya diriku.
· Perbuatannya dengan menujukan rotan yang baru dibelinya itu padaku menimbulkan rasa marah dan benci dalam diriku. Aku memprotes: "le kua la e pai wa tua han liau", "le kua la e pai wa tua han liau". Mendengar protesku tiu dia ketawa/senyum sinis dan menyebat diriku. Aku memprotes lagi dengan rasa tidak puas: ""le kua la e pai wa tua han liau", "le kua la e pai wa tua han liau". Dia menyebat aku lagi dengan lebih kuat membuat aku merasa takut dan merasa bersalah dengan protes yang kulakukan itu karena bagaimanapun juga aku akan kalah dan salah. Aku merasa takut karena rotannya keras sekali dan sebatannya sangat perih dan sakit. Ketergantungan diriku pada dia membuat aku merasa bersalah kalau aku kena pukul oleh dia, apalagi dia seorang mama simbol seorang yang tidak pernah salah.
Erstelldatum 02/28/00 14:11

0 Comments:

Post a Comment

<< Home