Friday, November 03, 2006

Lien Ke I

Lien Ke I:

1. Mama memukul Ace di depan rumah sampai hampir mati. Papa tidak melindungi diriku.

2. Aku memerlukan mama, memanggil dia. Langsung berteriak sangat keras, kasar nian!

3. Memandang aku dengan penuh rasa benci dan mengoncang-goncangkan tubuhku penuh dengan rasa benci.

4. Aku dalam keadaan sakit memerlukan mama ditinggalkan dengan rasa benci, dianggap tukang kacau.

5. Aku merasa kesepian di malam hari memerlukan mama. Menyeret aku ke dokter gigi.

6. Ketika mama berbicara dengan A'm. Aku memerlukan mama dan memanggil dia. Disebat dengan rotan secara brutal.

7. Minta korek kuping, rambut/kepalaku dicengkram dengan rasa benci.

8. Membungkus Ang Pau. Sikapnya yang kasar dan menolak sakit nian!

9. Di depan rumah Pui Cim memarahi aku dengan sangat benci ketika aku mau naik ke atas sepada.

10. Mau ke rumah Ama (nenek) melihat mama memperhatikan Aheng, aku mau juga. Aku diperlakukan dengan sangat kasar.

11. Menyuruh A'i Abo memukul aku saat du rumah nenek (Ama) dan aku meminta perhatian mama dianggap tukang kacau.

12. Pulang keluar main, minta uang (perhatian dan kehangatan) dilukai dan direndahkan.

13. Pah' ke ni sial. Dia sungguh-sungguh menyebat aku di saat ‘Ke Ni walaupun dia tahu itu sial.

14. Menyuruh papa memukul aku saat mama memandikan Aheng. Aku dianggap tukang kacau.

15. Aku ingin minum susu tengah malam. Mama menyuruh papa memukul aku.

16. Memerlukan akte kelahiran, bukannya ditolong. Malah disalahkan dan dimaki dengan benci.

17. Marah-marah dari luar tanpa sebab. Melihat aku takut malah mempermainkan aku bukannya menenangkan.

18. Mengajak aku ke kamar mandi.

19. Aku ingin ikut dia dan dia mendorong pintu kamar mandi menghalau diri Ace sambil ketawa cabul.

20. Membawa Aheng ke kamar mandi dan mengangek aku yang mau ikut.

21. A'i Abo datang mengatakan/menyinggung Ace anak Eng Sun.

22. Aku memanggil mama di ruang depan, dia langsung berbalik mengambil rotan. Sakit nian.

23. Membeli rotan dan memperlihatkannya pada diriku. De kua la e pai wa tua han liau.

24. A'i mencebok pantatku dengan kakinya yang kasar. A'i dan mama mentertawai diriku.

25. Ketika A'i meniggalkan aku saat aku mau ikut dia dengan cara dibohongi suruh kebelakang. Mama memandang diriku dengan senyuman yang membuat diriku takut.

26. Menunggu mama mencuci baju, sehabis mencuci langsung menuju pada Aheng.

27. Memikirkan kematian. Aku merasakan kesepian yang mencekik namun tidak bisa mengeluarkan dan akhirnya ditertawakan oleh mama.

28. Melempar bebek dengan batu sebagai reaksi dari perasaan yang kecewa dari sikap mama. Kaki bebek patah dan aku merasakan perasaan bersalah yang sangat mendalam.

29. Ahiang berlari menuju mama dari depan sekolah

30. Ahiang datang memanggil mama minta lui (uang) dipukul secara brutal.

31. Minta kalak yang dibawakan oleh A'i dicaci-maki bertubi-tubi

32. Minum Coca Cola dicaci maki habis-habisan

33. Membeli baju baru saat bekerja di tempat Hai Lam dicaci maki.

34. Menyapu muka So Keng

35. Imlek Ayu pendek datang, mama merendahkan mereka, tidak melayani mereka.

36. Ahiang minta uang sama mama untuk bayar uang sekolah dicaci maki sampai Ahiang menangis.

37. Beli mie tumpah ditertawakan, bukannya dihibur.

38. Mengajak Aheng nonton pulang ditanya mama.

39. Teng lin. Diri aku dipermainkan.

40. Mengeluh kepada papa bahwa Akong membeli gulin, sa leng he (ikan buncis) disimpan lama sampai rusak baru dibuang, anak-anak mau makan tidak boleh kasih dan kena marah dengan keras.

41. Di ruman Bun Tong So, Bun Tong So mengatakan aku mirip dengan papa, dalam hatiku merasa apa ini benar, tidak pernah aku mendengar hal itu dan bukankah aku seperti Ahiang keturunan Eng Sun. Mama mengelak seakan menyimpan perasaan bahwa aku bukan berasal dari papa tapi dari Eng Sun, tabu dan harus ditutupi.

42. Memukul aku. Aku lari masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Di dalam aku justru merasakan tekanan yang lebih berat lagi

43. Mendengar suara mama dipagi hari batuk-batuk dengan sangat keras dan mau muntah sangat menggelisahkan aku. Aku takut kalau dia sampai mati.

44. Mama dengan rambut pendek, berbaju kembang, sikapnya kasar nian dan menolak ketika aku mau dekat dengan dia.

Ahiang minta uang pada mama untuk bayar uang sekolah

42) Ahiang minta uang pada mama untuk bayar uang sekolah

· "ma..., hak hui, tio heng hak hui". Ahiang minta uang sama mama untuk bayar uang sekolah namun sikap mama kasar dan tidak mau memperdulikan dia. Ahiang minta terus sampai mau nangis namun mama bersikeras tidak mau kasih. Sikap mama terhadap Ahiang jahat sekali. Mata Ahiang sampai memerah dan menangis verzweifelt. Dia tergantung sepenuhnya pada mama, namun mama sedemikian jahatnya, sedikitpun tidak mau memberikan kepada Ahiang uang yang dia perlukan. Sampai Ahiang bilang dengan mata yang merah dan menangis bahwa uang sekolah sering mogok sekarang sampai mogok 3 bulan dan sudah sering diminta. Dia merasa malu karena sering diminta oleh guru dan dilihat oleh teman-teman dan juga takut bisa dikeluarkan dari sekolah. Dulu samapai A'i yang bayar uang sekolahnya. Mama kelihatannya tidak memperdulikan Ahiang. Bagi mama Ahiang itu tidak bernilai dan tidak diinginkan. Dia tidak peduli akan apa yang terjadi pada diri Ahiang. Mama itu jahat dan keji nian. Mama tidak perduli bahwa Ahiang bisa malu karena sering diminta uang sekolahnya yang nunggak oleh guru dan dilihat oleh teman-teman sekolahnya. Mama tidak peduli Ahiang bisa dikeluarkan dari sekolah. Mama sedikitpun tidak mau melepaskan yang sangat Ahiang perlukan sampai Ahiang verzweifelt dan berkata dengan rasa putus asa 'biarlah kalau nanti sampai dikeluarkan dari sekolah'.
Erstelldatum 03/08/00 17:23

Pah' Ke Ni

39) Pah' Ke Ni
· Aku memerlukan mama terutama karena hari itu hari yang istimewa hari Raya Imlek atau Keni. Mama sedang mencuci baju, perasaanku sedih sekali. Keni mestinya hari yang istimewa tapi aku tidak melihat sesuatu yang istimewa. Mama bekerja seperti biasa mencuci baju. Aku ingin merasakan sesuatu yang istimewa. Aku ingin/memerlukan mama memperhatikan diriku, tidak tinggalkan aku sendirian namun bergembira bersamaku karena hari itu hari yang istimewa.
· Aku memanggil "ma, ma, ma" ketika dia sedang memeras baju mau menjemur baju pada tek ko (batang bulu). Dia menjawab dengan nada yang kasar dan melukai perasaanku: "mai ta wa cha yo, tan tio pah ke ni baru cai, tan tio pah ke ni baru cai". Dia mengancam aku mau memukul aku pada hari Raya Imlek. Kena pukul pada Hary Raya Imlek itu sial. Aku kecewa sekali akan sikapnya yang kasar itu. Masakan selalu begitu menyakiti diriku. Tidak pernah sekalipun bersikap yang baik bila aku memerlukan dia.
· Namun aku menderita sekali. Aku tidak dapat menekan kebutuhanku dan sikapnya yang memusuhiku tambah melukai perasaanku. Aku memanggil dia lagi: "ma, ma, ma". Dia menganggap diriku ini mengganggu dia dan dia mengancam lagi: "ai ta wa tiam mai, tan tio pah ke ni baru cai, tan cin sit ta le but, wa ta le kong tio pah ke ni soi siau " Dia mengancam mau sungguh-sunguh memukul aku pada Hary Raya Imlek kalau aku tidak diam.
· Aku merasa takut akan ancamannya itu tapi aku tidak bisa pergi begitu saja karena kebutuhanku menunutu untuk dipenuhi. Disamping itu sikapnya sebagi seorang yang kubutuhkan bukannya menunjukan penerimaan tapi justru sebaliknya sangat menyakiti perasaanku. Aku terus memanggil dia diringi rasa takut dan nekat karena aku tidak bisa berbuat yang lain selain berusaha memenuhi kebutuhanku. Aku memanggil dia lagi: "ma, ma, ma". Dia segera pergi mengambil rotan dan menyebat aku tanpa ada rasa menghargai diriku sedikitpun (anggap aku ini nichts, tidak punya perasaan, tidak punya rasa harga diri, tidak punya keinginan, einfach nichts) bahwa hari itu Hari Raya Imlek, jangan menghancurkan martabatku, kebahagiaanku, perasaanku. Hatiku sungguh hancur, perih, dendam dan kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa (putus harapan) karena aku tergantung penuh pada dia.
· Dia sendiri bilang pah ke ni itu soi siau, apalagi Coi It hari yang paling besar dalam tiga hari Keni itu. Walaupun dia tahu itu Coi It paling sial kalau aku kena pukul dia pada hari iiu namun diakukannya juga. Dia itu tidak punya rasa perikemanusiaan. Dia itu bisa lebih kejam dari pada binatang. Binatang terhadap anaknya tidak begitu kejam. Yang tinggal dalam diriku adalah rasa kecewa, marah, dendam, perih, putus harapan, sedih sampai pahit, hati yang hancur dan malu karena kena pukul, malu terhadap Aheng yang melihat kejadian itu.
Erstelldatum 03/04/00 10:01

Membeli baju baru saat bekerja di tempat Hai Lam dicaci maki

38) Membeli baju baru saat bekerja di tempat Hai Lam dicaci maki
· Aku naksir anak Ango saat kerja di tempat Acek Hailam. Baju yang kupunya bukanlah baju yang baru dan agak kuno. Lantas aku ke pasar los untuk beli beberapa baju yang bagus dan modern. Harganya termasuk dapat terjangkau olehku. Aku membeli baju baru yang menarik untuk menarik perhatian anak Ango. Memang aku merasa dari tiga baju yang aku beli melebihi gajiku dalam seminggu, tapi aku memerlukannya. Setelah lewat beberapa hari baju baru yang aku beli itu diketahui oleh mama. Dia marah besar dan mencaci-maki diriku habis-habisan dengan kebencian yang amat sangat dan rasa yang sangat tidak puas. Tidak ada rasa respek terhadap diriku. Menganggap diriku sebagai barang milik dia dan boleh berbuat apa saja terhadap diriku:
"baru co ku la jit tio boi kau ku la nia nsha",
"tan lui to tan to a boi kau, tio boi kau ku la nia nsha, tio ai pho lo",
"co kin na tio ai pho lo",
"khe boi he khi au nsha", (timbul rasa sayang akan uang yang kukeluarkan)
"soi-soi han tio ai tien pho",
"la kong a be e hiau nkia tio ai pe lo",
Diriku dimarahi dan dicaci-maki sedemian rupa. Caci-makiannya membuat aku sangat malu karena sangat menghina martabatku seakan diriku ini tidak ada nilainya sama sekali. Terutama ejekannya: 'soi-soi han tio ai tien pho, lang kong a be e hiau nkia tio ai pho lo, tan lui to tan a boi kau, tio ai pho lo membuat aku malu sekali.
"tan lui to tan a boi kau, tio ai pho lo, thau kio wa e lui shi bo, bo mana u han coi lui, bo mana e hiau bou kau ku la nia nsha" Dia juga mencurigai aku mencuri uangnya untuk membeli baju.
Aku sangat takut kalau dia sampai tahu aku membeli baju untuk untuk ngepek anak Ango. Kalau sampai ketahuan oleh dia caci-makinya terhadap diriku bisa sedemian rupa sampai menghilangkan seluruh rasa harga diriku karena dia itu binatang, tidak mempertimbangkang perasaan orang lain sama sekali. Tidak mempertimbangkan bahwa aku bisa malu diperlakukan sedemikian hina. Tidak mempertimbangkan bahwa aku punya harga diri. Tidak mempertimbangkan bahwa harga diriku bisa terluka diinjak-injak begitu.
Erstelldatum 03/03/00 17:17

Mau ke rumah Ama (nenek) memakaikan baju pada Aheng dengan ada hati tetapi berlaku sangat kasar terhadap diriku

36) Mau ke rumah Ama (nenek) memakaikan baju pada Aheng dengan ada hati tetapi berlaku sangat kasar terhadap diriku
. Mama memakaikan baju pada Aheng dengan ada hati. Ada hati merawat Aheng. Aku melihat mama yang sayang sama Aheng timbul/merasakan perasaan yang sudah lama aku tahan yaitu kebutuhan akan perhatian dari mama.
· Dia menyuruh aku lekas-lekas tukar baju/memakai baju dengan tidak sabar. Awalnya aku tidak mau tukar baju sendiri namun diriku didesak terus. Aku agak kecewa karena aku mengharapkan dia yang menukarkan baju untuk aku. Aku ingin merasakan dia berbuat untuk aku seperti dia berbuat untuk Aheng. Aku tidak menuruti suruhannya karena kalau aku cepat-cepat menukar baju aku tidak akan mendapatkan lagi yang aku butuhkan yaitu bahwa dia yang memakaikan baju untukku seperti dia dengan ada hati memakaikan baju pada Aheng. Tapi karena aku tidak menuruti suruhan mama supaya cepat-cepat menukar baju timbul rasa takut diriku akan disalahkan, dimarahi sampai dipukul.
· Dia menyuruh aku lagi dengan teriakan kasar: "ka kin ua nsa, ai te bo, ai te tio kin ceng ho se" Aku berusaha perlahan-lahan pura-pura tidak bisa menukar baju, terutama pura-pura sulit untuk bisa mengancingkannya sendiri supaya mama yang berbuat untuk diriku seperti dia berbuat untuk Aheng. Beberapa kali dia berteriak begitu sangat tidak sabar: "ka kin ua nsa, ai te bo, ai te tio kin ceng ho se". Dia mulai panas/marah wajahnya berang, suaranya semakin lama semakin tinggi membuat aku takut dan panik. Namun aku memerlukan mama, kalau aku mengenakan baju sendiri maka diriku tidak akan didekatinya lagi. Itu sebabnya aku berusaha untuk mengulur-ulur waktu, pura-pura tidak bisa tukar baju walaupun aku merasa takut dimarahi dan dipukul oleh dia. Kemudian dia bertanya apakah aku mengalami kesulitan untuk mengancingkan baju karena kadang-kadang kancing sempit sekali sehingga sulit untuk dikancing. Aku seperti mendapat angin dan bilang 'ya' aku mengalami kesulitan untuk mengancingkan baju untuk mengulur waktu menunggu mama sampai selesai menggantikan baju Aheng dan supaya dia datang mengancingkannya untukku dengan sikap yang sayang. Aku sangat membutuhkan sikap yang baik dari mama. Aku sangat membutuhkan dia berbuat untuk diriku seperti dia berbuat untuk Aheng dengan ada hati menukarkan baju untuk Aheng.
· Aku menunggu supaya dia datang menukarkan baju padaku. Karena kebutuhanku yang mendesak dan tidak tahan menunggu lagi aku memanggil dia. Panggilanku membuat dia semakin tidak sabar dan marah. Dia dengan marah datang sebentar dan mengoncangkan tubuhku dengan sangat kasar, kemarahan yang menggebu-gebu penuh dengan rasa benci. Dia dengan geram, marah dan benci menujukan padaku bagaimana mengancingkan baju. Kasar sekali perlakuannya terhadap diriku. Perasaanku terluka dan kecewa karena sikapnya kepadaku yang sedemikian kasar, diserta dengan rasa benci dan marah dan rasa tidak senang terhadap diriku. Kemudian dia pergi lagi meninggalkan aku dan mengenakan baju/pakaian pada Aheng sampai selesai.
· Sehabis mengenakan baju pada Aheng, dia datang padaku dengan marah-marah, sangat tidak sabar dan kasar. Dia datang padaku dengan perasaan yang sangat tidak puas, sikap yang kasar, dengan rasa benci dan rasa yang tidak senang terhadap diriku dan terus-menerus memarahi /mencemoohi aku: "hua tua lo ka ki ceng sa to boi hiau, ha ni kuan gong, co kin na ha ni kuan gong". Sikapnya terhadapku sama sekali tidak ada yang sesuai dengan yang kubutuhkan/kebayangkan/kuharapkan. Sikapnya kasar, sangat tidak puas, marah sampai benci. Dia merendahkan diriku dengan amarahnya yang terus-menerus.
Erstelldatum 03/02/00 15:58

Melempar bebek dengan batu

36) Melempar bebek dengan batu
· Aku melihat mama mencuci baju. Aku memanggil mama namun jawaban dan sikapnya itu sangat menyakiti diriku: "ncia tan le, wa ce peng lai te le co kang, ta wa ncia tan le". Jawabannya mengandung rasa dan nada yang denki, sangat menyakiti diriku dan merendahkan diriku membuat aku kecewa dan marah karena selalu begitu, dengki nian, tidak ingin sedikitpun bersikap baik kepadaku dan memberikan yang aku butuhkan darinya. Setiap kali aku memerlukan dia, dia selalu menolak aku dengan dengki, dengan menyakiti diriku. Aku marah dan kecewa dan memprotes dengan mengambil batu melemparkannya ke arah lain ke arah bebek. Bebek itu berteriak-teriak kesakitan, panik dan marah karena kakinya patah. Aku terkejut, tidak menyangka sampai begitu. Kakinya patah sangat membuat perasaanku terpukul. Aku mengalami perasaan bersalah yang hebat dan sangat menyesali perbuatanku. Walau aku tidak bermaksud begitu tapi keadaan bebek itu membuat perasaanku sangat terpukul, sangat perih dan sangat menyesal.
· Mama dengan keji terus menteror diriku: "le kua la": "cek ak !", "cin cek ak !", "cek ak !", "cin cek ak !", kata-kata mama itu tambah menusuk perasaanku yang sudah sakit. Dia menekan kata-kata 'cek ak' membuat perasaanku semakin terpukul. Perasaanku tergoncang dan sangat terluka karena rasa bersalah dan rasa menyesal yang hebat ditambah teror dari mama lagi.
· Bebek itu berak dan menyemprot cairan yang encer dan banyak. Ingin rasanya aku menjilat tahi bebek itu sebagai ungkapan rasa menyesalku yang sangat dalam. Mama terus menyudutkan dan menteror aku tanpa mempertimbangkan perasaanku.
Erstelldatum 02/28/00 11:45

Minum Coca Cola dicaci maki habis-habisan

35) Minum Coca Cola dicaci maki habis-habisan

· Aku melihat papa membawa minuman kaleng yang dikasih Ako. Dua di antaranya berwarna merah tua. Belum pernah aku melihat minuman seperti itu sebelumnya. Ketika hari Raya Imlek itu sudah tiba aku merasa sudah boleh meminumnya. Aku mengambil satu kaleng dan meminumnya di depan rumah, dilihat oleh Aseng, Ati, Seng Huat dan Minggu. Aku merasa bangga punya minuman yang istimewa itu dan ingin menunjukan pada mereka. Karena aku hanya punya satu dan keseluruhan cuma dua kaleng tentu aku tidak bisa menawari mereka untuk ikut minum, selain itu hubunganku dengan mereka juga tidak begitu dekat.
· Melihat aku minum Coca Cola kemarahan mama menjadi meledak, sangat tidak puas terhadap diriku, entah kenapa. Dia memaki diriku habis-habisan: "co kin na ha ni kuan bo ka shi, ha ni kuan m'mm cin nciu, bo kong meng lang ai cia mai, ka ki tio kio-kio cia, co ki na ha ni kuan tiong cia, ha ni kuan tiong ham, bo nsiu kong lau bu abe kua tio, tio khio ke cia-cia liau, co kin na ha ni kuan bo hiau keng meng nkia, u tam po meng nkia tio cia-cia liau, co kin na ha ni kuan em pat tu tio " Dia mencaci-maki aku dan merendahkan diriku. Dia memarahi aku sedemikian rupa seakan-akan dia benar sepenuhnya. Apalagi karena dirinya adalah seorang mama yang dalam gambaranku merupakan orang yang tidak pernah salah, maka timbul rasa bersalah yang hebat dalam diriku disertai rasa malu karena dimarahi sedemikian rupa di depan orang banyak. Dia itu tidak mempertimbangkan perasaanku bahwa aku bisa/akan malu memarahi sedemikian rupa di depan orang banyak. Rasa gembira untuk meminum Coca Cola itupun lenyap. Mereka yang melihat kejadian itu perlahan-lahan meninggalkan tempat kejadian. Diriku masih terus dimarahi sampai dia puas.
Erstelldatum 02/27/00 16:42

Minta kalak yang dibawakan oleh A'i dicaci-maki bertubi-tubi

34) Minta kalak yang dibawakan oleh A'i dicaci-maki bertubi-tubi
· A'i datang membawakan kalak untuk aku. Aku senang sekali makan kalak, apalagi warnanya yang menarik dan rasanya yang manis. Aku langsung minta pada mama dan seperti biasa mendapatkan dua biji. Aku segera makan kalak yang aku dapatkan itu dan karena tidak sabar aku kunyah kalaknya dan sebentar saja kalak yang ada di dalam mulutku sudah habis. Aku mengunyah kalak dengan cepat sebagai salah satu usaha untuk meredakan kebutuhan jiwaku yang tak terpenuhuni. Kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Setelah kalak itu habis aku merasakan perasaan yang sangat tidak enak. Perasaan semacam ini sudah sering muncul, bahkan sudah seperti mengikuti hidupku secara terus menerus, perasaan menderita! Perasaan yang tidak aku mengerti dulunya, sangat tidak nyaman dan menggelisahkan, juga memberi rasa diriku jahat, busuk hati dan bersalah. Seperti ada dorongan yang terus-menerus yang membuat aku untuk meronta untuk melepaskan diri dari perasaan yang sangat tidak enak ini yang selama ini terus mengikutiku. Meronta dengan berbagai keinginan yang selalu dimarahi sebagai terlalu manja.
· Kalak yang ada di dalam mulutku, yang rasanya manis dan enak dapat mengurangi perasaan yang begitu tidak enak itu sekejap. Sekejap karena kalak itu cepat habis dan perasaan yang sangat tidak menyenangkan itu muncul kembali dan disertai kebutuhan untuk mendapatkan perhatian dari mama. Aku merasa begitu lama tidak mendapatkan yang aku butuhkan. Tidak pernah aku merasakan kebutuhanku sungguh terpenuhi. Aku tidak mengerti kebutuhan apa itu, tapi aku merasakannya. Aku merasakan selalu ada yang kurang dalam diriku. Sesuatu yang kurang itu membuat aku menderita. Aku ingin sekali diperhatikan, namaku dipanggil dengan baik, berbuat yang baik untuk diriku, diriku dilihat dan dirasakan ada, diriku ada bagi mereka. Aku mengeluh minta kalak sebagai dorongan dari perasaan-perasaan didalam diriku: ingin merasakan mama memenuhi permintaanku, ingin diriku diperhatikan, dirasakan ada.
· Tapi mendengarkan permintaanku mama bukannya memberikan sikap yang baik, yang menyenangkan bagiku, tapi justru sebaliknya, diriku dimarahi dengan tajam: "baru cia lo keh tio ai lagi. Co kin na ha ni kuan phai kuan." Diriku dimarahi dengan tajam dan terus-menerus sampai aku merasa melepaskan niatku untuk mendapatkan kalak itu. Walaupun keinginanku untuk mendapatkan kalak kulepaskan makiannya tidak berhenti tapi makin lama semakin jadi. Dia terus memaki aku dengan sangat bo kam guan, dengan perasaan sangat tidak puas, marah dan benci. Suaranya semakin besar membuat aku malu dan takut.
· Dia memaki sambil berjalan mendekati aku sampai dekat sekali denganku (di sampingku). Amarahnya dan rasa bencinya semakin deras seperti orang gila dan suaranya semakin tinggi. Aku merasakan ancaman bahaya mendekati diriku seperti pansar besar yang mau menggiling (memenyetkan) diriku. Aku merasa takut dan mengharapkan pertolongan. Dalam keadaan bahaya seperti itu siapa yang lebih kuat dari mama yang bisa dan mau menolong aku saat itu. Di situ hanya ada A'i. Dia tidak lebih kuat dari mama dari segi Einfluß/pengaruh. Tapi dalam keadaan bahaya seperti itu aku mengharapkan sekali pertolongan dari A'i. Aku mengharapkan sekali A'i datang menolong aku dengan memarahi mama, memepersalahkan mama dan melindungi aku dari kesewenang-wenangan mama karena aku tahu perbuatan mama itu jelas-jelas salah. Hal yang begitu kecil saja diriku dimaki habis-habisan. Aku melihat ke A'i. Pandanganku mengharapkan dia datang menolong aku. Nada marah dari mama semakin tinggi aku merasakan diriku berada dalam ancaman bahaya. Aku memandang ke arah A'i mengharapkan dia datang menolong aku. Tapi begitu mengecewakan. Begitu lemah diri A'i tidak memarahi mama yang terang-terangan berbuat tidak benar. Harapanku dia membawa diriku dalam perlindungannya dan memarahi mama dengan tegas karena jelas-jelas perbuatannya itu tidak pantas. Hanya karena hal yang sepele saja mencaci-maki aku sampai sedemikian rupa. Tapi dia justru mengangguk-angguk sambil tersenyum meng 'ya' kann perbuatan mama, yang berarti membenarkan mama dan menganggap aku ini salah, bukannya datang menolong aku yang berada dalam ancaman bahaya dari mama. Bukankah katanya A'i paling sayang padaku, mana buktinya. Bukankah dia lebih memihak mama yang jelas-jelas salah daripada diriku yang menjadi korban dan memerlukan pertolongan. Dari situ perasaanku terhadap A'i tidaklah begitu akrab seperti dulu lagi. Aku dimaki terus oleh mama. Kemudian perlahan-lahan aku berusaha berjalan pergi disertai rasa takut kalau-kalau ancaman bahaya itu menjadi nyata dan rasa malu akibat dicaci-maki oleh mama.
Erstelldatum 02/27/00 16:19

Memikirkan kematian

33) Memikirkan kematian
· Di dalam kamar (pangkeng) hanya hidup lampu yang keci yang digantungkan di dinding. Aheng mungkin sudah tidur. Aku sendirian, tidak ada teman bermain, tidak ada barang mainan, tidak ada tempat yang nyaman untuk bermain, seandainya adapun juga tidak ada tempat yang cukup terang untuk bermain. Di gang (hang lo) tergantung/digantung satu lampu strongkeng. Itu lampu yang paling terang yang ada. Lampu strongkeng itu membuat rumah menjadi bertambah panas karena sirkulasi udara kurang. Dalam suasana kesepian yang mencekam itu membuat aku membayangi bagaimanlah jadinya seandainya aku nanti mati, sendiri, dimasukan ke dalam peti mati yang tebal dan berat, ditutup dan dipaku lagi, kemudian ditanam di dalam tanah. Aku merasa sangat tersiksa karena membayangkan diriku di dalam peti mati yang sempit, tidak dapat bergerak, panas dan gelap. Gambaran diriku dalam peti mati saat itu tidak lain dari pada cermin dari jiwaku saat itu. Aku berusaha menjauhi pikiran itu tapi pikiran itu datang terus dan membuat aku semakin tersiksa. Pikiran itu tidak akan hilang selama jiwaku dalam keadaan yang demikian. Keadaan jiwaku yang ditinggalkan sendirian, rumah yang pengap dan panas serta gelap. Penyebab utama karena aku total sendirian, tidak ada keterbukaan dari mama dan papa untuk berbicara dengan diriku dan menjadi teman dariku. Aku sungguh terisolasi dari lingkunganku. Terisolasi dari papa dan mama, terisolasi dari adik, terisolasi dari teman-teman. Terisolasi dari semua. Pikiran yang muncul seandainya nanti aku mati masuk dalam peti mati yang sempit, tidak bisa bergerak, berat, pengap dan panas tidak lain dari pada cermin dari jiwaku yang terisolasi, tidak bisa bergerak dan tersiksa serta suasana rumah yang pengap dan panas. Aku sangat menderita oleh pikiran itu / keadaan jiwaku yang terisolasi dari papa dan mama. Aku merasa seperti ingin menembus memecahkan persoalan mengenai kematian itu. Timbul pertanyaan-pertanyaan seperti: Di mana aku akan hidup nantinya kalau aku sudah mati. Bagaimana rasanya kalau aku nanti tua dan mati. Suatu saat pasti aku akan mati, nanti saatnya pasti akan tiba karena semua orang akan mati. Pikiran-pikiran ini sangat menyiksa diriku karena aku membayangi kematian sebagai diriku yang dimasukan ke dalam peti mati yang berat dan sempit sehingga aku tidak dapat bergerak di dalamnya. Pikiran yang demikian datang terus membuat kepalaku rasanya mau pecah. Aku sangat menderita karenanya.
· Aku ada di mulut hang lo dan ingin mendekati mama. Dalam keinginanku, aku sangat mengharapkan kedatangan mama. Aku sudah setengah tahu mama tidak bakalan datang menemaniku. Aku tidak bakalan mendapatkan yang aku butuhkan (jiwa menjadi terisolasi) yang sedemian penting bagiku saat itu yaitu perolongan dari mama. Aku memerlukan mama datang padaku, menemani aku, mengerti keadaanku sepenuhnya dan berbicara denganku sehinggarasa takut, sepi dan rasa tercekam dapat tersalurkan sehingga tidak terisolasi total. Dilain pihak aku tidak berani datang pada mama dan mengatakan aku memerlukan dia karena aku tidak pernah diajari bagaimana aku mengeluarkan perasaanku dan menyampaikan kebutuhanku. Aku tidak pernah merasakan diriku disambut dengat hangat dan rasa yang gembira dari mama dan tidak pernah dia berkomunikasi dengan diriku, dia tidak pernah mengajak aku berbicara timbal baik. Yang ada hanya perintah dan aku harus melaksanakannya, sedangkan mendengarkan diriku, perasaanku, kebutuhanku, rasa takutku sama sekali tidak pernah.
· Karena sudah sangat tidak tahan, sangat menderita aku memanggil mama, memerlukan pertolongan dari dia: " ma, ma, ma". "an cua", sahutnya. Aku sudah berniat ingin menyampaikan sesuatu, namun tidak berani, ragu-ragu dan malu, karena yang ingin aku sampaikan ini menyangkut perasaan dan hal yang menyangkut perasaan tidak bisa dilihat dengan mata. Yang tidak bisa dilihat dengan mata bagi mama itu tidak ada dan tabu, cengeng dan lemah, sehingga membuat aku begitu sulit untuk mengeluarkan yang ingin aku sampaikan walaupun sangat penting dan sangat kubutuhkan untuk aku keluarkan. Aku merasa ragu, malu, dan takut. Namun kalau tidak kukeluarkan aku akan menderita terus, akhirnya perasaan ini mesti aku keluarkan. Namun aku tetap tidak berani langsung pada permasalahan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa menggambarkan situasi jiwaku pada mama, ketakutanku dan kesepianku. Aku hanya bilang: "wa tiam-tiam nsiu" Aku tidak berani mengatakan aku memikirkan kematian, merasa cakut dan tercekam. Aku tidak berani karena sudah jauh menyangkut perasaan yang bagi dia tidak ada dan tabu. Aku malu karena takut diejek lemah dan cengeng. Bagi mama yang ada cuma sesuatu yang bisa dilihat oleh mata. Aku takut ditertawakan kecil-kecil sudah memikirkan kematian. Mama bilang: "tiam-tiam nsiu, mai nsiu la". Papa malah mentertawai diriku. Akibat ketawa dari papa, mama jadi ikut ketawa membuat aku kecewa. Jiwaku yang dalam keadaan gawat, diriku yang tersiksa dijadikan bahan tertawaan dan tidak mendapat tanggapan yang serius dari mama yang sangat aku harapkan pertolongannya. Papa sama sekali tidak tersentuh oleh keadaanku, sama sekali tidak bisa diharapkan. Bagaimana aku bisa mengharapkan orang macam papa itu. Diriku yang tersiksa, merasa tercekam dan sangat menderita, ditertawai, dianggap lelucon, sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi situasi kejiwaanku secara serius. Namun dianggap sesuatu yang sepele dan tidak berarti.
· Aku panggil mama lagi: "ma,ma, wa tiam-tiam nsiu". "mai nsiu la", jawabnya lagi sambil agak ketawa. Papa ketawa lagi dan diikuti oleh mama. Mama menjadi semakin tidak serius akibat ketawa dari papa. "wa tiam-tiam nsiu", kataku lagi putus asa karena tidak ada tanggapa yang serius dari mama sedangkan aku mengharapkan sekali pertolongannya. Aku tidak dapat memberhentikan pikiran-pikiran yang muncul, seperti: Bagaimana rasanya seandainya aku ada di dalam peti mati yang berat, sempit , panas dan gelap. Bagaimana rasanya seandainya aku ada di dalam kubur, di dalam tanah. Bagaimana kehidupanku selanjutnya, apakah aku akan terus hidup setelah aku mati nanti. Pikiran-pikiran tersebut datang terus, aku jadi tidak berdaya dan putus asa. Kepalaku hampir pecah rasanya dan aku sangat menderita.
· Kemudian aku mendengar suara dari mama setengah tidak jelas, kemudian mejadi jelas setelah beberapa kali diulanginya. Dia menyuruh aku pergi mencari papa. Aku sama sekali tidak ada gairah untuk mencari papa karena dia tidak pernah memberi rasa dekat padaku dan tidak pernah memperhatikan diriku. Wajahnya yang ketawa sama sekali tidak menyentuh perasaanku yang sangat tersiksa dan menderita. Seakan-akan penderitaanku, jiwaku yang sangat tersiksa yang harus mendapatkan tanggapan serius dari mereka merupakan lelucon. Aku sama sekali tidak bisa mendapatkan sedikitpun yang aku butuhkan saat itu dari papa karena tidak ada tanggapan yang serius dari dia akan penderitaanku. Apalagi dia tidak pernah dekat denganku, tidak ada hubungan emosional denganku. Aku hanya kenal dia papaku saja, lebih dari itu tidak ada. Mama lebih dekat dengan diriku dan mama yang aku butuhkan karena jauh lebih aku kenal dan ada hubungan emosional denganku walau kebanyakan lebih menyakiti diriku, namun seorang anak kecil seperti aku memerlukan seorang mama. Sikap mama yang menyuruh aku mencari papa sangat mengecewakan diriku, 'masakan tidak merasakan aku begitu memerlukan dia, seorang mama masakan tidak dapat merasakan bahwa aku sangat menderita dan begitu memerlukan dia'. Aku tidak mau pergi pada papa, apalagi ketawanya itu membuat aku malu dan segan. Mama menyuruh aku sekali lagi untuk pergi cari papa yang ada di dekatnya, namun ini sama sekali tidak sesuai dengan kebutuhannku. Papa memang simbol kepala keluarga tapi dalam hal ini dia sama sekali tidak tahu-menahu, sama sekali nol. Yang aku butuhkan adalah mama karena masih ada hubungan emosianal dengan diriku, tapi dia begitu tumpul untuk merasakan keadaan jiwaku yang sangat menderita, perasaanku yang sangat tersiksa dan tercekam. Dia juga tidak bisa menolong aku. Aku sangat menderita karena merasa ditinggal sendirian dan tidak ada yang dapat kuharapkan untuk menolong aku keluar dari perasaan yang tersiksa ini.
· Akhirnya mama menyuruh aku pergi tidur. Aku masih belum mau pergi, tapi didorong terus supaya pergi tidur. Aku juga merasa tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan yang aku butuhkan. Akhirnya aku pergi tidur. Aku membutuhkan bahwa rasa takutku dan perasaanku yang tersiksa karena terisolir dari lingkungan dikenal dan ditanggapi dengan serius oleh mama dan memberian rasa pengertian, rasa penerimaan kepadaku dan sepenuh hati ada di sampingku, menghargai perasaanku bahwa aku takut dan tersiksa, bahwa aku memerlukan pertolongannya.
Erstelldatum 02/27/00 15:03

Memukul Ahiang dengan ganas saat dia minta uang

31) Memukul Ahiang dengan ganas saat dia minta uang
· Ahiang datang memanggil mama: "ma, minta lui, ma minta lui" Suara Ahiang menunjukan kebutuhan seorang anak yang tidak terpenuhi. Kebutuhan seorang anak akan perhatian dan kasih sayang orang tua. Awalnya aku merasa kurang senang akan sikap Ahiang karena kalau aku ke tempat ama selalu mendengar Ahiang minta lui sama mama. Memang mintanya tidak banyak cuma Rp 5,- atau Rp 10,-. Sesungguhnya yang Ahiang inginkan/butuhkan adalah perhatian dan kehadiran seorang mama didalam hidupnya. Seorang anak memerlukan mama. Namun seperti diriku Ahiang tidak bisa datang kepada mama dan mengatakan bahwa dia memerlukan kasih sayang dari mama, memerlukan mama memperhatikan dia dan memberikan kehangatan dan rasa suka terhadap dia. Ahiang tidak pernah diajari bagaimana menyampaikan kebutuhannya, bila kebutuhannya dirasakan olehnya. Satu-satunya cara untuk memperoleh perhatian adalah dengan meminta uang, walau bukan yang diperlukan sesungguhnya namun dia tidak punya cara lain untuk menarik perhatian dari mama.
· Ahiang datang memanggil mama: "ma, minta lui, ma minta lui" Mendengar panggilan Ahiang yang minta uang mama langsung murka, seperti singa betina yang mau menerkam korbannya, sangat jahat dan biadab. Melihat serangan dari mama Ahiang ketakutan, panik dan berteriak histeris. Uang kecil yang digenggam di tangannya, yang sangat disayanginya terlepas dari tanganya dan terpental jauh dari dia. Uang kecil bernilai Rp 5,- dan Rp 10,-. Mama sangat murka dan buas, seperti mau melahap/menelan habis anaknya sendiri. Sangat brutal dan biadab. Melihat bahaya yang mengancam Ahiang berlari masuk ke dalam kamar. Mama mengejar dia masuk ke dalam kamar. Dari dalam kamar aku mendengar suara-suara teriakan Ahiang yang keras dan histeris. Mama pasti membantai Ahiang dengan penuh rasa benci. Dia pasti melampiaskan seluruh amarahnya kepada Ahiang. Tangisan dan teriakan Ahiang yang histeris berlangsung lama dan berkali-kali. Aku yang awalnya menyangka Ahiang yang bersalah dan pantas kena pukul. Namun mendengar tangisan dan teriakan Ahiang yang keras akibat kebrutalan mama merasa hal itu tidak benar. Perbuatan mama itu tidak benar dan aku sangat mengharapkan ama dan A'i segera datang menolong Ahiang. Aku mengharapkan ama bisa bersikap tegas terhadap mama, memarahi mama dan melindungi Ahiang. Aku mengharapkan ama bersikap tegas karena ama lebih tua dari mama. Tangisan dan teriakan histeris dari Ahiang akibat pukulan mama yang kejam dan brutal karena dia melampiaskan seluruh amarah, rasa tidak puas dan bencinya terhadap Ahiang, seorang anak kecil yang memerlukan dia.
· Ama dan A'i datangdan meminta mama menghentikan pukulannya terhadap Ahiang: "ho lo la Ci, ho lo la Ci", begitu juga dengan ama meminta mama menghentikan pukulannya terhadap Ahiang. Namun sikap mereka tidaklah tegas. Aku merasa heran mengapa ama tidak bersikap tegas terhadap mama bukankah dia lebih tua, mengapa tidak melindungi Ahiang. Mereka menganggap Ahiang adalah anak mama dan adalah hak mama untuk memukul Ahiang seakan anak merupakan barang milik dari orang tua. Sikap ama tidak tegas dan juga A'i sama sekali tidak tegas. Sikap mereka seakan mama yang benar dan Ahiang yang salah dan meminta untuk menghentikan hukumannya terhadap Ahiang. Mereka tidak bertanya pada mama salah apa Ahiang sebenarnya sampai dipukul serupa itu sedemikian brutal. Ahiang sama sekali tidak bersalah. Kalau bersalahpun tidak pantas menganiaya seorang anak sedemikian rupa. Kejahatan mama tidak dilihat sebagai suatu kesalahan. Betapa kotor yang dilakukan oleh mama/orang tua dia tetap benar dan korban seorang anak kecil yang tidak berdaya justru dirasakan sebagai orang yang bersalah.
· Mama memukul Ahiang, melampiaskan amarahnya, kebiadabannya pada Ahiang sampai dia puas. Suatu perbuatan yang kotor dan menjijikan. Sungguh tidak layak jadi orang tua berbuat begitu. Dia kemudian meninggalkan Ahiang. Ahiang masih menangis. Mama meninggalkan Ahiang diikuti oleh ama dan A'i. Tidak ada seorangpun dari mereka memikirkan untuk menemani Ahiang. Perasaan apa yang berkecamuk didalam diri Ahiang setelah dianiaya oleh mama sedemikian rupa. Aku masih mendengar isakan tangis dari Ahiang. Tidak lama kemudian keadaan kamar menjadi tenang dan sunyi. Aku merasa takut kalau terjadi apa-apa pada Ahiang karena aku tidak mendengar suara sedikitpun lagi dari dalam kamar.

Aku memerlukan mama, dia langsung berbalik mengambil rotan

32) Aku memerlukan mama, dia langsung berbalik mengambil rotan
Aku memanggil mama: "ma, ma, ma". Mendengar panggilanku dia segera berbalik mengambil rotan. Tidak ada pikiran yang baik untuk diriku. Mamandang aku rendah, menganggap aku hanya bisa mengerti kalau dipukul dengan cara seperti menjinakan binatang. Dia mengambil rotan berbalik menghadap ke arahku dan senyum sinis. Senyuman sinisnya menyepelekan diriku, menganggap aku ini seperti tidak punya rasa, seperti tidak bisa sakit oleh perlakuan macam itu. Melihat sikapnya yang demikian perasaanku sangat terluka, perih nian, karena yang kuharapkan adalah kebaikan, namun dia sama sekali tidak memikirkan kebaikan untuk diriku. Aku memprotes sikapnya yang begitu menyakiti diriku, namun protesku dijawab dengan sebatan rotan, perih yang aku rasakan. Bukan saja tubuhku yang sakit dan perih tapi lebih perih lagi adalah perasaanku. Mama itu dengki nian, tidak ingin samasekali memberikan yang aku butuhkan. Diriku disebat, disakiti, senyuman sinisnya yang meremehkan aku tambah menyakiti diriku. Setelah kena sebat sekali aku segera berlari mundur ke arah pangpia supaya tidak kena sebat lagi. Aku teringat akan Akiong yang bila kena pukul memprotes orang tuanya dari situ aku juga memprotes dia. Aku memprotes perasaanku yang perih, namun aku masih mengharapkan dia. Protesku di jawab dengan sebatan rotan lagi. Dia langsung menyebat aku beruntun beberapa kali. Aku mengelak ke pangpia lagi, elakanku kuat sampai membentur pangpia. Aku memprotes kekejamannya lagi, dia menyebat aku lagi, lebih kuat dan lebih banyak kali. Sakit akibat sebatan rotan disertai perasaan yang perih bukan main karena senyuman sinisnya yang meremehkan diriku, anggap enteng diriku aku memprotes kekejamannya lagi, dia menyebat diriku lagi, lebih kuat dan lebih banyak kali lagi. Sebatannya semakin kuat, aku merasakan tangannya yang kuat, tenaga orang dewasa yang kuat, sedangkan tenagaku kalah jauh dari dia. Aku merasa tidak berdaya dan perih. Sikapnya itu sangat menyakitkan sekali karena disatu pihak aku memerlukan dia, mengharapkan dia tapi yang aku alami dari dia adalah perlakuan-perlakuan yang menyakitkan sekali sedangkan aku tidak bisa tidak membutuhkan dia. Kalau dia kemudian datang dengan baik kepada diriku juga apa gunanya lagi setelah begitu banyak menyakiti diriku. Perasaanku yang membutuhkan dia, diriku yang tergantung kepada dia membuat aku bertambah sakit merasakan penghinaan semacam itu. kemudian aku melihat tidak ada gunanya lagi memprotes karena setiap kali aku protes diriku kembali disebat dengan rotan yang ada di tangannya. Dia menjadikan aku seperti barang mainan. Terutama sekali dia ingin menunjukan bahwa dia yang berkuasa. Dia ingin menunjukan bahwa aku tidak akan berdaya menghadapi dia.
Erstelldatum 02/25/00 17:42

Ahiang berlari menuju mama dari depan sekolahnya

30) Ahiang berlari menuju mama dari depan sekolahnya
· Ahiang berlari menuju mama dari sekolahnya ketika melihat kami berjalan pulang dari tempat Amah (nenek) kemudian dia berhenti tidak berani dekat lagi karena mama melihat dia dengan pancaran wajah yang kalt dan aneh, tidak ada perasaan Ahiang itu anaknya, seakan Ahiang itu tidak berguna dan mau dibuang. Ahiang kemudian berlari pergi karena takut akan reaksi mama yang dingin dan menolak itu. Reaksi mama itu mengerikan sekali, terhadap anaknya sendiri yang membutuhkan begitu tidak berperasaan, begitu kalt!

Teng lin

29) Teng lin.
· Sangkaanku mama mau memotong susunya tentu berdarah dan akan mati, bukannya menjelaskan pada diriku teng lin itu apa, malah mempermainkan diriku dan membuat diriku tambah takut.
· Aku mendengar mama bilang sama A'mm mau teng lin. Mendengar itu aku merasa takut. Takut sesuatu yang mengerikan yang akan dilakukan oleh mama terjadi. Anehnya dia mau melukai dirinya sedemikian rupa tanpa rasa takut nanti bisa berdarah dan bisa mati. Aku merasa takut kalau mama sampai mati karena puting susunya dipotong yang pasti akan berdarah, mengerikan dia mau berbuat seperti itu karena dia bisa berdarah dan mati. Aku merasa gelisah dan khawatir dia berbuat yang nekat memotong puting susunya sendiri karena ada saja ritual dari mereka (A'mm dan mama) yang tidak aku mengerti. Sebab aku pernah melihat A'm memotong buah lanciau kucing dengan di masukkan ke dalam karung dan memotongnya (kebiri), jadi bisa jadi dia berbuat ritual semacam itu pada susunya. Memotong puting susu tentu akn berdarah, puting susu akan hiang dan berdarah, sesuatu yang mengerikan dan tentu akan sakit sekali. Aku sangat memerlukan mama dan aku sayang sama mama, jangan sampai mama merasa sakit dan sampai mati. Kalau mama sampai mati aku akan cari siapa lagi dan bagaimana dengan adikku Aheng yang masih sangat kecil, siapa yang akan menjaga dia.
· Aku mengikuti dia kesana-kemari namun tidak dihiraukan olehnya. Aku awalnya merasa takut untuk menyampaikan perasaan takutku dan mengharapkan supaya dia jangan memotong susunya. Kemudian aku berusaha memberanikan diri untuk menyampaikan perasaan takutku pada dia supaya dia jangan berbuat seperti itu memotong puting susunya sendiri yang akan membahayakan dirinya sendiri. Aku memberanikan diri untuk bilang: "ma, ma, mai la ma", "ma, ma, mai la ma". Dia membentak: "mai, mai, mai, mai an cua!" Diajukan pertanyaan seperti itu aku menjadi sangat malu, aku seperti terperangkap, tidak bisa mengelak lagi dan harus menjawab. Aku sering disalahkan sebagai anak kecil mau mencampuri urusan orang dewasa membuat aku merasa malu. Tapi bentakan dia yang bertanya demikian itu membuat aku tidak punya jalan lain kecuali harus menjawab kalau tidak ingin disalahkan dan dianggap tukang kacau. Aku menjawab dengan gugup: "mai teng lin". Dia ketawa kecil karena sekarang dia tahu bahwa aku mengkhawatirkan dia. Dia tahu bagiku teng lin itu sungguh-sungguh memotong susu. Dia mengetahui itu bukannya menjelaskan padaku arti teng lin yang sebenarbnya tapi malah mempermainkan diriku dan merasa dirinya di atas angin. Dia menjawab permohonanku dengan mempermainkan diriku: "ai teng tio teng lo, mai cah si la wa bo eng. Aku terus memohon supaya dia jangan sampai memotong susunya: "ma, mai la ma", ma, mai la ma", dia tidak memperdulikan diriku, dan kalau menjawabpun dengan kasar dan tidak memperhatikan keadaanku, perasaanku, rasa khawatir dan rasa takutku, diriku diabaikan begitu saja: " mai cah si la !", " mai cah si la !" Karena aku tidak mau kehilangan mama aku terus memohon: "ma, ma, mai la ma", ma, mai la ma". Dia mulai menjadi marah: "ta wa kong mai cha si, tio ma cha si yo!". Karena kelihatan dia mulai marah aku akhirnya menghentikan permohonanku.
Erstelldatum 02/28/00 13:21

Pulang keluar main, minta uang jajan (perhatian dan kehangatan) dilukai dan direndahkan

28) Pulang keluar main, minta uang jajan (perhatian dan kehangatan) dilukai dan direndahkan.
· Keluar main aku segera berlari pulang dengan gembira untuk minum air. Pakai lari karena waktu keluar main terbatas. Hari sebelumnya aku sudah pernah pulang keluar main untuk minum air dengan lari dan kembalinya juga dengan lari. Sampai di sekolah pas masuk kembali.
· Sampai di rumah aku melihat mama dan aku merasakan kebutuhanku untuk medapatkan perhatian dan penerimaan darinya. Sikap mama yang melihat aku pulang tidaklah datang menyambut aku dengan hangat dan gembira tapi dengan senyum sinis melihat diriku yang bebas dan riang-gembira (ada perasaan iri didalam dirinya terhadap diriku). Melihat tidak ada sambutan baik dari dia aku merasakan kebutuhanku akan sikap yang memperhatikan (perhatian dan kehangatan) dari dia terhadap diriku. Aku tidak tahu bagaiman cara menyampaikan kebutuhanku itu dan juga aku merasa malu terhadap hal-hal yang menyangkut perasaan sebagai sesuatu yang lemah dan cengeng dan aku dirumah juga tidak pernah diajari bagaimana caranya menyampaikan kebutuhanku supaya orang tua tahu bahwa saat itu aku memerlukan mereka. Satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah dengan minta uang sebagai pengganti dari meminta perhatian, kehangatan dan penerimaan, walau minta uang itu tidak dapat disamakan dengan kebutuhanku yang sebenarnya, tidak sungguh akan memuaskan kebutuhanku yang sebenarnya namun aku tidak punya cara lain.
· Aku memanggil mama: "ma', ma' minta lui." Dia membentak dengan kasar: "boi sai!" "cai khi baru kio lui ci cun tio ai kio lui lagi." Sikapnya yang membentak dan kasar sangat melukai diriku yang membutuhkan kebaikan darinya. Tidak ada sikap yang menerima, suka padaku atau kehangatan seperti yang aku butuhkan, yang ada sikap yang dingin dan menolak. Aku memaksa dengan menginginkan terus yang aku minta karena kecewa dan mulai terluka. Dia menolak dengan membentak: "boi sai! Cai khi baru kio lui ni ci cun tio ai kio lagi." Sikapnya yang kasar dan menolak membuat aku kecewa dan terluka. Aku menjadi marah karena terluka dan mendesak terus. Melihat diriku yang mendesak dengat amat-sangat mengingikan yang aku inginkan dia menjadi agak bimbang (mau kasih atau tidak, mau kasih atau tidak). Kemudian akibat desakanku yang semakin kuat lagi akhirnya dia melepaskan uangnya namun dengan cara melemparkannya ke bawah tanah. Aku menangis karena perasaanku sangat terluka. Sikapnya sangat menghancurkan perasaanku. Aku memerlukan kebaikan dan penerimaan yang hangat dari dia namun yang aku rasakan diperlakukan bagai sampah. Namun tangisanku membuat diriku merasa cengeng dan lemah karena diriku selalu disalhkan dengan kata-kata: "tampo-tampo tio tua!" (sedikit-seditkit sudah merengek). Air mataku yang mengalir menghindari aku untuk melihat, aku tidak dapat melihat dia dengan jelas, tapi kabur. Aku merasa diriku kecil-kecil sudah tua, sudah tidak dapat melihat dengan jelas (segala sesuatu yang tidak beres saat itu kurasakan sebagai kekurangan dan kesahanku).
· Aku mencari-cari uang yang ada dilantai namun karena mataku ditutupi air mata dan diriku yang merasa perih, pilu dan pahit akibat perbuatan mama membuat aku tidak menemukan uang yang aku cari. Karena tidak menemukan uang yang aku cari membuat aku takut disalahkan lagi: 'kecil-kecil sudah buta seperti orang yang sudah tua'. Aku merasa takut diriku ini lemah, tidak mampu mengatasi keadaan. Diriku sering dicemooh oleh mama dan sering dikritik. Kemudian dia menunjukan pada diriku: "he peng ho!", he peng ho!" Aku dalam keadaan panik karena takut dicemooh dan disalahkan lagi dan dengan pandangan mata yang masih kabur tidak dapat melihat dengan jelas arah mana yang baru saja dia tunjukan. Suara yang bernada membentak membuat aku bertambah panik. Aku tidak menemukan uang yang aku cari. Kemudian dia menujukan dengan ujung jari kakinya (letak uang itu ternyata dekat dengan dia dan di sebelah kiriku). Walau pandangan masih kabur akhirnya aku menemukan uang itu dan aku ambil, cuma Rp 10,-, sangat sedikit untuk dapat membeli sesuatu (untuk bisa jajan lagi) dan tidak ada artinya uang yang aku perolah itu dengan hianaan yang dia lakukannya terhadap diriku. Kekasaran dan hinaan dari dia yang sangat melukaiku, melemparkan uang ke lantai dan menunjukan tempat uang dengan jari kakinya seakan aku ini sampah) ditambah lagi dengan uang Rp 10,- yang tidak punya arti apa-apa membuat aku jadi sangat tidak puas. Aku memprotes dan meminta Rp 25,-. Walaupun uang Rp 25,- tidak akan bisa mengobati perasaanku yang telah terluka, reaksi meminta uang tambahan yang lebih banyak ini tidak lain dari pada pengeluaran rasa protes terhadap dirinya yang melukai perasaanku. Dia menjawab dengan nada sinis dan meninggi: "ta wa ncia tan le o!", "ta wa cia tan le!" Sikapnya itu tambah melukai dan menyakiti diriku. Perih dan marah membuat aku melemparkan uang ke luar dari jendela sebagai protes dari sikapnya yang dingin, kasar dan menolak. Namun reaksi itu hanyalah sebagi pelampiasan rasa tidak puas akan atas sikapnya terhadap diriku. Uang yang hilang aku buang itu menimbulkan rasa sakit dan perih dalam diriku. Sakit dan perih akan uang yang aku buang. Uang yang tidak bersalah dan sangat aku sayangi sampai kemudian sering muncul dalam mimpi aku menemukan banyak uang Rp 10,- di kebun ubi jalar. Aku menggali tanahnya yang lembur sebelum ditanami ubi jalar dan di sana aku menemukan tumpukan uang Rp 10,- an.
· Dia bilang: "le kua yo, soi-soi han tio ha ni kua nhui tau!" Dia mempersalahkan aku membuat aku merasa takut dan bersalah. Dia berkata lagi: "le kua yo, soi-soi han tio ha ni kua nhui tau!" "tan am mi lai tau papa." Dia akan mengadu papa nanti malam membuat aku merasa takut akan terjadi yang lebih jelek lagi pada diriku nanti malam. Keadaan sekarang saja sudah cukup menderita bagiku, kalau dia adu papa, pasti papa akan mempersalahkan diriku karena aku telah membuang uang yang dikasih dia dan ini akan menjadi beban psikis dan mental tambahan bagiku. Aku mengikuti dia sampai ke belakang untuk memohon agar dia jangan sampai mengadu papa. Karena merasakan ketakutanku dia menggunakan kesempatan ini untuk menunjukan kekuasanya terhadap diriku dan terus mempermainkan diriku karena telah mengetahui letak ketakutanku/kelemahanku. Dari perbuatannya yang kasar, menghina dan menyakiti diriku aku masih mengharapkan penerimaan dari dia lagi dengan panggilan: 'ma, ma' untuk memohon pada dia jangan sampai mengadu papa dan masih juga mengharapkan penerimaan dari dia.
Erstelldatum 02/19/00 10:40

Menunggu mama mencuci baju, sehabis mencuci langsung menuju pada Aheng

27) Menunggu mama mencuci baju, sehabis mencuci langsung menuju pada Aheng
· Aku menunggu mama yang sedang mencuci baju karena aku memerlukan mama. Aku sangat mengharapkan mama lekas selesai dan datang padaku dan memperhatikan diriku. Apakah setelah selesai mencuci pakaian dia akan datang padaku seperti yang aku harapkan atau tidak itu sangat membuat aku tidak tenang karena dari pengalaman-pengalamanku sebelumnya terasa berat sekali bagi dia untuk memenuhi kebutuhanku. Memenuhi kebutuhanku bagi mama adalah beban. Diriku dipandang sebagai pengganggu. Kebutuhanku tidak pernah dihargainya dan dia selalu menganggap kebutuhanku sebagai gangguan. Aku tidak bisa bilang pada mama bahwa aku memerlukannya karena aku tidak pernah diajari bagaimana aku menyatakan kebutuhanku kepadanya. Aku menjadi gugup saat menunggu karena apakah dia akan datang memenuhi yang aku butuhkan bila aku hanya menunggu dan tidak bilang apa-apa kepada dia. Apakah dia akan datang seperti yang kukehendaki aku merasa kurang yakin tapi aku sangat memerlukan dia. Tanpa dia aku tidak bisa hidup. Akhirnya aku berusaha melupakan keraguan yang menghantui dan mengganggu diriku ini dan menunggu dia sampai dia selesai mencuci baju karena aku tidak punya jalan lain dalam hidup ini. Aku ada di sana dan aku harus hidup. Namun bagaimanapun ketidakpastian ini membuat aku sangat tersiksa. Hal yang membuat aku tersiksa karena aku tidak bisa bilang sama dia 'mama aku memerlukan dirimu', karena hal semacam ini tidak pernah diajarkannya kepadaku. Aku hanya menekan perasaanku dan menanti moga-moga dia mengenali perasaan dan kebutuhanku dan datang kepadaku memberikan rasa dekat, rasa penerimaan dan kelembutan seperti yang aku rindukan dari dia. Tapi dengan cara menunggu begini sangatlah tidak pasti dan ketidakpastian ini membuat aku sangat tersiksa, khawatir dan gugup.
· Aku menunggu dan menunggu dan mengharapkan semoga dia cepat selesai. Aku merasa tersiksa sampai tidak tahan menunggu dan ingin memanggil dia namun tidak berani karena takut kena marah karena dia sedang mencuci pakaian. Lalu aku menunggu tanpa ada ujung kapan dia akan selesai terasa tersiksa sekali. Aku sangat mengharapkan sekali kapan saat dia menumpahkan air dari ember cucian tiba karena itu menunjukan dia telah selesai dengan cuciannya dan tinggal berkemas-kemas saja dan ini tentu tidak akan memakan waktu yang lama. Setiap kali aku melihat dia bergerak agak banyak saat itu juga melompat harapanku dan diriku menjadi agak lega karena menyangka dia sudah hampir selesai dengan cuciannya. Namun beberapa kali hanyalah gerakan kecil yang tidak menunjukan dia sungguh selesai dengan cuciannya. Beberapa saat kemudian aku melihat dia menumpahkan air dari ember cucian dan aku merasa lega sekali. Sangkaanku kali ini dia pastilah sudah selesai dengan cuciannya dan aku tidak harus menunggu lama lagi. Namun kemudian aku jadi kecewa lagi karena ternyata dia hanya menumpahkan air kotor bukan berarti telah selesai mencuci . Sekarang dia mulai dari awal lagi membilas pakaian dari awal. Tidak terpikirkan olehku bahwa dia harus membilas lagi dan itu memakan waktu yang lama lagi. Hal ini membuat aku merasa sangat kecewa. Aku harus menunggu lama lagi. Terasa sangat tersiksa dan lama tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Kalau aku panggil dia kemungkinan besar aku akan disalahkan dan dimarahi. Aku menunggu lagi. Aku menderita.
· Beberapa saat berlalu dan perlahan-lahan aku melihat dia mulai selesai dengaan cuciannya dan diriku semakin gugup saat menunggu dia mengkemaskan baju cucian dan ember yang berlangsung beberapa saat. Saat ini aku nantikan dengan jantung berdebar, rasa khawatir, tangan yang dingin dan perasaan yang gugup karena aku tidak tahu pasti apakah yang sangat aku harapkan ini akan aku dapatkan. Ketidak pastian ini membuat aku sangat gugup, penuh dengan rasa khawatir dan menderita.
Setelah selesai mengkemaskan pakaian / hasil cucian dan ember-ember dia berjalan berlalu begitu saja melalui depanku tanpa melihat ke arah diriku yang menunggu dan sangat mengharapkan dia. Dia langsung berjalan menuju pada Aheng. Perasaanku sangat terluka. Betapa menyakitkan, marah, perih dan kehilangan harapan berkecamuk didalam diriku. Sedih yang mendalam dan merasa diriku ini tidak berguna (bo eng). Dia berlalu begitu saja dari hadapanku tanpa menoleh ke arah diriku menuju pada Aheng. Tak tertahankan rasanya, aku merasa kehilangan segala-galanya karena dia sudah pergi dari diriku dan karena aku tidak bisa membelokan dia untuk datang memperhatikan diriku dan menyukai diriku dan ini juga sebenarnya bukan kewajibanku tapi kewajiban dia sebagai orang tua. Aku tidak bisa hidup dengan keadaan seperti ini. Aku merasa entah kenapa diriku ini tidak pernah benar sehingga selalu ditolak. Apapun yang aku lakukan aku tidak pernah benar bagi mereka (mama, A'i dan papa) dan selalu ditolak oleh mereka. Entah apa yang harus aku lakukan supaya bisa benar dan diterima oleh mereka seperti Aheng tidak berbuat apa-apa namun selalu benar karena diterima dan tidak selalu disalahkan seperti yang aku alami. Aku sangat terluka dan marah terhadap Aheng yang merebut cinta mama dari diriku, karena Aheng maka diriku ditinggalkan oleh mama. Perasaan benci/marah terhadap Aheng yang aku rasakan sebagai akibat dari perasaanku yang terluka aku rasakan sebagai rasa iri hati terhadap Aheng dan membuat aku merasa diriku mempunyai sifat yang jelek, buruk, kasar dan jahat. Sedangkan mama yang punya hati menerima dan memperhatikan Aheng timbul gambaran dalam diriku Aheng baik dan bersih sedangkan diriku buruk, kasar, kotor dan juga busuk hati.
· Aku masih menunggu dan masih mengharapkan mama datang padaku walaupun dia saat itu sudah menggendong Aheng harapan yang sesungguhnya tidak mungkin dapat terpenuhi karena dia sudah sibuk dengan diri Aheng. Aku kemudian berusaha untuk memperoleh yang aku butuhkan. Aku mendekati dia dengan keluhan-keluhan dan menginginkan dia memperhatikan diriku dan datang padaku. Dia hanya bertanya:"an cua, ai si mi, ai simi tio kong lo, bo kong wa mana e cai", "ai simi tio kong lo, bo kong wa mana e cai" Dia menggendong Aheng dan aku terlantar sendirian. Jiwaku sangat hampa, aku merasakan kesepian yang mencekam, sendirian dimalam hari, terlantar sendirian. Aku memerlukan mama namun dia tidak datang kepadaku. Dia terus menggendong Aheng dan semakin lama semakin aku merasakan tidak ada harapan untuk mendapatkan penerimaan dari dia, semakin tidak mungkin dia akan melepaskan Aheng dan datang memperhatikan diri Aheng dari sikapnya yang sepenuhnya memperhatikan diriku dan tidak membagikan perhatiannya pada diriku. Aku merasa sangat kecewa dan kosong.
· Kebetulan papa pulang dari kerja dan mama segera menyuruh papa melihat diriku perlu apa. Segera terngiang dalam benakku yang mama maksudkan adalah barang bukan kebutuhan jiwaku. Aku kecewa akan sikapnya terhadapku yang demikian. Mama bilang pada diriku perlu apa bilang sama papa supaya papa bisa mengambilkannya untuk aku. Aku merasakan yang dikeluarkan mama begitu dingin dan tidak menyinggung sama sekali yang kubutuhkan. Aku bukan memerlukan barang dan aku tidak memerlukan papa mengambil sesuatu untuk diriku dan aku juga tidak memerlukan papa. Yang aku butuhkan adalah mama. Yang aku harapkan adalah mama. Yang aku inginkan adalah supaya mama datang sayang padaku tidak meninggalkan aku sendirian, kesepian, merana dan merasa kosong sebab sendirian dan sepi. Papa datang melihat sebentar dan aku tidak begitu suka akan kedatangannya, sebab kalau dia datang maka mama tidak akan datang padaku lagi. Aku diam dan bersikap menolak. Papa sebentar sudah pergi lagi dan bilang sama mama 'tidak ada apa-apa'. Namun setelah papa pergi aku mengeluh pada mama lagi. Menginginkan dia sendiri yang datang padaku. Kemudian papa disuruh lagi untuk datang melihat diriku perlu apa dan aku diam lagi. Kemudian setelah papa pergi aku mengeluh lagi menginginkan kedatangan mama. Papa beberapa kali diminta oleh mama untuk memperhatikan apa yang aku inginkan atau aku perlukan tapi bila papa datang aku tidak menjawab dan papa pergi lagi. Aku mengeluh lagi pada mama dan mama menyuruh papa datang melihat lagi apa yang aku perlukan namun saat papa datang aku diam lagi karena aku sama sekali tidak memerlukan papa dan dia juga tidak punya rasa suka atau gembira akan diriku sehingga aku juga tida merasa memerlukan dia atau senang ikut dia. Aku mengingikan mama karena aku memerlukan seorang mama sebagai pemberi rasa aman, memberi ketenangan dan kenyamanan kepadaku. Karena mama telah beberapa kali menyuruh papa datang melihat apa yang aku inginkan namun kedatangan papa tidak aku layani. Mama beberapa kali berkata dengan berat: "an cua, ai si mi, ai simi tio kong la bo kong papa mana e cai", "ai simi tio kong la bo kong papa mana e cai" Namun bagimanapun papa tidak bisa menggantikan seorang mama yang aku butuhkan. Kedatangkan papa juga bukanlah memperhatikan perasaanku tapi perhatiannya lebih kearah material, barang apa yang aku perlukan. Akhirnya karena tidak ada jawaban dariku papa pergi lagi dan bilang sama mama lagi tidak ada apa-apa. Kemudian mama menyuruh aku masuk kamar pergi tidur. Aku takut mengeluh lagi karena sudah beberapa kali mama meyuruh papa datang melihat diriku dan tidak ada jawaban dariku. Aku takut kalau aku mengeluh lagi mama akan marah, berang dan memukul diriku, menyebat diriku dengan rotan dan mencap aku sebagai pengacau. Karena takut akhirnya aku menuruti suruhan mama. Dengan perasaan yang sangat kecewa, kosong, merana dan kesepian yang mendalam aku memasuki kamar sendirian. Ditinggalkan sendirian oleh mama dan juga papa. Aku menderita sekali, tersiksa sekali. Kebutuhanku dan kerinduanku akan kehadiran seorang mama tidak pernah aku rasakan dan aku menjadi sangat menderita karenanya.
Erstelldatum 02/23/00 11:02

Membungkus Ang Pau

12) Membungkus Ang Pau.
· Mama sedang membungkus ang pau. Aku merindukan perhatian dari mama dan mengharapkan dia memberikan kegembiraan kepada diriku karena besok sudah 'ke ni', hari yang istimewa dan aku merindukan perhatian yang istimewa dari mama. Aku bertanya kepada mama aku dapat berapa untuk ang pau tahun ini karena setiap tahunkan jumlahnya bertambah. Mama seperti merasa tidak suka ditanya begitu dan menjawab dengan kasar dan tidak jelas. Kata-kata yang dikeluarkannya tidak dapat kumengerti karena tidak jelas.
"ce ban yo?" tanyaku sebagai reaksi protes atas sikapnya yang kasar dan mengecewakan diriku yang tidak memenuhi harapanku akan sikap yang istimewa, gembira dan menyukai diriku. Pertanyaanku tidak diperdulikan olehnya. Aku tanya lagi: "ce ban yo?". Kemudian dia menjawab dengan kasar: "yo!", "ta le kong yo lo!", "ce lang ce ban!". Nadanya kasar dan menolak membuat aku tambah kecewa ditambah lagi dengan jumlah uang yang dia pukul rata. Bagi Acuan yang jauh lebih muda dari aku mendapat jumlah yang sama dengan aku yang berumur jauh lebih lebih tua dari dia yang jelas-jelas kebutuhanku akan uang lebih banyak dari Acuan. Keputusan mama kurasakan sewenang-wenang. Terutama aku merasakan dia tidak menyukai diriku sehingga berlaku kasar, pukul rata dengan tidak memperhatikan diriku yang jelas mempunyai kebutuhan uang yang lebih dari adik-adik yang masih kecil dan tidak mau tahu akan diriku. Sikapnya itu menyakiti perasaanku dan membuat aku merasa tidak puas. Mana mungkin adik yang umurnya 5 tahun lebih muda bisa disamakan begitu saja dengan diriku. Aku merasa dilecehkan. Selain itu sikapnya kasar sekali terhadap diriku, memusuhi dan menolak.
· Aku merasa diriku dilecehkan dan sikapnya yang kasar, memusuhi dan menolak, menyakiti perasaanku aku memprotes dengan cara meminta uang yang lebih banyak. Aku meminta lebih. Bagi aku ce ban itu jadi terlalu sedikit. Dia langsung menjawab dengan kasar, dingin dan menyakiti sekali: "ta wa cia tan le!" "ai kio tio kio mai kio tio sua!" , "ai kio tio kio mai kio tio sua!" Jawabannya itu dingin, kasar dan menyakiti sekali dan tidak ada rasa persahabatan. Aku merasa sangat perih dan sangat tidak puas oleh jawabannya/sikapnya yang demikian. Dia tidak pernah memberikan penerimaan yang baik kepadaku namun selalu berbuat yang menyakiti diriku dengan sikapnya yang selalu kasar dan menolak diriku. Aku merasa ingin sekali memisahkan diri dari rumah, yang sesungguhnya ingin memisahkan diri dari dia karena diriku selalu disakiti dan dikecewakan oleh dia dengan sikapnya yang kasar, memusuhi, mempersalahkan diriku, tidak ada rasa persahabatan dan penerimaan terhadap diriku, namun selalu menolak dan menyakiti.
· Aku ingin memisahkan diri dari mama (keluarga) dan ingin medapatkan bagian dari hartaku sebagai tanda pisah dari mereka. Reaksiku ini tidak lain dari pada protes terhadap sikap mama yang dingin, kasar, memusuhi dan menyakiti diriku. Yang kurasakan sebagi hartaku adalah gun tun yang aku dengar dikasih Ama (nenek) kepadaku, barang bernilai satu-satunya yang kumiliki. Aku dengar gun tun itu sangat berharga. Aku yang teluka memprotes sebagai reaksi dari rasa tidak puas terhadap sikap mama: "wa e gun tun kio lai", "wa e gun tun kio lai". Dia sudah lupa gun tun apa yang aku maksud. "ama heng wa e gun tun", jawabku. Dia mungkin ingat kembali dan berkata dengan kasar: "cuh e de ke kio !", "cuh e de ke kio !". Aku awalnya kurang mengerti yang dia maksud, yang aku inginkan hanyalah gun tun kepunyaanku sedangkan dia bilang ambil semua gun tun yang ada di rumah. Melihat kejadian itu papa merasa tidak senang terhadap aku dan sikapnya menyalahkan diriku membuat aku merasa bersalah dan malu. Merasa malu karena merasa dicap mau merebut harta keluarga. Kecil-kecil sudah mau merebut harta. Aku bukannya mau merebut harta. Reaksiku ini tidak lain daripada protes terhadap sikap mama yang menyakiti dan mengecewakan diriku. Perbuatan mama itu sangat tidak layak karena sebagai seorang mama hendaknya memenuhi yang aku butuhkan: perhatian, sikap yang lembut dan rasa suka terhadap anaknya. Yang aku alami adalah sebaliknya, diriku disakiti dan dikecewakan oleh dia. Aku merasa sakit oleh sikap dia yang tidak pernah mau menerima diriku, tapi selalu cenderung menyakiti diriku setiap kali aku memerlukannya. Setiap kali aku datang mencari dia selalu terpental kembali dengan perasaan yang perih. Sambil menangis aku mencari dan mengambil gun tun kepunyaanku. Sedih karena merasa tidak diinginkan oleh keluarga sendiri dan tidak pernah disukai atau diterima oleh mereka/mama. Aku malu terhadap adik-adik karena aku yang paling besar 'menangis' (merasa diriku cengeng) dan 'memprotes' sedangkan mereka 'tenang dan diam' sehingga aku merasa aku satu-satunya yang paling tidak benar/jelek. Aku akhinya mendapatkan gun tun yang kucari dan pergi dengan perasaan malu dan kosong, seperti mengalami kekalahan. Kekalahan yang bukan salahku tapi diakibatkan oleh kekejaman dan kesadisan seorang mama yaitu Lien Ke.
Erstelldatum 02/23/00 16:28

Mengajak Aheng nonton pulang ditanya mama

25) Mengajak Aheng nonton pulang ditanya mama
· Pulang sekolah aku sering mengeluyur di sekitar bioskop Ria dan dan kadang-kadang bioskop Mega. Ide ini datang dari Seng Kiong. Katanya bisa gentol orang dewasa masuk tanpa harus bayar. Aku menjadi anak yang tidak disenangi oleh penjaga pintu bioskop.
· Suatu saat aku melihat ada film yang bagus dan aku pengen nonton. Di rumah aku mengajak Aheng nonton. Biasanya dia tidak mau mengikuti ajakanku karena dia punya mama yang menjaganya, melindunginya, sedangkan aku terlantar sendirian, diperlakukan bagai sampah dan dirasakan sebagai beban dan pengganggu oleh mama. Aku membujuk Aheng supaya dia mau ikut dengan mengatakan pada dia kalau sekarang tidak mau nonton nanti mati tidak bisa nonton lagi. Akhirnya Aheng terbujuk olehku dan ikut aku pergi nonton.
· Aku membeli karcis. Satu karcis untuk kami berdua. Biasanya kalau nonton orang-orang membeli kacang, es dan makanan-makanan kecil lainnya untuk kenikmatan. Aku membeli satu kotak kecil gula tik tak. Kotaknya bagus dan menarik. Kami masuk dan duduk di tempat yang sesuai dengan nomornya. Di samping kami duduk seorang dewasa yang ramah dan baik. Dia menawarkan gula-gula yang dibelinya dengan ramah dan baik hati. Sebelumnya aku menolak namun ditawari dengan sepenuh hati dan ramah sehingga akupun menerimanya dan aku juga ambil untuk Aheng. Aku merasa terlalu sayang kalau tik tak-ku cepat habis karena itu pertama kali dalam hidupku aku mampu membelinya. Bagiku tik tak itu merupakan barang mewah karena tidak setiap saat aku mampu membelinya. Untuk saat yang istimewa itulah (nonton) baru aku membelinya. Aku tidak menawarkan kepada laki-laki dewasa yang baik itu karena sayang/takut cepat habis. Aku merasa bersalah karena dia menawarkan makanan untuk kami namun aku tidak menawarkan tik tak ku kepada dia. Aku merasa diriku pelit. Aku merasa bersalah dan menjadi minder. Laki-laki dewasa itu ingin ngobrol dengan aku tapi aku sedemikian mindernya disertai perasaan diri kotor dan bersalah sehingga aku mengelak untuk ngobrol dengan dia. Dari situ timbul lagi rasa bersalah karena aku mengelak orang yang sedemikian ramah dan baik terhadap kami. Aku menderita sekali. Aku menderita rasa bersalah yang hebat namun aku tidak tahu kenapa aku begitu menderita rasa bersalah.
· Sampai di rumah mama ternyata telah mencari kami dan bertanya ke mana kami pergi. Aku takut kena pukul sebagaimana biasanya bila ada sesuatu yang dianggap salah oleh mama maka aku akan dipukul oleh dia. Aku takut sehingga tidak menjawab pertanyaannya, hanya bilang: "bo la, bo la" untuk mengelak. Namun Aheng menjawab tanpa ada rasa takut seperti aku: "ke kua hi". "Ke kua hi, an cua ai te i ke nkua?" Kata-kata mama 'an ncua ai te i ke khua', seakan-akan aku ini sampah kotor dan Aheng anaknya yang bersih jangan sampai mencampuri diriku, jangan sampai ikut denganku yang besar, kasar dan kotor. Mama bertanya pada Aheng mendesak Aheng untuk menjawab. Aheng menjawab dengan polos tanpa rasa takut: "e pai si liau bo tang nkua". "e pai si liau bo tang nkua", mama mengulangi kata-kata Aheng sambil ketawa diikuti oleh papa. Mama tanya Aheng lagi, "siang kong e ?" "Ace", jawab Aheng. Mama dan papa ketawa dan aku malu sekali. Aku merasa malu sekali. Aku merasa diri tua, kotor, culas, punya pikiran yang licik, jahat, jelek dan kotor tukang mengajari yang bukan-bukan.
Erstelldatum 03/04/00 15:21

Beli mie tumpah ditertawakan, bukannya dihibur

24) Beli mie tumpah ditertawakan, bukannya dihibur
· Di rumah dengan perasaan kosong timbul perasaan ingin makan mie. Mie dulu merupakan barang besar bagiku karena selain enak juga harganya termasuk mahal bagi jangkauanku. Membeli sebungkus mie berarti mengeluarkan sejumlah besar uangku. Itu sebabnya aku tanya mama, minta persetujuan mama, apakah aku boleh beli mie atau tidak dan ini dengan uangku sendiri. Mama menjawab dengan begitu tidak senang: "u tam po lui tio cia heng i liau". Aku merasa dituduh punya sifat seperti hua na, sifat yang tidak bisa menyimpan uang, sifat yang tidak pikir panjang. Aku sebenarnya juga merasa sayang untuk mengeluarkan uang tabunganku yang ada semuanya sekaligus. Uang tabunganku ada sekitar Rp 500,- dan harga mie itu tidak pakai telur Rp 350,- dan kue tiau yang pakai telur sampai Rp 400,- . Kalau uang tabunganku aku pakai untuk membeli sebungkus mie maka akan tinggal sedikit hampir tidak berarti. Tapi aku tidak bisa mengurungkan niatku lagi dan mendesak mama supaya menyetujuinya. Akhirnya mama menyetujuinya namun dengan membentak seperti tidak rela menyetujuinya, seperti tidak rela melepaskan aku untuk pergi beli mie. Dia bilang: "ai boi tio ke boi!" Aku mengeluh lagi karena aku tidak percaya penuh bahwa dia menyetujuinya, aku takut nanti disalahkannya kalau aku pergi beli. Nadanya yang membentak dan tidak rela melepaskan aku pergi beli mie membuat aku tidak mempercayai kata ai boi tio ke boi dari dia. Kemudian aku merasa agak pasti setelah dia bilang: "wa sudah ta de kong ai boi tio ke boi ku cai te le cau lagi" Akhirnya aku mengambil sepeda papa dan pergi beli mie.
· Pertama kali aku pergi beli mie. Pertama kali aku mengeluarkan uang sebesar itu. Keputusan yang tidak mudah. Aku pergi beli mie di depan SMP II. Sampai di sana aku bilang dengan rasa gugup mau beli sebungkus mie. Aku melihat penjual mie itu sedang memasak mie untuk seorang anak Tio Ciu yang lebih besar sedikit dariku. Anak Tio Ciu itu ngobrol dengan akrab dengan penjual mie itu. Dia kelihatan bebas, riang dan unbelastet, berbeda sekali dengan diriku yang merasa diri jelek, miskin, kuno dan merasa diri kurang bernilai. Dia tidak merasa minder berbicara dengan orang dewasa, dengan orang yang lebih besar dari dia. Aku merasa minder kalau berbicara dengan orang yang lebih tua dari aku. Ini merupakan akibat dari ajaran mama yang salah serta perlakuannya yang membuat aku merasa kurang bernilai. Mie yang dibuat untuk anak Tio Ciu itu selesai dan tukang mie membungkus mie untuk anak itu. Sebelum selesai membungkus, anak Tio Ciu itu sudah bilang dia minta satu kantong Asoy, padahal kemungkinan besar dia tinggal tidak jauh kerena kenal baik dengan tukang mie dan juga jalan kaki. Anak itu berani menyatakan kebutuhannya sedangkan aku merasa minder. Aku tidak berani meminta kantong Asoy dari tukang mie walau aku memerlukannya karena aku naik sepeda, karena tidak minta dia juga tidak kasih. Aku merasa minder, merasa aku ini orang Hok Kein, orang miskin. Dalam benakku orang tio ciu lebih tinggi tinggkatannya/nilainya: lebih bersih dan lebih punya (kaya), sedangkan orang Ho Kien miskin (tukang kebun/petani) dan jorok.
· Selama menunggu mie yang aku pesan aku merasa tegang dan akhirnya mieku dimask selesai juga. Aku membayar dengan uang ratusan yang ada. Harga mie itu Rp 350,- Aku menyediakan uang ratusan 4 lembar karena aku tahu benar harga mie saat itu. Tukang mie itu tidak memberi aku kantong Asoy. Yang kuterima hanya sebungkus mie yang telanjang dan tergantung pada tali pisang sangat tidak stabil dan bisa tumpah. Tukang mie itu tidak memperdulikan diriku bahwa aku naik sepeda perlu kantong Asoy dan bisa tumpah karena goyangan sepeda. Orang itu memang jahat. Aku tidak berani menyatakan kebutuhanku (akibat dari hukuman-hukuman yang aku terima setiap kali bila berusaha menyampaikan kebutuhanku pada mama. Gangguan ini masih aku rasakan sampai sekarang).
· Aku mengambil mie itu pulang dengan bungkusan yang telanjang tanpa kantong Asoy. Aku merasa malu diketahui kelemahanku tidak berani meminta kantong Asoy pada tukang mie dan malu kalau diketahui aku mendapat kesulitan membawa mie pakai sepeda dengan bungkusan yang telanjang. Segala sesuatu yang kurang atau salah aku rasakan sebagai kesalahanku. Saat aku baru mulai mau jalan, hujan mulai turun. Aku baru saja mendayung beberapa kali hujan mulai turun dan semakin-lama semakin aku rasakan. Aku mendayung dengan cepat, tapi mie yang tergantung bergoyang dengan keras tidak mengijinkan aku berdayung dengan cepai karena takut mie nanti tumpah. Aku mengurangi kecepatan. Tapi hujan semakin lama semakin deras sehingga aku tidak bisa memperhatikan mie yang tergantung di stang. Sampai di dekat jembatan tiba-tiba terdengar suara besar "plak". Apa itu. Ternyata mie-ku hilang dan tertumpah di atas jalan. Aku seperti kena sambar geledek. Tidak mau percaya kalau mie aku tumpah dan aku tidak punya apa-apa lagi. Mie yang tertumpah di atas jalan dengan disertai hujan yang lebat tidak dapat aku selamatkan lagi. Sudah disapu oleh hujan yang lebat. Namun ingin rasanya aku pulang ambil senter dan memutik kembali mie yang tertumpah itu karena uang yang begitu banyak, uang yang aku tabung begitu lama, jerih payahku pergi beli mie dan tunggu lama habis dalam waktu sekejap (keesokan harinya aku kembali ke tempat kejadian sudah tidak ada berkasnya lagi).
· Rasa perih yang amat sangat bercampur rasa takut disalahkan oleh mama aku pulang. Sampai di rumah aku bilang mie-ku tumpah. Aku menangis dan memerlukan dukungan mental dan rasa aman dari mama. Namun mama bukannya menopang perasaanku tapi malah berbuat sebaliknya dia tambah memperdalam luka perasaanku dan tambah memberatkan diriku dengan kata-katanya. Dia ketawa dan bilang: "obi, obi , tio!, tio! ". Dia tambah menghancurkan perasaanku yang sudah sangat terluka. Dia itu sangat tidak manuasiawi. Bebanku menjadi semakin berat hampir tidak kuat aku menanggungnya. Papa juga ketawa, dia tidak merasakan keperihan perasaanku dan juga tidak berusaha menolong aku. Aku merasa ditinggalkan sendirian oleh mereka berdua.
Erstelldatum 02/26/00 18:37

A'i meninggalkan aku saat aku mau ikut dia dengan cara dibohongi disuruh kebelakang kemudian mama memandang diriku dengan senyuman yang membuat aku ta

23) A'i meninggalkan aku saat aku mau ikut dia dengan cara dibohongi disuruh kebelakang kemudian mama memandang diriku dengan senyuman yang membuat aku takut.
· A'i ingin pulang dan aku ingin ikut A'i namun A'i tidak mengijinkan aku untuk ikut. Awalnya A'i menolak namun kemudian bersikap netral tidak menerima namun juga tidak menolak setelah melihat aku begitu ingin ikut dia. Sedangkan mama dengan tegas menolak. Dia bilang siapa yang akan mengantar aku pulang nantinya. Karena melihat aku mati-matian ingin ikut, A'i seperti punya rasa ingin mengijinkan aku untuk ikut dia tapi mama menolak: "mai la Bo tan siang bo cua i teng lai a !" "Na nin nang hia cong nin nang ma huan be." "mai la Bo cong ma huan be." Mama bilang aku hanya akan merepotkan mereka (ama dan A'i) saja kalau aku ikut. Tidak terpikirkan oleh mama bahwa kehadiranku mungkin juga bisa merupakan kegembiraan bagi A'i dan ama.
· Aku ingin ikut terus, mati-matian ingin ikut. A'i diam di situ tidak bergerak sambil memegang sepedanya karena aku mati-matian ingin ikut dan tidak diperbolehkan oleh mama.
Mama kemudian menyuruh aku ke belakang. Kalau aku mau ikut aku harus ke belakang dulu katanya, harus tunggu di belakang dulu. Aku merasa heran, mengapa aku harus ke belakang dulu kalau aku mau ikut. Kalau aku tidak ke belakang aku juga tidak bisa ikut karena A'i hanya diam di situ saja dan tidak bergerak selama aku ada di dekat mereka. Aku mempercayai mama dan tidak punya pikiran dia bakalan membohongi aku. A'i juga ikut mama meng 'ya' kann supaya aku tunggu di belakang. Aku harap kalau aku memenuhi keinginan mama (dan A'i) nantinya aku akan dibiarkan untuk ikut. Karena desakan mama yang terus-menerus dan karena aku ingin ikut, ingin supaya keinginanku terpenuhi aku mengikuti suruhan mama ke belakang. Dalam diriku bertanya, dia suruh aku ke belakang untuk apa atau mengambil apa atau harus mengerjakan apa. Desakan-desakan mama membuat aku panik dan gugup karena takut disalahkan kalau aku tidak menjalankan yang dia inginkan. Sedangkan untuk menjalankan yang dia inginkan juga aku tidak jelas apa yang dia/mereka inginkan sesungguhnya. Karena tidak jelas apa yang disuruh/ diinginkan oleh mama membuat aku takut dibentak dan disalahkan, takut dibentak tua gong! aku jadi gugup dan panik. Aku tidak dengar jelas yang dia inginkan saking gugup dan paniknya karena tidak mengerti apa yang diinginkan oleh mereka sesungguhnya serta saking takutnya ditinggalkan oleh A'i. Aku takut dibentak oleh mama karena dia sering membentak dan menyalahkan aku kalau dia menyuruh aku mengerjakan sesuatu namun bila yang kukerjakan itu tidak sesuai dengan keinginannya atau yang dimaksudkannya. Aku merasa harus berbuat sesuatu atau mengambil sesuatu di belakang karena kalau hanya tunggu saja (di belakang) rasanya aneh karena A'i berangkat 'kann lewat depan dan mengapa aku harus sengaja menunggu di belakang toh kalau akan ikut dia. Setelah aku agak jelas apa yang dinginkan mereka ternyata mama hanya menyuruh aku menunggu saja di belakang (tidak berbuat apa-apa), tugas yang begitu gampang untuk dapat ikut A'i karena tidak harus mengerjakan tugas yang berat baru boleh ikut A'i seperti sangkaanku/gambaranku. Aku sangka aku harus mengerjakan sesuatu yang rumit dan susah karena aku merasa heran kalau disuruh namun tidak harus berbuat apa-apa. Biasanya kalau mama menyuruh aku pasti aku disuruh mengerjakan sesuatu yang tidak menyenangkan bagiku.
· Aku tunggu dan tunggu tapi heran tidak terjadi apa-apa. Mama atau A'i tidak datang ke belakang karena kalau aku mau ikut tentu A'i harus bersama aku. Karena merasa tidak beres aku berlari ke depan dengan tergesa-gesa namun aku tidak melihat A'i lagi. A'i telah lenyap. Seperti kena sambar geledek, aku menjadi panik dan mencari-cari A'i. Aku tidak mau mengakui kenyataan bahwa A'i telah pergi meninggalkan aku. A'i sampai tega berbuat seperti itu, meninggalkan aku sendirian begitu saja, membohongi aku, tega nian . Aku merasakan perasaan kehilangan dan kekosongan yang mendalam. Saat itu juga aku teringat akan mama. Mama sebenarnya kan lebih tinggi dari A'i. Aku mati-matian mau ikut A'i, seakan bagiku A'i jauh lebih penting daripada mama. Aku lebih ingin ikut A'i dari pada mama. Pikiran macam ini menimbulkan rasa takut akan hukuman dari mama. Mama melihat diriku dengan senyuman/ketawa sinisnya, seakan-akan ingin mengatakan: "ta wa cai si, rasainlah! Sekarang A'i telah pergi dan aku tidak mendapatkan apa-apa lagi. "ta wa cai si ci cun A'i ke lo, rasainlah!" "kum pun to bo eng, co ki na to bo eng, to bo ai tio ka ki e lau bu", "ta wa cai si kum pun tobo eng, co ki na to bo eng to bo ai ceh ka ki e alu bu, rasainlah". Sadis nian dia itu. Senyuman sinisnya membuat aku merasa bersalah dan takut akan hukumannya karena merasa dituduh tidak mau cari mama sendiri melainkan lebih mau ikut A'i, yang berarti lebih mencintai A'i dari pada mam sendiri, anak yang tidak berguna. Aku berhari-hari merasa berdosa/bersalah yang hebat karena merasa dituduh anak yang tidak berguna (bo hau e ka/ anak yang tidak berbakti pada orang tua), lebih mau ikut A'i, yang berarti lebih sayang sama A'i, daripada dia mama sendiri. Senyuman sinisnya aku rasakan sebagai hukuman terhadap diriku karena aku tidak memberi pehatian kepada dia melainkan kepada A'i, lebih mau ikut A'i, yang berarti lebih sayang sama A'i dari pada dia mama sendiri membuat aku merasa bersalah dan berdosa karena aku merasa punya kewajiban mengutamakan mama sendiri. Aku merasa takut Entliebung dari mama sebagai hukuman terhadap diriku yang tidak memberi perhatian kepada dia.
Erstelldatum 02/25/00 11:14

Imlek Ayu pendek datang, mama merendahkan mereka

22) Imlek Ayu pendek datang, mama merendahkan mereka
· Ayuk pendek datang dengan serombongan hua na yang lain, besar-kecil campur. Semua terdiri dari wanita dan anak-anak. Aku melihat seorang hua na yang sangat hitam, yang kemudian aku ketahui namanya adalah Oding. Di belakang Payo daerah rumah Pendek dia dengan jahat mau pukul aku. Pancaran wajahnya sangat jahat dan mau memukul aku membuat aku takut terhadap dia. Aku merasa dia masih berani datang dan kesempatan itu aku pakai untuk mengadu mama. Aku mengadu mama dan mama bertanya sama hua na itu, sama Oding hitam itu. Ayuk pendek bilang: "Ace, tidaklah, dia cuma main-main". Huan na Oding itu ketawa malu. Aku bilang sama mama bahwa dia sungguh-sungguh mau memukul aku sampai membuat kau takut sekali. Tapi ayuk Pendek ketawa ramah dan berkata: "Tidaklah Ce dia cuma main-main" dan Oding hitam itu ketawa malu mengangguk. Aku merasa aneh dia bisa senyum seramah itu padahal sebelumnya wajahnya itu marah bengis sekali saat mau memukul aku di belakang Payo. Akhirnya sudahlah, asalkan dia tidak mencoba memukul aku lagi.
· Mama masuk ke belakang untuk membuat ciam cap (sirup) kemudian kembali lagi dan menyuguhkan pada mereka minuman yang dibuatnya serta membukakan kue untuk mereka. Mereka terutama yang anak-anak makan dengan lahapnya dan cepat. Sehabis menyuguhkan minuman dan melihat anak-anak itu makan dengan lahapnya mama menyuruh aku menjaga mereka supaya mereka jangan makan terlalu banyak. Kemudian mama pergi masuk tidur meninggalkan mereka tanpa bilang sama mereka. Aku merasa tidak enak, merasa mama berbuat yang tidak benar terhadap tamu/mereka. Mama tidak anggap mereka. Mama tidak bilang sama mereka bahwa dia sakit, capek, dan perlu tidur. Selain itu mama menyuruh aku menjaga mereka supaya mereka tidak makan terlalu banyak terutama ong lai ke (kue nanas) yang mahal. Mama menganggap mereka rendah, seperti anjing rakus. Aku hanya bisa menjalankan yang disuruh oleh mama walau ada perasaan tidak enak dalam diriku. Semula mereka makan dengan lahap dan gembira tanpa menyadari bahwa mama tidak menyukai kedatangan mereka. Melihat mereka makan dengan lahap aku menahan perasaan. Pandangan mataku dan perasaanku ingin rasanya mengerem mereka supaya jangan makan terlalu banyak, terutama jangan sampai menghabiskan ong lai ke (kue nanas) yang mahal harganya. Lama mama tidak muncul-muncul juga, mendadak Ayuk Pendek seperti tersadarkan, seperti tersentak bangun menyadari bahwa mama tidak menyukai kedatangan mereka dan menganggap rendah mereka dan segera berkemas-kemas ingin pergi. Ayuk Pendek tanya sama aku: "Di mana mama?" "Coba panggil mama" , "Coba panggil mama, kami mau permisi" Aku masuk ke dalam kamar dan memanggil mama: "ma, ma in nang ai teng lo", "ma, ma in nang ai teng lo". Mama keluar dengan wajah yang kusut dan mereka permisi pergi dengan ramah. Sehabis mereka pergi mama pergi tidur lagi.
· Tidak lama kemudian papa pulang dari pai ncia (mengunjungi tetangga dan kenalan pada Hari Raya Imlek). Mama keluar membukakan pintu untuk papa. Papa masuk, aku masih dikuasai oleh perasaan tidak enak dari sikap mama terhadap huan na yang datang pai ncia. Aku merasa perbuatan mama itu tidak benar / tidak pantas. Aku mangadu papa: "pa, pa, tau seng hua na lai pai ncia, mama bo cut lai" Aku ingin mengatakan mama tidak melayani hua na yang datang pai ncia. Mama membantah: "bo ia lah!" , "bo ia lah", "ki na si sua kong!" Aku bilang: "u ia" Memang sungguh benar dia tidak melayani mereka yang datang pai ncia. Namun mama tidak mau mengakui dan membantah terus: "bo ia la, ki na si sua kong". Tiba-tiba terdengar suara mama berkata: 'waduh'. Mama seperti dalam keadaan tegang menahan rasa perih di kepala. Aku merasa aneh dan takut, mengapa mama begitu. Aku merasa ngeri, takut, tidak mengerti dan merasa kasihan sama mama. Melihat mama seperti itu justru papa agak ketawa, seperti lucu melihat keadaan mama yang demikian. Sama sekali tidak tersentuh oleh keadaan mama, hanya aku yang tersentuh. Aku melihat mama yang agak marah dan memprotes papa: "Akid yo!"
· Aku merasa takut mama akan memukul aku keesokan harinya karena aku mengadu papa tentang dirinya yang berbuat tidak patut terhadap huan na yang datang pai ncia. Mama kembali masuk tidur dan aku tidak bisa mengharapkan mama (seorang anak membutuhkan mamanya) dalam keadaan yang demikian, disamping itu aku telah adu papa bahwa dia berbuat salah. Karena mama terus tidak mau mengakui perbuatannya timbul perasaan jarak dengan dia karena takut dia benci dan dendam sama aku.
· Aku mengikuti papa ke belakang walau sebenarnya aku lebih memerlukan mama daripada papa. Tapi keadaan mama yang demikian tidak memungkinkan aku mencari dia sehingga aku mengharapkan kebutuhanku dipenuhi oleh papa. Aku mengikuti papa dengan harapan papa memperhatikan aku, menemani aku dan memberikan sedikit kegembiraan pada diriku. Tapi papa tidak memberikan rasa dekat kepadaku. Saat itu dia ada di belakang dan menyuruh aku masuk tidur bukannya menemani diriku, mengajak aku ngobrol, memberikan rasa aman pada diriku seperti yang kubutuhkan.
· Keesokan harinya aku masih dihantui oleh kejadian kemarin. Aku merasa dia masih ingat akan kejadian kemarin aku mengadu papa sehingga benci dan dendam terhadap diriku. Rasa takut yang aku rasakan itu begitu besar sampai aku mengalami rasa bersalah yang hebat, sampai aku merasa tidak mengadu itu lebih baik, aku tidak akan mengalami perasaan tersiksa seperti ini. Aku merasa bersalah atas aduanku pada papa walaupun yang kulakukan sesungguhnya tidak salah. Ketergantunganku yang penuh pada mama membuat aku takut kehilangan cinta dari dia, takut dia menjadi marah/dendam dan benci kepadaku.
· Kemudian aku mendengar teriakan mama yang memanggil aku namun tidak memukul aku. Untunglah dia memanggil aku karena aku sudah mempunyai perasaan jarak dengan dia dan dengan panggilan dia itu intensitasnya jadi tidak bertambah. Perasaan jarak ini muncul karena ada perasaan curiga dia diam-diam merasa dendam dan benci padaku atas aduanku terhadap papa. Berhari.hari aku dikuasai oleh perasaan jarak dengan mama dan merasa curiga diam-diam mama dendam dan benci padaku. Perasaan curiga ini muncul karena tidak ada keterbukaan dari mama terhadap diriku, tidak ada komunikasi dengan diriku. Yang ada hanya perintah, menyuruh aku berbuat atau menjalankan sesuatu, sedangkan komunikasi timbal balik, mengajak aku berbicara sama sekali tidak pernah dan dia tidak pernah mendengarkan diriku.
Erstelldatum 02/26/00 16:30

Ai Abo mencebok pantatku dengan kakinya yang kasar. A'i dan mama mentertawai diriku.

21) Ai Abo mencebok pantatku dengan kakinya yang kasar. A'i dan mama mentertawai diriku.
· Mama sedang mencuci baju. Aku memperhatikan A'i yang berbicara dengan mama. Aku merasa memerlukan mama tapi mama tidak henti-hentinya berbicara dengan A'i dan tidak memperhatikan diriku.
· Aku merasa ingin berak dan bilang sama mama: "ma, wa ai pang sai, ma wa ai pang sai". Aku bilang sama mama bukan karena aku tidak bisa pergi berak sendiri tapi karena aku membutuhkan mama, membutuhkan kontak dan perhatian dari mama. Dia menjawab: "ai pang sai tio ke pang lo". Aku tanya: "na to lo?" Dia menunjukan di sana di saluran air sana, di ujung long kau. Sebelumnya memang aku sering berak di sana tapi daerah itu berbecek dan kotor. Kalau aku berak di sana lagi akan semakin kotor, tapi aku senang berak di sana karena terang dari pada di kakus yang gelap. Aku bertanya 'na to lo', sesungguhnya ingin menyampaikan bolehkah aku berak di sana, diujung long kau itu.
· Sehabis berak aku ingin mama yang menceboki diriku karena dari pengalamanku sebelumnya mama menceboki aku dengan tangannya. Sentuhan tangan mama pada pantatku memberi rasa dia berbuat untukku dan timbul rasa segar (gembira) dan puas setelah mendapatkan sentuhan tangannya. Kebutuhan emosional yang sedikit terpenuhi. Namun kali ini mama tidak datang menceboki diriku. Dia bilang: "ka ki soi, hua tua han lo, ka ki tio o soi". Aku agak kecewa oleh jawabannya itu. Aku membutuhkan sentuhan tangan mama yang menimbulkan /memberi rasa dia berbuat untukku. Aku memanggil dia terus: "ma, ma, ma". Kemudian mama menyuruh A'i Abo untuk menceboki diriku. Suruhan mama pada A'i juga mengecewakan diriku karena aku tidak mengharapkan A'i yang datang melainkan mama. Aku tidak berani panggil mama lagi karena dia sudah suruh A'i. Awalnya A'i tidak mau. Mama menyuruh A'i beberapa kali, kemudian A'i datang juga mau menceboki diriku namun sambil ketawa, tidak ada keseriusan. Aku ingin mama yang datang menceboki diriku namun A'i yang datang mengecewakan sekali bagiku. Aku merasa tersiksa karena tidak bisa menolak. Aku tidak bisa mengatakan pada mama bukan hanya membersihkan kaceng saja yang aku perlukan tapi lebih dari itu, aku membutuhkan perhatian dari mama, ingin merasakan sentuhan tangan mama yang hangat dan ada hati berbuat untuk diriku.
· A'i menyuruh aku mengangkat pantat tinggi-tinggi. Beberapa kali aku menuruti suruhannya, namun posisiku tidak pernah benar bagi dia, sedangkan kalau mama yang menceboki diriku tidak pernah menyuruh aku mengangkat pantat tinggi-tinggi dan tidak sesulit itu. Kemudian ada perasaan aneh yang kasar, gosokan yang kasar di pantatku dan arahnya bukan ke tengah melainkan ke samping ka ceng. Mana bisa bersih kalau begitu caranya, pikirku. Dan sekali aku lihat ternyata A'i menggunakan kakinya. Dia menceboki pantatku dengan ketawa sehingga tidak benar, lama dan serampangan akibat ketawanya membuat gerakan kakinya serampangan. Aku merasa tidak bersih karena dengan kaki selain itu juga kecewa dan merasa terhina karena ditertawai dan dijadikan barang mainan. Aku merasa dianggap enteng, dianggap murah dan tidak bernilai karena cara membersihkan pantatku dengan kaki, tidak serius dan mentertawai diriku, menjadikan aku mainan. Dia terus ketawa dan kemudian diikuti oleh mama membuat aku merasa bersalah, takut dan verwirrt karena tidak mengerti mengapa mereka mentertawai aku sedemikian rupa. Padahal mereka adalah orang pertama dan kedua bagiku. Karena takut dan verwirrt aku berlari masuk walau merasa tidak bersih dengan cara A'i mencebok diriku itu namun aku tidak berani minta dicucikan lagi / dicebok secara benar karena aku takut disalahkan akibat ketawa A'i yang terbahak-bahak seolah-olah aku ini berbuat yang salah besar. Dan yang menyakitkan sekali adalah sikap mama yang jadi mengikuti A'i mentertawai diriku dan mendukung A'i ikut tertawa terbahak-bahak walaupun tidak sekeras ketawa A'i. Mereka seperti jadi sepakat dan saling mengerti sehingga saling mentertawai diriku. Aku verwirrt karena tidak mengerti apa maksud mereka metertawai aku sedemikian rupa. Aku hanya merasa diriku disudutkan oleh mereka. Aku merasa mereka menganggap aku ini tidak berguna sehingga sepakat mentertawai diriku. Aku berlari masuk dan di dalam sampai terduduk karena shock karena merasa takut dipojokan akibat diriku ditertawai sedemikian rupa oleh dua orang besar yang sangat penting bagi hidupku. Aku merasa mengapa diriku ini begitu tidak diinginkan, sampai aku menangis. Namun aku berusaha menahan tangisanku karena malu dan takut kalau sampai ketahuan mereka.
Erstelldatum 03/04/00 13:31

Membeli rotan dan memperlihatkannya pada diriku

20) Membeli rotan dan memperlihatkannya pada diriku
· Mama membeli rotan yang baru, lebih besar dan lebih kuat. Dia langsung menunjukan rotan yang baru dibelinya itu kepadaku dengan senyum/ketawa yang sinis. Ingin menyampaikan kepadaku ini rotan yang baru, yang lebih kuat, lebih sakit kalau kena pukul. Aku merindukan kebaikan dan penerimaan dari dia, alangkah sakitnya dan kecewanya diperlakukan seperti itu. Sama sekali tidak memikirkan yang baik untukku. Pikirannnya hanyalah mau menghukum aku. Begitu primitiv dan rendah Aku menjadi takut akan hari-hari yang akan datang karena rotan yang baru itu jauh lebih keras dan lebih kuat, tentu sangat sakit kalau kena tubuh. Aku tidak tahu apakah aku sanggup menanggungnya. Dia sering menyebat aku dengan rotan. Aku tidak berdaya kalau dia memukul/meyebat aku karena tenaganya jauh lebih kuat dan diriku yang tergantung penuh kepada dia sehingga aku tidak berdaya dan tidak dapat berbuat apa-apa kalau dia melampiaskan amarahnya dan menganiaya diriku.
· Perbuatannya dengan menujukan rotan yang baru dibelinya itu padaku menimbulkan rasa marah dan benci dalam diriku. Aku memprotes: "le kua la e pai wa tua han liau", "le kua la e pai wa tua han liau". Mendengar protesku tiu dia ketawa/senyum sinis dan menyebat diriku. Aku memprotes lagi dengan rasa tidak puas: ""le kua la e pai wa tua han liau", "le kua la e pai wa tua han liau". Dia menyebat aku lagi dengan lebih kuat membuat aku merasa takut dan merasa bersalah dengan protes yang kulakukan itu karena bagaimanapun juga aku akan kalah dan salah. Aku merasa takut karena rotannya keras sekali dan sebatannya sangat perih dan sakit. Ketergantungan diriku pada dia membuat aku merasa bersalah kalau aku kena pukul oleh dia, apalagi dia seorang mama simbol seorang yang tidak pernah salah.
Erstelldatum 02/28/00 14:11

Di depan rumah Pui Cim memarahi aku dengan sangat benci ketika aku mau naik ke atas sepada

19) Di depan rumah Pui Cim memarahi aku dengan sangat benci ketika aku mau naik ke atas sepada
· Mama mau pergi menjual Toto ke rumah Pui Cim. Aku mau ikut tapi dia tidak menghendaki aku ikut dia, dia merasa terganggu. Dia bilang: "khe ce ban nia' nia, ko chu bai". Dia bilang hanya pergi sebentar dan suruh aku jaga rumah saja. Aku berharap bisa gembira bila ikut dia sehingga aku terus berusaha untuk dapat ikut. Dia bilang lagi: "ko chu bai, ko sio ti, wa khe ce ban nia' nia". Dia menyuruh aku jaga adik. Dia memperlakukan aku seperti orang yang sudah dewasa, tidak menyadari aku masih ana-anak seperti Aheng. Bagiku mengerikan untuk duduk sendiri di rumah, tidak ada teman, tidak ada barang mainan, tidak ada orang kecuali Aheng yang sedang tidur, sedangkan kalu ikut dia ada harapan untuk gembira sehingga aku berjuang sekuat tenaga untuk bisa ikut. Dia jadi diam menahan amarah, aku merasa takut amarahnya akan meledak. Aku merasa takut karena telah melawan kehendaknya. Aku takut dia akan marah dan melampiaskan amarahnya pada diriku.
· Dia kemudian menyuruh aku naik ke atas sepeda dengan kasar dan perasaan terpaksa. Aku merasa takut dan merasa tidak bernilai karena tidak dikehendaki, menerima diriku dengan perasaan terpaksa. Die mengijinkan aku ikut dengan rasa terpaksa. Aku naik ke sepeda disertai rasa takut dan gugup, takut amarahnya meledak. Dia menyuruh aku melipat kaki seperti biasanya supaya jangan tergilas masuk ke dalam putaran roda. Dia merasa hal itu banyak kerjaan dan mengomel: "le kua yo, kio le mai te tio ai te", "le kua yo, kio le mai te tio ai te".
· Di tengah jalan dia terus mengomel, terus merasa tidak puas dan memarahi diriku. Aku merasa begitu tidak diinginkan. Aku dibonceng, kaki lipat ke depan, jalan yang berbatu membuat buritku sakit. Posisi duduk sangat tidak menyenangkan. Aku menderita sekali dan berharap lekas sampai supaya penderitaan ini lekas berlalu.
· Sampai di rumah Pui Cim dengan kasar dia menyuruh aku tunggu di luar. Aku merasa diriku ini tidak bernilai diperlakukan begitu. Diperlakukan dengan kasar oleh mama sendiri, suruh tunggu di luar dan tidak boleh masuk. Aku ingin masuk tapi takut. Tidak lama kemudian mam keluar dan ingin pulang. Dia sangat tidak puas, geram dan benci terhadap diriku. Dia menyuruh aku lekas naik ke atas sepeda. Baru saja aku mau naik sudah disalahkan. Dia sangat tidak sabar dan menggoncangkan sepedanya dengan penuh amarah dan kebencian membuat aku tambah sulit naik ke atas sepeda. Karena aku mengalami kesulitan untuk naik ke atas sepeda diriku dimaki habis-habisan. Aku belum sempat naik sudah dimarahi dan mengongcang-goncangkan sepeda dengan rasa benci "kha kin la", membuat aku tambah gugup dan takut. Aku didesak dan dimarahi: "kha kin la", "de kua yo kio mai te tio ai te". Dia terus-menerus mencaci-maki diriku. Caci-makiannya sangat melukai perasaanku dan merendahkan diriku, diriku seperti tidak bernilai bagi dia. Perasaanku terluka sangat dalam. Gambaran yang bahaya ikut sama dia rusak saat itu juga. Yang ada luka yang mendalam. Pulang dibonceng dengan kasar. Mama merasa sangat tidak puas dan benci padaku, serta merasa sangat terganggu olehku. Aku merasa diriku ini tidak bernilai bagi dia. Perasaanku kosong, hampa, kebahagiaanku lenyap dirusak oleh mama. Dia satu-satunya orang yang ada namun tidak bisa kuharapkan. Dia hanya bisa menyakiti diriku, membuat hidupku seperti neraka dengan teror-terornya, dengan caci-makiannya yang tidak menghargai perasaanku. Dia tidak mempertimbangkan bahwa aku bisa terluka oleh perlakuannya yang sedemikian kasar dan penuh kebencian itu, seakan aku ini tidak bisa merasa sakit, seakan aku ini tidak punya keinginan dan perasaan, seakan aku ini nichts. Tidak ada harapan akan kehidupan yang lebih baik bagiku sangat mengerikan karena mama tidak bisa aku harapkan sedangkan aku tergantung penuh pada dia. Tidak ada orang lain lagi yang bisa aku cari. Papa kerja, malam baru pulang jarang ketemu sama aku dan jarang ada kontak dengan aku, tidak ada keakraban dengan diriiku karena papa juga tidak tertarik untuk menemani diriku. Dia lebih tertarik untuk ngobrol di tempat Acek (paman) dari pada bermain dengan anaknya.
Erstelldatum 03/04/00 12:48

Mama dengan rambut pendek, berbaju kembang, sikapnya kasar nian dan menolak ketika aku mau dekat dengan dia

18) Mama dengan rambut pendek, berbaju kembang, sikapnya kasar nian dan menolak ketika aku mau dekat dengan dia
· Mama baru saja potong rambut. Rambutnya sekarang jadi pendek dan dia sehabis mandi mengenakan baju lengan pendek yang berkembang. Rambut yang baru dan bentuk wajah yang agak berbeda dengan sebelumnya disertai pancaran wajah yang tegang dan memusuhi dan mengenakan baju yang belum pernah aku lihat sebelumnya membuat aku jadi agak gelisah, takut mamaku berubah. Aku ingin punya mama yang seperti sebelumnya, seperti sebelum dia pergi gunting rambut, yang wajahnya tidak seperti sekarang keras, dingin dan memusuhi. Aku kemudian memanggil dia karena aku memerlukan seorang mama dan ingin mendapatkan kepastian walau paras wajahnya yang agak berbeda dengan sebelum rambutnya dipotong dan dengan baju yang aku rasakan asing dia tetap tidak berubah dan tetap merupakan mamaku seperti hari-hari sebelumnya. Aku memanggil dia: "ma, ma, ma", namun panggilanku tidak dijawab. Diriku tidak digubris, diriku diabaikan begitu saja, tidak dilayani, tidak dirasakan aku ini ada. Pancaran wajahnya tidak menyenangkan seperti mau murka dan memusuhi. Sikapnya yang tidak memperdulikan panggilan-panggilan diriku. Pancaran wajahnya yang seperti menghadapi musuh dan dirinya yang merasa terganggu oleh panggilan-panggilanku membuat aku merasa diriku tidak disukai. Panggilan-panggilanku tidak dijawab, diriku tidak digubris. Dia berjalan menuju ke belakang dan aku mengikutinya ke belakang dengan rasa kecewa karena diriku tidak digubris. Aku takut dia sekarang telah berubah, bukan mamaku lagi. Aku memerlukan kepastian bahwa dia tetap merupakan mamaku. Di belakang aku memanggil dia lagi: "ma, ma, ma", namun diriku tidak digubrisnya. Sikapnya kasar, dingin dan pancaran wajahnya memusuhi, sangat tidak menyenangkan. Aku menanti-nanti mengharapkan jawaban dari dia tapi panggilanku tetap tidak digubris. Dia tidak memperdulikan diriku yang memanggil dia dan berjalan kembali ke depan seakan aku ini tidak ada bagi dia. Diriku ini seperti tidak ada nilai bagi dia, tidak dihitung oleh dia. Di depan aku panggil dia lagi namun dengan menahan rasa takut karena panggilan-panggilanku yang terus-menerus akan membuat dia merasa terganggu dan suatu saat dia akan murka dan memukul aku. Memang benar dia mulai marah: "an cua la!" Dia membentak diriku. "te le ka ciau bae !" Dia merasa terganggu oleh panggilan-panggilanku dan menganggap aku ini tukang kacau. Kebutuhanku bukannya mendapat pemenuhan namun mendapat hukuman, diriku dimarahi, diriku disalahkan, dia merasa tidak senang dengan kehadiranku, diriku dicap sebagi pengganggu. Aku tidak berdaya menghadapi sikapnya yang kasar dan memusuhi aku itu. Panggilan-panggilanku terpental kembali seperti menabrak tembok.
Erstelldatum 02/28/00 16:30

Menyapu muka So Keng

17) Menyapu muka So Keng
· Aku melihat So Keng menggendong Aheng. Mama pergi ke belakang mengurusi bebek (tan ak). Aku sendiri dan papa belum pulang. Aku merasa harus melindungi adikku /Aheng dari tangan orang lain. So Keng menggendong Aheng. Aku merasa So Keng mengambil adikku. Aku jadi benci kepada So Keng yang belum begitu aku kenal. Aku kemudian mengambil sapu mau menyapu muka So Keng supaya dia melepaskan Aheng yang ada di tangannya. Aku seperti ingin mengatakan: "itu adikku, kembalikan adikku. Aku tidak mau adikku di tangan orang yang tidak begitu aku kenal". So Keng mengelak dan tetap tidak melepaskan Aheng dari tangannya. Aku menjadi penasaran dan marah karena dia semakin erat memegang/memeluk Aheng bukannya melepaskan Aheng seperti yang aku kehendaki. Aku terus menyerang dia. Tiba-tiba A'mm muncul dan membentak: "an ncua han ni !". So Keng mengadu A'mm bahwa aku mau menyerang dia dengan sapu dan mau menyapu mukanya.
· Mama pulang. A'mm bilang sama mama: "Ace ha ni kuan phai, ai khio sau chiu lai sau So Keng e bin". Mama langsung memarahi aku:
"bo ka shi !, co kin na ha ni kuan bo ka shi"
"ai ke than ak kio So Keng ko ce ban nia tio han ni kuan bo ka shi".
Mendengar mama bilang dia yang menyuruh So Keng menjaga Aheng yang
berarti So Keng membantu mama, berarti So Keng sebenarnya punya keinginan
yang baik, membuat aku merasa rasa bersalah yang hebat. Aku merasa dirikku ini kotor, jahat dan bodoh (terutama diakibatkan amarah dari mama yang sedemikian rupa) , tidak tahu akan kebaikan orang. Di tambah lagi dengan sapu itu sangat sial. Apalagi sampai mau menyapu muka orang, sangat kurang ajar. Aku tidak bisa menjelaskan kepada A'mm atau mama bahwa aku menyapu muka So Keng karena aku sangka So Keng mau mengambil adikku/Aheng.
Erstelldatum 03/07/00 16:19